Archive

Posts Tagged ‘RSBI’

Melati Mencintai Murid Didiknya

August 5, 2013 Leave a comment

Sumber gambar: deviantart.net

Sumber gambar: deviantart.net

Saya Melati (bukan nama sebenarnya), saat ini sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di kota ini. Saya adalah pendidik dan hal ini telah saya mulai tujuh tahun lalu di sekolah yang sama.

Saya mencintai murid-murid saya, karena itu saya selalu berusaha menjadi pendidik yang baik dan benar. Minimal dengan memberikan waktu saya secara khusus untuk menerima segala bentuk keinginan mereka. Tidak hanya akademik tetapi juga terkadang masalah nonakademik yang mereka alami.

Saya ingin mereka menjadi anak didik yang tangguh baik secara akademik maupun nonakademik, sehingga hal yang saya perkuat sejak mereka masuk kelas VII adalah mentalitas yang baik.

Caranya adalah sederhana saja kok.

Pertama adalah saya paksa mereka untuk disiplin. Disiplin disini tidak hanya untuk diri mereka sendiri saja, tetapi disiplin yang juga menyangkut orang lain, yaitu teman-teman disekelilingnya dan guru-gurunya.

Disiplin seperti apa? Disiplin mengenai waktu belajar. Murid dibawah kendali saya harus menyediakan waktu untuk belajar sesuai dengan jadwal yang sudah dikeluarkan pihak sekolah. Tidak ada alasan untuk tidak mematuhi waktu belajar di sekolah. Saya pun harus mengimbanginya dengan masuk kelas pada waktu yang terjadwal, dan tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan kelas apalagi mengabaikannya untuk keperluan pribadi.

Dengan menepati waktu dan mengisinya sesuai target kurikulum maka mereka punya amunisi bagus untuk pelajaran yang bersangkutan.

Yang kedua, mereka saya ajarkan untuk jujur. Jujur pada diri sendiri adalah yang utama. Dalam bentuk apa kejujuran ini?

Yang paling sederhana adalah jujur akan kemampuan diri sendiri. Misalnya, dalam pengerjaan ulangan maka mereka tidak ada toleransi untuk menyontek atau curang. Sepenuhnya haruslah mereka sendiri yang mengerjakan sesuai kemampuan. Dan seberapapun hasilnya maka saya akan memberikan penghargaan tinggi pada mereka.

Disiplin dan jujur adalah dua hal yang saya ajarkan pada mereka. Sedangkan untuk memelihara kedua hal tersebut, maka saya berusaha manjadi pendidik yang baik, dengan memberikan contoh kelakuan, atau teladan, yang sesuai dengan apa yang saya ajarkan. Tidak lupa mereka saya beri pengertian juga mengenai keterbatasan manusia dalam menjaga kedua hal tersebut tetapi jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk mengelaknya.

Akibatnya adalah jelas. Mereka menjadi tangguh secara mental, dan siap menghadapi Ujian Nasional tanpa banyak bingung dan panik lagi. Dan sehubungan dengan sistem nilai rapor kelas VII dan VIII yang menjadi salah satu pertimbangan kelak saat mendaftar ke Sekolah Menengah Atas, mereka sudah siap tanpa perlu kami, guru-guru, mengolah nilai-nilai tersebut menjadi “nilai diatas rata-rata”.

Pengolahan nilai ini kerap menjadi praktik para guru yang ingin anak muridnya aman masuk ke SMA dan diyakini dapat mengharumkan sekolah asalnya. Walau menurut saya adalah ini perbuatan bodoh dan bentuk penghianatan dari proses pendidikan yang sebenarnya. Lucunya, penghianatan dengan cara meng-upgrade nilai ini juga dilakukan oleh beberapa sekolah yang berbasis agama…

Saat Ujian Nasional, saya (dan tim guru) selalu menekankan pada anak didik bahwa disiplin dan jujur harus mereka terapkan. Tidak ada guru yang akan memberikan bocoran soal, apalagi memberikan jawaban atas soal UN yang ada. Bagi saya, berpegang pada kedua hal ini pada saat UN adalah pilar utama dalam mempertahankan keyakinan dan mentalitas mereka dalam mengarungi sekolah selanjutnya. Apapun hasilnya adalah sesuai dengan kemampuan mereka dan mereka akan dengan tegar membawa hasil tersebut dalam pendaftaran di SMA sesuai dengan keinginan mereka kelak.

Praktik kecurangan, seperti upgrade nilai rapor dan membantu saat UN, tidak pernah ada di sekolah kami.

Saya mencintai anak didik saya. Mereka tidak hanya saya ajarkan materi pelajaran, tetapi harus saya didik mentalnya menjadi tangguh dan berani dengan segala situasi.

Konsepnya sederhana, hanya dengan menerapkan pendidikan kedisiplinan dan kejujuran, dibarengi dengan keteladanan dari guru pendidik. Cukup.

Ohya, untuk penerimaan “jalur prestasi” di sekolah saya, kebijakan sekolah menerapkan dengan logika yang benar, bahwa yang berprestasi itu nggak banyak kok, jadi kuotanya ya yang masuk akal aja deh.

: )

*/ obrolan di warung kopi yang tidak perlu di-copy… : )

Advertisements

Mawar Mencintai Sekolah

August 4, 2013 1 comment

Saya Mawar (bukan nama sebenarnya), berprofesi sebagai guru Sekolah Menengah Pertama yang ternama di kota saya. Saya mencintai sekolah saya. Tempat saya mengabdi pada negara ini dengan membagikan ilmu yang saya miliki pada anak-anak muda negeri tercinta.

Pengabdian saya sudah memasuki tahun ketujuh, dan saya semakin mencintai tempat dimana saya bertugas ini. Bagaimana tidak mencintai? Semua emosi bisa saya tumpahkan disini dengan berprofesi sebagai pengajar.

SMP Negeri yang saya tempati bertugas mempunyai status RSBI, atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Walau saat ini tidak lagi RSBI, sesuai perubahan Undang-Undang oleh Mahkamah Konstitusi. Tapi jelas, mantan RSBI adalah sekolah pilihan, pastinya.

Perubahan dari RSBI menjadi “berstatus biasa” tentunya mengguncang dari sisi keuangan sekolah. Eh, nanti dulu, sekolah tidak terkait dengan keuangan yang bersumber dari murid kok. Pungutan hanya dibolehkan oleh Komite Sekolah yang bersepakat dengan para orang tua murid.

Pada saat masih RSBI, orang tua murid akan dengan mudah dimintakan sumbangan bulanan atau tahunan demi merawat dan meningkatkan fasilitas sekolah agar tetap “bertaraf internasional”. Dengan kepiawaian Komite Sekolah dalam mengolah emosi orang tua, maka para orang tua murid akan dengan senang hati menunjang segala keperluan sekolah. Uang sumbangan tadi sebagian dipergunakan untuk merawat AC pada tiap ruang, menyediakan air minum mineral untuk keseharian anak-anak, melengkapi fasilitas visual (proyektor) untuk kelas, dan juga untuk meningkatkan kemampuan SDM (baca: guru) dalam berbahasa Inggris. Ya, saya dikursuskan dari dana tersebut. Lumayan lah…

Saat status RSBI hilang maka sekolah pun mengambil beberapa kebijakan strategis. Tentunya kebijakan ini dihasilkan dari usulan-usulan brilyan dari komite sekolah dan sebagian rekan guru yang selalu dimintakan pendapatnya oleh sekolah. Saya termasuk yang mengusulkan beberapa hal.

Tahun ini penerimaan murid baru (PPDB, Penerimaan Peserta Didik Baru) mengenal istilah “jalur prestasi” (atau japres). Nah, melalui japres inilah beberapa hal dilakukan dengan bijak oleh sekolah saya.

Japres adalah jalur penerimaan untuk murid yang berprestasi dari tingkat Kabupaten/Kota hingga internasional. Peraturan Japres jelas sekali, dimana anak bisa berprestasi dibidang akademik maupun non akademik. Sertifikat bisa dikeluarkan oleh (pada level terendah) Kantor/Dinas pada Pemerintah Kota/Kabupaten.

Pada sekolah saya, kuota penerimaan tahun ini adalah 240 murid. Dan dari 240 kursi itu disediakan untuk japres adalah 90 kursi. Artinya, sekolah menerima 90 anak yang melalui penerimaan japres. Mereka, 90 anak ini, adalah yang mempunyai prestasi baik akademik maupun nonakademik, sebagian besar berasal dari kota saya tentunya.

Mereka, tentunya, adalah anak-anak pilihan. Dan Komite Sekolah pun dengan tanggap mengolahnya dengan baik. Seperti sudah diduga sebelumnya, orang tua para murid pilihan dari japres ini adalah para sukarelawan yang baik dalam menunjang keuangan sekolah sebagai pengganti dari sumbangan pada jaman RSBI. Artinya fasilitas sekolah saya dan kesempatan saya untuk mengembangkan kemampuan melalui kursus-kursus akan tetap terjamin.

Saya tidak perlu memikirkan dan menghitung jumlah anak berprestasi di kota saya. Ada 20 sekolah menengah pertama negeri, jika tiap sekolah mempunyai 50 kursi untuk japres maka akan ada berapa anak berprestasi yang terjaring di tingkat SMP ini.? Saya tidak mau memikirkan apakah jumlah tersebut masuk akal jika dikaitkan dengan jumlah keragaman prestasi (atau even lomba) yang pernah ada di kota, provinsi, nasional, atau internasional yang diikuti oleh anak dari kota saya.

Saya, Mawar, hanyalah mencintai sekolah dimana saya mengabdi. Sekolah dimana saya bisa meningkatkan kemampuan diri dengan fasilitas yang selalu terjaga baik. Saya tidak akan melupakan kemurahhatian para orang tua murid dari japres (terutama) dan dari lembaga/institusi manapun yang mendukung para anak-anak berprestasi mendapatkan sertifikatnya.

Saya, Mawar, adalah pengajar di sekolah terbaik di kota saya. Saya bangga akan hal itu. Demikian.

*/ cerita di warung kopi yang tak perlu di-copy. : )

Categories: Warung Kopi Tags: , , , ,
%d bloggers like this: