Archive

Posts Tagged ‘SDSMP’

#SDSMP – Ketika Cinta dan Anang di RSBI (bagian-3/3)

September 2, 2012 Leave a comment

readyschool33

Sumber: timtim.com

Pengotakan status sekolah kembali terjadi dengan sistem. Penyebutan sekolah favorit saat ini terkait dengan status “internasional” yang lengket pada sekolah tersebut. Ada sebutan SBI (sekolah berstandar internasional) dan RSBI (atau rintisan SBI). Celah yang dibuka dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dimanfaatkan dengan banyak ragamnya.

Saya tidak akan membahas tentang praktik “baik/buruk” dan esensi dari keberadaan RSBI/SBI saat ini. Saya akan menceritakan kenyataan yang saya alami saat anak saya memasuki salah satu RSBI yang ada. Tulisan ini merupakan tulisan ketiga (terakhir) setelah sebelumnya adalah “Provokator di depan barisan” dan “Mereka Bukanlah Mesin“.

Menghadapi anak usia kelas enam sekolah dasar adalah susah-susah gampang, katanya. Usia yang mendekati usia ABG, atau malah sudah memasuki ABG bisa juga. Sebagaimana dalam tulisan sebelumnya, saya menerapkan strategi jangka menengah (dalam setahun terakhir dia di SD).

Pilihan sekolah menengah yang ada dalam benaknya saat itu adalah masuk SMP Negeri favorit (dengan status RSBI) atau yang nonRSBI Negeri tetapi tergolong favorit juga. Favorit, sekali lagi, tidak ada batasan jelasnya, cuma info katanya si anu dan si ani… : )

Dari informassi yang berkembang itulah, kemudian saya dan si putra, dan ibunya juga, melakukan survey antara lain mengunjungi “open house” yang diadakan oleh sekolah-sekolah yang ber-RSBI tadi. Di sana kami melihat kegiatan anak didik baik kegiatan lokal, nasional, maupun internasional. Yah, lumayan, ada beberapa bukti kegiatan yang menarik. Program yang dilaksanakan juga menarik. Setidaknya itulah yang disajikan pada pengunjung.

Pendaftaran untuk tes masuk sekolah RSBI berlangsung jauh lebih dahulu dibandingkan dengan tes masuk SMP Negeri “reguler”. Beberapa persyaratan diperlukan, antara lain batasan nilai rapor minimum sejak kelas 4 untuk mata pelajaran tertentu… masih masuk akal… Tidak ada pembayaran apapun kecuali formulir dan sangat terjangkau.

Ada dua SMP Negeri berstatus RSBI di kota saya, dan tes dilakukan bersamaan waktunya. Yang diujikan antara lain adalah Matematika, IPA, TIK, dan Bahasa Inggeris. Dua hari tes tertulis dan dua hari tes praktik.

Apa yang dipersiapkan untuk mengikuti tes tersebut..? Belajar mati-matian kembali seperti menghadapi UAN..? Mmm… saya justru tidak menyuruh anak untuk belajar ngotot lagi. Kenapa..? Karena saat ini si anak sudah kenyang dengan semua materi yang ada. Tes masuk ini dilakukan setelah selesai UAN, sehingga saya percaya segalanya masihhot di benaknya. Yang saya lakukan adalah mengondisikannya agar siap fisik dan mental. Tidur dan istirahat cukup, peralatan dan segala yang harus dibawa sudah siap, kemudian mengondisikannya untuk siap tempur.

Mengompori agar tetap semangat, nggak perlu ragu apalagi takut bersaing dengan semua peserta yang datang dari semua SD “favorit”, adalah tugas utama. Pengalaman pribadi saat muda dulu, ragu atau grogi saat menghadapi tes menjadi penghalang utama dalam mengerjakan soal. Dan saya yakin, dalam kondisi “penuh tekanan” akan menyulitkan berfikir jernih dalam menyelesaikan soal-soal yang ada.

Menceritakan pengalaman masa lalu (baca: masa muda) adalah penting. Bagaimana tetap percaya diri dan semangat menghajar semua soal yang ada, dan trik dalam mengatasi persoalan teknis saat tes berlangsung wajib diceritakan. Tentunya semua ini bertujuan pada timbulnya rasa berani bertanding sampai soal terakhir dengan perjuangan maksimal. Kondisi dulu berbeda dengan saat ini..? Ya nggak lah, terutama masalah mental, sama saja. Yang beda adalah tools-nya. Tes saat ini menggunakan pensil dan “ngurek-ngurek” bulatan di kertas khusus untuk dipindai jawabannya, sedangkan jaman dulu langsung contreng di kertas jawaban. Itu saja.

Hari tes tiba, dan si putra berhasil melalui dengan tenang dan percaya diri yang cukupan. Semua tes tertulis selesai dalam dua hari.

Untuk tes praktik ada dua hari terpisah, masing-masing sehari untuk tes praktik TIK (bagaimana menggunakan komputer dan aplikasinya) dan sehari untuk praktik Bahasa Inggeris.

Hari pengumuman tiba, diumumkan melalui SD masing-masing dengan keterangan kelulusan dalam amplop tertutup. Orang tua diminta datang ke SD, dan dihadapkan pada guru yang ditugasi mengkoordinir pendaftaran di RSBI.

Saat amplop dibuka, alhamdulillah, si putra diterima.

Perjuangan telah dilakukan, dan hasil telah diterima. Persaingan tinggi telah ditaklukan dengan baik, dan semua dilalui dengan kondisi biasa-biasa saja. Biasa..? Ya, karena hanya dengan menerapkan strategi dengan baik (dan cara yang benar) maka pemain yang “biasa-biasa saja” dapat menghasilkan hasil yang optimal.

Anak tidak perlu ditekan dengan keras, dan diharuskan “bekerja rodi” demi “kemauan ortu-nya”, atau demi “gengsi ortu-nya”. Yang terpenting adalah kerjasama dalam keluarga. Masing-masing melakukan pekerjaan pada posisinya dengan positif, dan jadikan kebersamaan dalam menjaga semangat menjadi yang utama. Ini masalah mentalitas.

Eh… lalu apa hubungannya antara judul tulisan ini “Ketika Cinta dan Anang di RSBI” dan isi tulisan ini..?

Mmmm… saat uji praktik bahasa Inggeris, salah satu pertanyaan adalah : ceritakan yang kamu tahu tentang Cinta Laura…, soal yang lain lagi: ceritakan tentang Anang (Hermansyah) yang kamu ketahui…, ups… jangan tanya kenapa ada pertanyaan seperti ini dalam tes yang ada…

Rrrr… maaf… pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak diketahui jawabannya oleh anak saya…

: )

_-_-_-_

*/ tulisan ketiga dari tiga tulisan.
*/ merupakan pengalaman pribadi yang sangat mungkin tidak cocok untuk anda coba… : )

*/ artikel ini adalah repost dari Kompasiana 6 Maret 2011.

Advertisements
Categories: Uji Nyali, Warung Kopi Tags: , , ,

#SDSMP – Mereka Bukanlah Mesin (bagian-2/3)

August 29, 2012 1 comment

readyschool23

Mereka bukanlah mesin

Menganggap semua akan baik-baik saja tidak selalu benar. Apalagi jika obyek yang dituju adalah manusia, karena rencana yang dimaui dapat berubah total di tengah jalan. Yang dimaksud disini adalah keinginan dan harapan orang tua terhadap perilaku anaknya, dalam banyak hal.

Orang tua selalu banyak maunya, dan selalu menganggap apa yang diketahui selalu lebih baik dari si anak. Sikap yang wajar terjadi pada siapapun yang ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, dan saya juga termasuk golongan ini.

Hal yang paling gampang terlihat adalah saat si anak diminta belajar oleh ortunya. Tiada kata lain selain “harus” belajar. Jam sekian adalah jamnya belajar, tidak boleh ini itu lagi. Semua soal latihan harus tuntas, dan pekerjaan rumah harus selesai dengan baik.

Ini adalah perlakuan yang selalu ditemui di banyak rumah saat malam mulai menjelang. Atau saat sore hari ketika si anak diharuskan mengikuti seribu macam les di berbagai tempat. Harapannya adalah satu, anaknya menjadi yang terbaik di manapun berada, dengan nilai tertinggi.

Orang tua selalu berusaha untuk memenuhi segala keperluan “masa depan” anaknya. Ilmu yang buanyak, dan kepandaian yang huebat…

Tapi terkadang (baca: kadang-kadang) lupa akan banyak hal di sisi lain.

Misalnya, saat si anak belajar di rumah, ortu cenderung tidak menemani. Alasan klasik adalah “saya nggak ngerti pelajaran anak sekarang”. Kalau ini alasannya, maka dapat dipastikan sang ortu tidak mempunyai prestasi apapun saat “muda” dulu… hehehe maaf… Karena pada dasarnya ilmu-ilmu dasar seperti matematika tidaklah berubah.

Anak dibiarkan berjuang sendiri menguliti tugasnya, tanpa kehadiran ortu di sisinya. Sementara ortu lebih senang dengan melihat sinetron di TV, atau ngobrol dengan teman/saudara/tetangga di luar rumah, atau sibuk dengan Facebook/Twitter-nya. Saat si anak merasa lelah atau malas, maka ortu dengan sigap menyuruhnya kembali untuk belajar. (Saya yakin tidak terjadi pada pembaca posting ini…)

Saya pernah mengalami hal ini, dimana saya lebih sibuk dengan kerjaan kantor (yang dikerjakan di rumah) sementara anak dipaksa untuk belajar sendiri. Setelah beberapa kali terjadi, saya mencoba untuk mengubah kebiasaan ini. Saya beranggapan anak saya memerlukan saya saat dia belajar. Mungkin bukan untuk ditanya masalah soal pelajarannya, tapi saat ia melihat saya di dekatnya, kadang ia bertanya hal lain yang memang perlu ditanyakan.

Dan saya memberanikan diri untuk ikut melihat materi apa yang ia pelajari. Berusaha untuk memahami dengan cara pikirnya dalam melihat soal. Dan memberikan dorongan untuk mengerjakan dengan semangat. Dorongan adalah bukan perintah, dan hal ini yang perlu dibedakan, karena saat saya kecil dulu saya tidak suka diperintah dalam melakukan banyak hal, cukup mengerti manfaatnya kemudian diberikan contoh.

Ah ya, “contoh”. Atau bahasa yang lebih kerennya adalah “teladan”. Anak akan melakukan apapun dengan senang hati saat ia melihat ortunya melakukan hal serupa. Saat ia belajar, ia juga melihat apakah ortunya suka “belajar” (membaca koran atau melakukan hal lain didekatnya).

Apakah dengan demikian ortu haruslah serba bisa dan hebat? Ah ya nggak juga. Bagi saya bukan kehebatannya yang akan dilihat anak, tapi semangat kita dalam bekerja dan berusaha (terutama yang terlihat nyata oleh anak) adalah yang terpenting.

Saat membantunya mengerjakan soal, dan ada soal yang kita tidak bisa, ya katakan “tidak bisa”. Tapi tentunya tidak sampai disitu saja, kita ajak sama-sama untuk mencari pemecahannya. Harus terpecahkan saat itu juga? Ya nggak lah. Anak harus juga tahu bahwa ortunya adalah “orang biasa”. Mungkin ini pelajaran “ketidaksempurnaan”.

Kembali ke kondisi anak saya yang kelas enam (baca cerita terdahulu).

Saya (mencoba) menerapkan pengalaman masa lalu saya. Tidak memaksakan tetapi memberikan suatu dorongan dalam mewujudkan kehendak. Menganjurkan ia belajar dan sekaligus menyediakan sebisa mungkin waktu bersamanya saat belajar. Menganjurkan istirahat dan mengajaknya bermain saat ia terlihat jenuh. Tidak perlu mengajak ke Mal atau Plaza, cukup bermain kelereng atau kartu bersama adiknya. Atau mengajak permainan lain seperti Triomino, Ludo atau Ular-Tangga. Dua tiga kali putaran, dilanjutkan lagi dengan belajar.

Saya tidak pernah menganjurkan apalagi memaksa ia kursus dimana-mana, tetapi mengajaknya belajar dimana-mana. Saat di rumah jenuh, saya ajak ke lapangan atau ke lokasi lain, dan belajarlah disana. Dibawa enjoy

Saya memelihara grafik kemampuan ia dalam menguasai materi. Saya tidak memaksanya berprestasi pada semester ganjil, karena ini akan berbahaya. Anak saya mempunyai kemampuan rata-rata, bukanlah langganan pemuncak dalam kelasnya.

Asumsi saya adalah, kalau ia mencapai puncak saat semester ganjil, maka semester berikutnya ia akan jenuh dan grafik pasti menurun. Padahal di semester genap itulah ada ujian sekolah dan juga UAN, saat mana (sebaiknya) ia mancapai puncaknya.

Sehingga yang saya lakukan pada semester ganjil adalah memelihara semangat juangnya, dan mengubah pola belajarnya agar lebih efektif.

“Percobaan” ini terlihat berhasil, saat semester ganjil berakhir ia tidak terlihat jenuh. Dan mengawali semester selanjutnya dengan semangat tinggi. Nilai-nilai uji cobanya terlihat menanjak, dan semakin mendekati waktu UAN semakin tinggi semangat juangnya.

Sayang sekali, hal sebaliknya terjadi pada beberapa temannya, dimana biasanya menjadi pemuncak tetapi saat menjelang UAN justru kejenuhan yang terlihat. Mungkin letih dengan segala soal dan belajar yang selalu diforsir jauh-jauh hari.

Dari pengalaman sempit ini, saya menyimpulkan bahwa anak saya bukanlah mesin (yaiyalaah…). Artinya adalah ia tidak bisa diubah dalam sekejap, hanya dengan tekan tombol maka semua akan berubah. Perubahan yang terjadi adalah gradasi dan campur tangan ortu sangat besar.

Ia tidak dapat berubah hanya dengan menyuruhnya belajar, hanya dengan memberi kelengkapan sekolah, memberi uang jajan, mengharuskan les dimana-mana, dan kemudian meninggalkan ia mengerjakan sendiri.

Tidak hanya dengan menyediakan makanan lezat bergizi, tetapi kemudian meninggalkannya makan sendiri. Tumpukan makanan lezat tidak dapat menawarkan rasa laparnya akan banyak hal lain.

Pendampingan pada anak memerlukan kuantitas tinggi dengan kualitas yang tinggi juga…

Bagaimana hasil dari “percobaan” ini pada akhirnya..? Akan saya ceritakan pada kesempatan berikutnya.

_-_-_-_

*/ tulisan kedua dari tiga tulisan.
*/ merupakan pengalaman pribadi yang sangat mungkin tidak cocok untuk anda coba… : )

*/ artikel ini adalah repost dari Kompasiana 1 Maret 2011.

Categories: Uji Nyali, Warung Kopi Tags: , , ,

#SDSMP – Provokator di depan Barisan (bagian-1/3)

August 27, 2012 1 comment

readyschool13

Sumber: spinninglizzy.wordpress.com

Menjadi pemimpin bukanlah pilihan, tetapi suatu keharusan. Saat menjadi pemimpin pada unit keluarga, maka disanalah kepemimpinan dijalankan. Bukan hanya sebagai suami, tetapi juga istri, pada bagian masing-masing. Sebagai anak pun kepemimpinan mulai diperkenalkan dan dijalankan. Mmm… tulisan ini bukan masalah kepemimpinan, tetapi lebih pada posisi kita, dimanapun dan sebagai apapun kita (suami, istri, anak, dll) dalam keluarga. Apapun posisinya, saatnya ada harus berada di depan barisan, sebagai provokator…

Saat mempunyai anak pada tingkat enam (kelas 6 maksudnya), pikiran utama orang tua adalah kemanakah anaknya akan melanjutkan sekolah. Apakah ke sekolah anu yang mempunyai reputasi bagus, atau tetap melanjutkan pada sekolah “yang sama” agar semua aman-aman saja, atau mengikuti ajakan rekan lain untuk me-mondok-kan anaknya ke pesantren terkenal.

Pilihan ini menjadi semakin rumit setelah pendapat diri sendiri dipadukan dengan pendapat ibu/bapak si anak. Dan, pastinya, akan semakin memanas saat mana dipadukan lagi dengan kemauan si anak. Panas disini bukanlah selalu berarti perpecahan pendapat, tetapi juga bisa kekuatan pendapat karena memang searah. Yang repot memang jika bapak dan ibu mempunyai pendapat yang sama, tetapi si anak cenderung “mengikuti” pendapat teman-teman dekatnya.

Dalam menghadapi hal demikian, yang pernah saya lakukan adalah pertama mempunyai pilihan sendiri yang “masuk akal”, kedua adalah berdiskusi dengan istri, kemudian langkah berikutnya mencoba menggali keinginan si anak. Anak saya (ketika itu) bersekolah di sebuah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) yang baik, dan disana juga terdapat SMPIT. Artinya, jika si anak ingin melanjutkan ke SMPIT, dimana masih dalam satu lingkungan, tentunya ada kemungkinan juga.

Pilihan saya adalah si anak sebaiknya bersekolah di SMP Negeri, yang baik tentunya, dan memulai “kehidupan baru”. Anak saya telah bersekolah di SDIT tersebut selama enam tahun, dalam kondisi “sempurna”. Kesempurnaan itu adalah, antara lain, jadwal pelajaran yang baik, guru-guru (atau ustadz/ustadzah) yang sangat peduli, aturan sekolah yang ketat, dan kehidupan keseharian yang penuh dengan kegiatan positif, serta fasilitas jemput-antar tiap hari. Hal-hal tadi terlepas dari bimbingan membaca Al-Quran yang luar biasa pada tiap individu murid.

Lalu mengapa saya tidak pasrah saja agar si anak melanjutkan ke SMP di tempat yang sama..? Yang juga sudah ketahuan akan mendapat perlakuan serba prima..?

Saya menyadari bahwa “kesempurnaan” yang dialami anak saya selama enam tahun itu adalah juga sekaligus “ketidaksempurnaan”. Dia tidak mengenal “kekurangan” dalam pergaulan, dia tidak mengenal “keberagaman” guru yang mengajar, bahkan dia tidak mengenal “bagaimana naik angkot” ke sekolahnya. Dia tidak mengenal keberagaman, dan ini adalah tidak baik. Karena hidup adalah tidak monoton, dan anak saya harus mengenal keberagaman yang ada dengan baik.

Untuk itu saya berusaha berpikir positif, dengan melihat kemampuan si anak. Kuatkah dia terjun ke luar lingkungan yang kemungkinan “tidak ramah”. Akan mampukah dia bertempur di arena yang diluar kebiasaannya. Yang utama lagi adalah apakah nilai-nilai dia cukup untuk melewati syarat administrasi “sekolah negeri baik” yang ada.

Saat mana semua hal tadi “positif”, maka saya mulai berdiskusi dengan ibunya. Ketika ibunya menyetujui maksud saya, maka segera saya menggali keinginan si anak.

Pertama yang dihadapi adalah ketidakpercayaan diri untuk memasuki suasana baru. Mengapa..? Karena faktor teman..! Jika ke sekolah anu maka akan berpisah dengan teman-teman dekatnya. O.. o..

Baiklah, mulai dimainkan jurus-jurus khusus. Pertama adalah sering bercerita bahwa bapak-mu itu dulu mengalami hal serupa. Sekolah di SD swasta, kemudian harus melanjutkan SMP ke Negeri. Juga mengalami ketakutan tidak ada teman dekat yang ikut. Tapi kenyataannya adalah justru semakin banyak teman didapat di tempat yang baru. Bahkan teman baru sangat beragam, dari yang sangat pintar sampai sangat bodoh (maaf). Dan teman-teman baru itu adalah sangat berarti bagi kehidupan selanjutnya, karena semakin banyak teman akan semakin asik hidup kita.

Kendala berikutnya adalah kurangnya sifat “menjadi yang terbaik”, dan hal ini tidak tahu akibat dari mana. Apakah akibat dari kurangnya penekanan “bersaing” di kelasnya, atau karena faktor lain.

Saya mencoba mengatasinya dengan cara menjadi “kompor” yang baik tentunya… : )

Satu saat ngobrol bareng dengan si anak, membicarakan klub bola Liga Inggeris. Sampai satu ketika dimasukkanlah kalimat-kalimat pendorong semangat bertarung. Kamu tau kan, menjadi pemain di MU (Manchester United) atau Arsenal tidaklah gampang. Perlu kemampuan individu yang sangat tinggi, dan kemauan keras setiap hari untuk menjadi yang terbaik. Sehebat apapun kamu jika jadi pemain klub “ecek-ecek”, sekalipun di Liga Primer Inggeris, orang-orang tidak ada yang tahu. Tapi jika kamu berhasil masuk di tim MU atau Arsenal maka dunia akan mengenalmu. Mmmm… antara lain begitulah…

Lain waktu…

Saat melihat pertandingan lari cepat di televisi, maka terlontar juga obrolan menarik. Coba lihat yang berlari di babak final itu. Semua adalah yang terbaik dari timnya atau negaranya. Semua berlari sangat kencang. Tapi tetap saja ada juaranya, ada juara pertama hingga ke delapan. Coba perhatikan catatan waktunya, “hanya” berbeda tipis sekali. Perbedaan yang “hanya sepersekian detik” dapat membedakan siapa pemenang dan siapa pecundang. Jadi kamu mempunyai nilai baik saja nggak cukup, karena banyak yang bisa mendapatkan nilai baik. Capailah nilai yang terbaik yang kamu bisa, dengan usaha maksimal tentunya…

Entah manjur atau nggak, tapi obrolan singkat dan sesuai dengan selera atau hobi si anak akan efektif membangkitkan semangat si anak untuk bertarung.

Obrolan-obrolan ini dilancarkan sejak si anak memulai kelas enam. Saya sempat berpikir, mungkin ini langkah yang terlambat, tapi kenapa nggak dicoba saja…

Beberapa hal yang saya pertahankan adalah tidak memaksa ia belajar atau mengancam dengan hukuman apapun, tidak pernah melecehkan apapun hasil ulangan atau test-nya, dan tidak memforsir dengan mengikuti beragam kursus di luar kegiatan sekolah. Les di luar sekolah hanyalah english untuk memperkaya kemampuan bahasanya saja.

Bagaimana efek dari perlakuan yang saya cobakan pada dirinya..? Akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya…

_-_-_-_

*/ tulisan pertama dari tiga tulisan.
*/ merupakan pengalaman pribadi yang sangat mungkin tidak cocok untuk anda coba… : )

*/ artikel ini merupakan repost dari Kompasiana 20 Pebruari 2011.

Categories: Uji Nyali, Warung Kopi Tags: , , ,
%d bloggers like this: