Archive

Posts Tagged ‘IPB’

Kompor Terbang untuk Mahasiswa

February 16, 2014 Leave a comment

Dalam beberapa kesempatan berdiri di depan kelas, dihadapan para mahasiswa, saya sering bercerita tentang perjalanan. Terbang ke berbagai pelosok daerah di Indonesia, dan beberapa lokasi di luar negeri ini.

Karena kebanyakan materi yang saya berikan adalah dalam dunia spasial, baik itu mengenai penginderaan jarak jauh (remote sensing) ataupun aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS), maka mudah bagi saya membelokkan materi menjadi cerita jalan-jalan. Bercerita di hadapan rekan-rekan mahasiswa ini kemudian menjadi cara saya untuk menghabiskan waktu yang tersedia… #ups… 😀

Rekan-rekan mahasiswa yang hadir bisa berjumlah tiga atau delapan orang. Bisa pula belasan atau puluhan. Mungkin ada yang hadir hanya tanda tangannya saja… ehm… Saya tidak mengurus masalah administrasi, saya lebih fokus pada penyampaian materi.

Mahasiswa yang hadir di ruang kelas atau laboratorium biasanya berasal dari banyak daerah, juga ada yang dari luar negeri, atau pernah ke luar negeri. Jadi sangat mudah saya mengaitkan daerah mereka dengan pengalaman saya saat bermain ke kampung halaman mereka.

Apa yang saya ceritakan di depan kelas..?

Apa saja yang alami di daerah tersebut. Agak detil dan juga dibumbui sedikit agar sedap terdengar. Kadang opini tentang kebijakan setempat juga dimasukkan. Tapi kebanyakan adalah bercerita tentang kondisi alam, yang indah dan yang memprihatinkan. Seringkali mahasiswa yang berada di daerah terbut tidak mengetahui lokasi atau isu yang ada di sana… hehe.

Saya juga bercerita jalan-jalan ketika saya blusukan ke pelosok negeri ini. Ke ujung paling Barat dan ujung paling Timur Indonesia juga saya ceritakan. Ke beberapa lokasi pelosok di negeri lain pun saya ceritakan. Semua dengan gambar/foto yang pernah saya rekam di sana. Juga dilengkapi dengan peta daring seperti Google Maps. Nih lo tempatnya..! 🙂

Secara berseloroh saya tantang yang ada di dalam ruang itu: bagaimana…, apakah kamu bisa seperti ini..?

Saya yakin satu-dua-tiga orang yang hadir pasti antipati dengan tantangan saya itu. Belagu amat sih luu… barangkali begitu dalam hati mereka. Saya sadar akan adanya kemungkinan pendapat seperti itu. Saya nggak peduli. Pada banyak kesempatan saya selalu cerita semacam ini untuk lokasi dan kasus yang berbeda tentunya.

Apa tujuan saya bercerita belagu seperti ini..?

Tidak lain adalah untuk menggugah yang hadir agar berani keluar terbang jauh dan belajar dari yang dialami. Berani mencoba hal baru di tempat yang tidak dikenal sama sekali. Berani melakukan penaklukan akan daerah baru dalam hidupnya. Dan berani memperluas wawasan dalam perjalanan kehidupan mereka kelak.

Apakah berhasil..?

Saya tidak melihat hasil, karena itu bukan tugas dan target saya. Yang saya lihat adalah efektivitas dalam menjadi kompor di hadapan para mahasiswa ini. Dari pandangan dan respon bahasa tubuh akan terlihat jelas mana yang tertantang mana yang gak peduli. Saya fokus pada cara baru supaya yang tertantang akan lebih banyak dari yang cuek.

Dua-tiga-lima tahun kemudian saya mengetahui bahwa si Anu sekarang bekerja profesional di pulau itu, si Ani sekarang berada di seberang samudera melengkapi pengalaman sekolahnya, dan si Ano semakin berkembang dengan bisnis globalnya. Sementara itu si Fulan selalu traveling antarpulau keliling Indonesia dengan risetnya, si Fulun bekerja pada lembaga internasional, dan si Fulin membangun lokasi kerjanya dan anak didiknya menggunakan metode kompor saya… 😀

Saya bersyukur, mereka telah berani terbang tinggi, menyebar kesana-kemari di permukaan bumi.

Saya berharap mereka menjadi virus bagi banyak generasi muda lainnya, untuk berani terbang tinggi.

: )

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=XHMafN-UEKw]
Advertisements
Categories: Dalam Kelas Tags: , , ,

Menguji dengan Sandal

December 29, 2012 2 comments

Sandal adalah alas kaki, semua orang juga tahu. Tapi pantaskah dalam acara resmi tak terhindar memakai sandal, karena tak sengaja..?

Satu saat saya mendapat undangan untuk menguji. Ujian ini adalah sidang komisi (sidkom) untuk salah satu mahasiswa strata-2 bimbingan saya. Waktu undangan adalah jam 9 pagi, dan saya berangkat dari rumah jam 8, cukuplah untuk waktu tempuh pada jarak sekitar 18 Km yang disertai macet dibeberapa lokasi.

Seperti biasa, saat mengemudi mobil saya lebih suka tidak memakai alas kaki. Cukup dengan pakai kaus kaki dan pakai sendal, kemudian simpan sepatu di mobil. Sesampai di kampus pakai sepatu dulu baru turun dari mobil.

Pagi itu juga demikian. Dengan kaki yang masih terasa letih luar biasa karena baru pulang dari survey di Pagaralam, saya segera menuju kampus. Sampai kampus sesuai dengan waktu mendekati jam 9 pagi.

Sampailah di kampus jam 9 kurang 15. Segera parkir mobil, kemudian bersiap memakai sepatu yang sudah disiapkan… Eh, disiapkan..? Mana sang sepatu..? Liat semua sudut dalam mobil tak terlihat sepatu barang satupun (jumlah sepatu kan mestinya dua ya..?).

Aha, tak ada sepatu sama sekali. Kesimpulan: sepatu saya pastilah tertinggal. Sepatu yang hanya satu-satunya itu tak terbawa untuk acara yang penting dan resmi ini. Duh…!

Berhubung waktu mepet, maka segeralah turun dari mobil dengan beralas sandal, segera menuju ke ruang ujian.

Saat bertemu dengan dosen penguji lain, tanpa diminta atau ditanya, saya segera menjelaskan bahwa saya tidak memakai sepatu hari itu, kaki saya masih terasa sakit. Sakit..? Ya, ini memang bener sakit, akibta terperosok tebing saat di Pagaralam beberapa hari lalu. Jadi alasan “tepat”… hehehe…

Saya nggak tahu apakah sang mahasiswa tahu kondisi saya sebenarnya atau nggak. Dan apakah dia nyadar bahwa salah satu pengujinya hanya pakai sandal, karena dia terlihat sudah cukup sibuk dengan persiapan materi presentasinya sendiri.

: )

Gambar: ilustrasi; Sumber: http://tlloh.com.

Categories: Dalam Kelas Tags: ,
%d bloggers like this: