Archive

Posts Tagged ‘jujur’

UN yang Jujur

April 3, 2016 Leave a comment

image

UN tahun 2016 diwarnai dengan “kampanye putih” tentang kejujuran. Siswa diharapkan menjunjung tinggi kejujuran saat melaksanakan Ujian Nasional. Hanya untuk siswa sajakah kejujuran di UN..?

Secara umum, UN mempunyai tiga komponen dalam pelaksanaannya, yaitu: siswa, guru (pihak sekolah), dan orang tua. Ketiganya adalah komponen utama dalam pelaksanaan UN dan tentu saling terkait.

Kejujuran apa yang diharapkan dari ketiganya?

Dari siswa, tentunya ini adalah hal teknis yang sangat mendasar yaitu “tidak mencontek”. Percaya pada diri sendiri dalam mengerjakan soal-soal yang ada. Mengabaikan semua hal yang menawarkan solusi jalan pintas (kuncinjawaban dari teman, guru, ataupun bimbel) misalnya.

Dari guru atau pihak sekolah, adalah penentu nilai secara umum atas semua hasil yang diraih oleh siswa selama ia menempuh sekolahnya. Jangan sampai ada permufakatan internal untuk bermain dengan nilai demi peringkat dan gengsi sekolah. Jangan ada pemberitahuan jawaban di papan tulis (atau dalam bentuk lain) pada sebelum dan saat UN berlangsung.

Dari pihak orang tua adalah kejujuran dalam berharap pada anak-anaknya. Masing-masing anak punya kemampuan berbeda dan hal ini terbentuk tidak instan hanya satu hari. Beranikah jujur terhadap anak sendiri?

Secara umum kampanye oleh Kemendikbud adalah sangat baik. Tetapi siswa bukanlah satu-satunya obyek sasaran. Hendaknya juga dikampanyekan untuk Ortu dan guru sekolah hal yang sama.

Ohya, satu lagi, perlu juga dikampanyekan pada pemerintah daerah terkait, yaitu kepala daerah (biasanya pada tingkatan Bupati/Wali kota) dan jajaran “Dinas Pendidikan”-nya. Karena pernah ada kasus dimana kepala daerah mengeluarkan pernyataan semua sekolah SMA di wilayahnya harus lulus 100% dengan sangsi untuk Kepsek jika tidak terpenuhi. Pernyataan yang mengganggu kinerja jujur para guru dan Kepsek tentunya.

Tiga komponen utama pelaksana UN diatas hendaknya berpikir jernih bahwa nilai tidak menggambarkan keberhasilan pendidikan. Sekian tahun pendidikan janganlah dihancurkan hanya dengan 1-2 hari pada pelaksanaan UN.

Jangan sampai siswa (dan juga guru dan Ortu) hancur moral kejujurannya demi hal yang “remeh temeh”.

Oke deeh, berani jujur kan?

Kejujuran dimiliki oleh semua orang, hanya yang berani menunjukkannya ialah juaranya!

Selamat menjalankan UN..!

🙂

Advertisements

Melati Mencintai Murid Didiknya

August 5, 2013 Leave a comment

Sumber gambar: deviantart.net

Sumber gambar: deviantart.net

Saya Melati (bukan nama sebenarnya), saat ini sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di kota ini. Saya adalah pendidik dan hal ini telah saya mulai tujuh tahun lalu di sekolah yang sama.

Saya mencintai murid-murid saya, karena itu saya selalu berusaha menjadi pendidik yang baik dan benar. Minimal dengan memberikan waktu saya secara khusus untuk menerima segala bentuk keinginan mereka. Tidak hanya akademik tetapi juga terkadang masalah nonakademik yang mereka alami.

Saya ingin mereka menjadi anak didik yang tangguh baik secara akademik maupun nonakademik, sehingga hal yang saya perkuat sejak mereka masuk kelas VII adalah mentalitas yang baik.

Caranya adalah sederhana saja kok.

Pertama adalah saya paksa mereka untuk disiplin. Disiplin disini tidak hanya untuk diri mereka sendiri saja, tetapi disiplin yang juga menyangkut orang lain, yaitu teman-teman disekelilingnya dan guru-gurunya.

Disiplin seperti apa? Disiplin mengenai waktu belajar. Murid dibawah kendali saya harus menyediakan waktu untuk belajar sesuai dengan jadwal yang sudah dikeluarkan pihak sekolah. Tidak ada alasan untuk tidak mematuhi waktu belajar di sekolah. Saya pun harus mengimbanginya dengan masuk kelas pada waktu yang terjadwal, dan tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan kelas apalagi mengabaikannya untuk keperluan pribadi.

Dengan menepati waktu dan mengisinya sesuai target kurikulum maka mereka punya amunisi bagus untuk pelajaran yang bersangkutan.

Yang kedua, mereka saya ajarkan untuk jujur. Jujur pada diri sendiri adalah yang utama. Dalam bentuk apa kejujuran ini?

Yang paling sederhana adalah jujur akan kemampuan diri sendiri. Misalnya, dalam pengerjaan ulangan maka mereka tidak ada toleransi untuk menyontek atau curang. Sepenuhnya haruslah mereka sendiri yang mengerjakan sesuai kemampuan. Dan seberapapun hasilnya maka saya akan memberikan penghargaan tinggi pada mereka.

Disiplin dan jujur adalah dua hal yang saya ajarkan pada mereka. Sedangkan untuk memelihara kedua hal tersebut, maka saya berusaha manjadi pendidik yang baik, dengan memberikan contoh kelakuan, atau teladan, yang sesuai dengan apa yang saya ajarkan. Tidak lupa mereka saya beri pengertian juga mengenai keterbatasan manusia dalam menjaga kedua hal tersebut tetapi jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk mengelaknya.

Akibatnya adalah jelas. Mereka menjadi tangguh secara mental, dan siap menghadapi Ujian Nasional tanpa banyak bingung dan panik lagi. Dan sehubungan dengan sistem nilai rapor kelas VII dan VIII yang menjadi salah satu pertimbangan kelak saat mendaftar ke Sekolah Menengah Atas, mereka sudah siap tanpa perlu kami, guru-guru, mengolah nilai-nilai tersebut menjadi “nilai diatas rata-rata”.

Pengolahan nilai ini kerap menjadi praktik para guru yang ingin anak muridnya aman masuk ke SMA dan diyakini dapat mengharumkan sekolah asalnya. Walau menurut saya adalah ini perbuatan bodoh dan bentuk penghianatan dari proses pendidikan yang sebenarnya. Lucunya, penghianatan dengan cara meng-upgrade nilai ini juga dilakukan oleh beberapa sekolah yang berbasis agama…

Saat Ujian Nasional, saya (dan tim guru) selalu menekankan pada anak didik bahwa disiplin dan jujur harus mereka terapkan. Tidak ada guru yang akan memberikan bocoran soal, apalagi memberikan jawaban atas soal UN yang ada. Bagi saya, berpegang pada kedua hal ini pada saat UN adalah pilar utama dalam mempertahankan keyakinan dan mentalitas mereka dalam mengarungi sekolah selanjutnya. Apapun hasilnya adalah sesuai dengan kemampuan mereka dan mereka akan dengan tegar membawa hasil tersebut dalam pendaftaran di SMA sesuai dengan keinginan mereka kelak.

Praktik kecurangan, seperti upgrade nilai rapor dan membantu saat UN, tidak pernah ada di sekolah kami.

Saya mencintai anak didik saya. Mereka tidak hanya saya ajarkan materi pelajaran, tetapi harus saya didik mentalnya menjadi tangguh dan berani dengan segala situasi.

Konsepnya sederhana, hanya dengan menerapkan pendidikan kedisiplinan dan kejujuran, dibarengi dengan keteladanan dari guru pendidik. Cukup.

Ohya, untuk penerimaan “jalur prestasi” di sekolah saya, kebijakan sekolah menerapkan dengan logika yang benar, bahwa yang berprestasi itu nggak banyak kok, jadi kuotanya ya yang masuk akal aja deh.

: )

*/ obrolan di warung kopi yang tidak perlu di-copy… : )

%d bloggers like this: