Archive

Posts Tagged ‘mengajar’

Belajar untuk Mengajar

January 2, 2012 12 comments

Civil war - Glasbergen

Sumber kartun: glasbergen.com

Belajar, kata kerja yang sangat menyebalkan. Saat masih senang dengan bermain jaman kanak-kanak, selalu saja kata “belajar” disodorin dengan embel-embel beberapa karakter pentung… “!!!“. Pentingkah “belajar” ini sesungguhnya..?

Saat seekor jerapah melahirkan, sang anak terjatuh ke muka bumi, dan beberapa saat kemudian mampu berdiri dan berperilaku seperti induknya. Ia segera tahu bahaya yang sedang mengintai kehidupannya.. Demikian juga seekor harimau, sang anak yang baru lahir langsung bisa berdiri dan mengaum… eh… bukan mengaum, tapi segera bisa berdiri dan berjalan layaknya harimau lainnya. Setidaknya itu yang disajikan bertahun-tahun (tanpa perubahan) dari paket-paket acara “Flora-Fauna” di televisi.

Seekor ikan yang baru menetas, langsung bisa berenang tanpa perlu belajar berenang melalui kursus dua kali seminggu. Pinguin keluar dari telurnya dan langsung bisa berjalan lenggak-lenggok seperti kawanannya. Demikian juga anak udang laut yang selalu langsung menyesuaikan dengan kehidupan orang tua bahkan kelompoknya di dalam lautan luas (sudah lihat film Happy Feet 2..?).

Lalu bagaimana dengan manusia..?

Manusia adalah mahluk yang sangat lamban. Lihat saja, sejak lahir hingga bisa berjalan sendiri diperlukan waktu paling cepat 9 bulan. Untuk bisa berbicara dengan baik diperlukan waktu paling cepat 1,5 tahun. Mengenal kelompoknya atau keluarganya..? Untuk ini perlu waktu lama lagi. Mengetahui bahaya yang bisa mencelakakannya..? Wah perlu waktu panjang lagi.

Manusia perlu belajar, ternyata.

Dan sekali belajar maka ia bisa mengembangkannya dengan luar biasa, bahkan tanpa kendali. Pengembangan yang didapat kemudian disebut dengan ilmu pengetahuan, dan mempunyai dua saluran tegas, yaitu: akan menyejahterakan atau menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri.

Saat saya Taman Kanak-Kanak, kemampuan membaca tidaklah penting. Yang dibimbing oleh para guru saat itu adalah kemampuan sosialisasi dengan bermain bersama. Dan dalam permainan tentunya (sudah terlihat) ada kesenangan, keceriaan, dan juga bibit-bibit kecurangan… ehm… Ini adalah proses belajar.

Kemampuan menulis dan membaca baru diajarkan pada saat Sekolah Dasar. Dan proses belajar ini terus berlanjut hingga batas yang tidak berbatas. Belajar belajar dan belajar.

Belajar menjadi bukan hanya domain di dalam kelas. Belajar adalah aktivitas dimanapun kita berada. Belajar juga bukan hanya secara fisik tetapi juga nonfisik. Semua proses perkembangan yang luar biasa ini menjadikan manusia bisa sampai tahap mahamanusia, mahaciptaan, yang terkadang melawan Sang Pencipta ataupun menghianati Nya.

Tanpa terasa, saat kita belajar, kita juga memberikan pelajaran pada orang lain. Apa yang kita lakukan tentunya akan terlihat oleh orang lain dan merupakan pelajaran baginya. Walau tentunya tidak semua yang kita lakukan akan “terpelajari” oleh pihak lain, tetapi bagian dari yang dikerjakan tentunya akan teramati.

Saat kita belajar, saat itu pula kita mengajar. Tanpa disadari.

Nah, saat kita sudah mengetahui dan memahami arti dari norma dan tanggungjawab di sekitar kita, maka itulah waktu yang tepat untuk belajar sambil “mengajar dengan sadar”. Artinya adalah semua yang kita lakukan hendaknya berdasar pada norma yang berlaku, baik norma agama maupun sosial di sekitar kita. Dan juga saatnya berani memikul tanggungjawab sehingga yang “diajarkan dengan sengaja atau tidak” kepada khalayak tidak membahayakan dari segi apapun.

Kondisi yang terbalikpun bisa terjadi. Saat kita berbagi pengetahuan, apapun, artinya kita mengajar dengan sadar, sebenarnya kita juga sekaligus sedang belajar dengan tidak sadar.

Belajar, kata yang membosankan, tapi terus kita lakukan dengan sadar maupun tak sadar, dengan bonus: sekaligus memberikan pengajaran pada lainnya. Disadari atau tidak, dengan kerelaan atau tidak…

: )

Advertisements
Categories: Warung Kopi Tags: , ,
%d bloggers like this: