Archive

Posts Tagged ‘SMPN 1 Bogor’

Acara Perpisahan yang Mendidik

June 5, 2013 3 comments

Berpakaian Nasional mendidik untuk mencintai negeri tercinta.

Berpakaian Nasional mendidik untuk mencintai negeri tercinta.

Hari ini saya menyediakan waktu penuh untuk mengikuti acara perpisahan di SMP Negeri 1 Kota Bogor. Anak saya belum lama dinyatakan lulus dari SMP ini dan hari ini adalah saatnya acara perpisahan digelar.

Dari sisi tema, tidak ada yang aneh dari acara ini. Karena intinya sama saja yaitu acara khusus terakhir yang melibatkan semua siswa (yang telah dinyatakan lulus), orang tua siswa, dan jajaran pengajar di sekolah yang bersangkutan. Acara pun dilakukan standar yaitu di satu gedung, dengan isi acara adalah sambutan berbagai pihak, pentas seni, dan prosesi pelepasan siswa.

Tetapi setelah saya ikuti detil dari awal, banyak hal yang menarik terjadi di acara ini. Antara lain adalah:

  • Awal acara, dimulai dengan lantunan ayat suci dan kemudian lagu mars sekolah.
  • Pakaian. Para murid diwajibkan berpakaian nasional, dimana siswa putri memakai kebaya dan siswa putra memakai jas. Tidak ada gaya Eropa yang biasanya ditiru dengan pakaian bertoga. Banyak sekolah yang niru-niru gaya bertoga, aneh, niru dari mana ya… hehehe…
  • Prosesi pelepasan siswa. Acara ini sangat kental dengan adat Sunda. Tarian dan semua tata cara sangat kedaerahan. Tidak semua siswa SMP ini berasal nenek-moyang dari Bogor atau wilayah Sunda, tetapi semua menikmati prosesi ini dengan khidmat. Demikian juga para orang tua siswa.
  • Lelagu Indonesia. Mungkin sekitar 90% lelagu yang dinyanyikan, baik sebagai pentas ataupun suara latar belakang adalah lagu daerah dan lagu Indonesia. Tidak terdengar lelagu asing versi “duduk-gembira” yang sedang digandrungi para ABG saat ini. Kontras dengan “kejiwaan” para siswa yang sedang menjalani masa ABG.

Setidaknya itulah beberapa hal yang saya nikmati hari ini. Untuk sekolah dengan “pergaulan internasional”, peristiwa ini sangat elok untuk dialami dalam dunia pendidikan anak. Pencapaian nilai pelajaran rerata tertinggi sewilayah Kota, prestasi ekskul yang menasional dan regional, bukan menjadi alasan untuk melupakan komponen pendidikan cinta tanah air dan mengurangi kebiasaan “nyontek budaya asing” yang gak genah.

Tidaklah berlebihan jika saya melihat hal ini sebagai pendidikan praktis yang diterapkan pada siswa “justru” saat mereka dilepas untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Saya yakin hal ini juga dilakukan oleh banyak sekolah lain di Indonesia, tidak hanya di kota Bogor. Saya tak henti berharap semoga pendidikan praktis yang membumi seperti ini terus dikembangkan oleh sekolah umum ataupun khusus (terutama yang berlabel “IT”).

Ohya, ada satu hal yang saya rasa kurang (atau terlupa oleh tim pengarah/panitia?) dari peristiwa perpisahan hari ini: tidak adanya lagu Indonesia Raya.

: )

Advertisements
Categories: Luar Kelas Tags:

Membimbing krucil ke jenjang lebih tinggi

April 26, 2012 Leave a comment

Sumber gambar: theage.com.au

Krucil adalah sebutan untuk anak-anak saya versi saya dan digunakan hanya oleh saya sendiri. Sampai tulisan ini terpublikasi maka saya baru mempunyai satu kali pengalaman membawa krucil ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ini terjadi pada tahun 2010, saat krucil yang tertua mengakhiri pendidikan di Sekolah Dasar dan memulai Sekolah Menengah Pertama. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, rasa khawatir dan panik justru lebih membebani orang tua daripada sang anak sendiri hehehe… Ortu berpikir segala kemungkinan yang mungkin terjadi, dan berharap tinggi akan capaian sang anak. Sedangkan pada si anak sendiri lebih terbebani bagaimana bisa menyelesaikan soal ujian kemudian tetap bersama dengan sahabat akrabnya saat di SMP.

Mungkin demikianlah yang terjadi pada umumnya.

Kepanikan ortu seringkali justru membebani si anak dalam melewati masa transisi jenjang kependidikannya. Hal ini dapat kita lihat dari  banyaknya les (bimbingan belajar) yang harus diikuti oleh si anak. Sepulang sekolah si anak harus ikut ini di sana dan ikut itu di situ. Sepulang dari les, tanpa istirahat, di rumah telah menunggu guru private yang akan memberikan materi tambahan.

Luar biasa, si anak benar-benar dipacu untuk… untuk apa ya..? Mendapatkan nilai..? Mendapatkan kebanggaan ortu..? Atau justru akan mendapatkan jiwa anak yang sakit..?

Ya, jiwa anak bisa sakit dengan perlakuan ortu yang luar biasa seperti itu. Anak akan tertekan dengan hebat, baik secara fisik maupun psikis. Tak jarang justru semua yang dipaksakan untuk “ditelan” oleh sang anak tersebut bisa termuntahkan kembali dalam beragam cara.

Anak bisa sakit karena stres atau depresi, bahkan ada yang terganggu fungsi otaknya. Anak juga bisa menjadi bosan dengan segala asupan berlebihan itu. Anak juga bisa memberontak dengan caranya sendiri.

Orang tua yang mengandalkan proses instan pada anaknya untuk mendapatkan yang diinginkan seperti ini adalah mengerikan. Anak kita bukanlah mesin yang dapat dipaksakan kerjanya hanya dengan sekali tekan tombol, saat tombol ditekan maka semua akan menjadi hebat.

Anak kita adalah juga manusia sama dengan sang orang tua sendiri. Tidak bisa dipaksakan sesuai dengan kemauan orang tua walaupun sang ortu bisa melakukan apapun karena keberadaan materi berkecukupan dan sikon memungkinkan.

Penguasaan materi sekolah memanglah penting, tetapi caranya harus sebaik mungkin bagi semua, si anak maupun ortu. Ini menuntut kemampuan ortu untuk bisa membimbing si anak secara langsung. Pembimbingan tentunya tidak berarti ortu harus menguasai mata pelajarannya, tetapi mendampingi saat anak belajar itu sudah suatu bimbingan yang luar biasa.

Sibuk tak ada waktu..? Ah klise sekali. Rasanya suatu kebohongan besar saat kita berkata: saya sibuk gak ada waktu untuk anak. Emangnye elu sapa sampe gak ada waktu untuk anak..? Nonton bola tengah malam aja sempet, eh dampingin anak bentar aja kagak sempet… hehehe

Yang pernah saya lakukan adalah menyempatkan diri bersama anak untuk mendampingi belajar dan juga sembari bermain. Bermain..? Ya, sambil bermain untuk mengusir keletihan atau kebosanan krucil dalam perjuangannya. Belajar tidak hanya di dalam rumah, sesekali saya ajak ke tanah lapang atau lokasi lain, di pinggir sawah misalnya, sambil membawa buku dan… membawa alat bermain.

Krucil saya ikutkan bimbel tidak untuk semua pelajaran, dan tidak dilakukan setiap hari. Pemberian dorongan atau semangat yang bersifat “tidak mengancam” tetapi justru yang menumbuhkan semangat selalu dilakukan. Juga memberikan gambaran masa depan saat ia dapat meraih prestasi yang baik akan berakibat pada kesempatan yang lebih luas lagi untuk pengembangan diri. Beberapa cerita “masa lalu” saya ceritakan terkait dengan pencapaian hasil belajar.

Dengan prestasi masa lalu saya yang pas-pasan, tidaklah menjadi halangan untuk mengobarkan semangat pada krucil. Pemberian api semangat dengan benar (tanpa perlu membanding-bandingkan dengan orang lain atau temannya) akan dapat memacu diri krucil dengan pemikiran yang positif. Dan satu lagi, pemberian asupan makanan yang baik untuk menjaga kesehatan dan kebugarannya juga penting.

Alhamdulillah, krucil berhasil melewati masa transisi jenjang kependidikan dengan prestasi yang bagus (walau bukan yang terbaik). Ujian sekolah, ujian akhir nasional, dan ujian lainnya dilalui dengan baik. Mendapatkan sekolah yang diidamkan banyak orang dengan nilai yang mencukupi, tanpa perlu “sumbangan pendidikan” apapun sepeserpun… ehm…

Kebersamaan dengan anak dalam mengantar ia ke jenjang pendidikan lebih tinggi adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada menyerahkan sepenuhnya pada sekolah dan/atau bimbingan belajar.

Jangan percaya dulu pada pengalaman saya diatas, tetapi silakan buktikan sendiri dengan cara anda. Untuk anak sendiri kok percaya kata orang..?

: )

%d bloggers like this: