Archive

Posts Tagged ‘Facebook’

Sheryl Sandberg: Why We Have too Few Women Leaders

October 17, 2014 Leave a comment

Sheryl Sandberg, seorang COO (Chief Operating Officer) Facebook, berbicara mengenai kurangnya pemimpin perempuan yang ada saat ini. Terlepas dari isi yang disampaikan, yang menarik saya perhatikan adalah bagaimana dia menyampaikan gagasannya dengan cara presentasi yang memukau.

Setiap detik gerakan dan intonasi kata/kalimatnya di atas panggung menjadi bahan telaah dalam memperlajari/studi cara presentasi yang baik di kelas. Setiap murid diminta pendapat sekaligus menirukan gerakan tubuh yang mendukung dalam penyampaian substansi setiap kata dan kalimat.

Silakan menyimak video tersebut, dan selamat belajar presentasi. 🙂

—–

Ikuti lebih lanjut di-tag: Seri Presentasi.

Advertisements

Bacalah

July 16, 2014 Leave a comment

Readme.

Readme.

Pembaca setia status dilaman Facebook tentunya adalah golongan orang berpendidikan. Terbukti bisa membaca sehingga bisa mengenal yang namanya Facebook.

Tetapi tidak semua bisa benar-benar membaca. Membaca yang sebenarnya adalah berusaha mengerti dan memahami apa yang tersurat dan tersirat dari tulisan yang ada.

Untuk mengetahui kemampuan kita dalam membaca caranya mudah, seberapa cepat kita klik “like” atau mengisi komentar, setelah itu bandingkan dengan isi status, apakah cocok, apakah nyambung, apakah jakasembung..? 😀

Profesor Dan, pengajar disalah satu universitas di Detroit, Amerika, mengatakan: salah satu poin keberhasilan dalam menambah wawasan ilmu adalah dengan membaca sebanyak mungkin sekuat yang manusia bisa lakukan. Petuah beliau dalam Seminar empat bulan lalu sangat membekas. Mengingatkan saya akan satu peristiwa saat kelas tiga SMA…

Saat itu saya bertanya pada seorang rekan di kelas mengenai pengoperassian salah satu fungsi di perangkat lunak komputer (masih jamannya IBM XT Kompatibel, kali yaa…).

Ia menjawab: bertanyalah pada F1.

Dengan kata lain ia mengatakan bahwa untuk mencari sesuatu pemecahan masalah adalah dengan membaca. Tombol F1 pada keyboard identik dengan “Help”. Baca dokumentasi yang telah disediakan.

Ayo kita membaca, membaca, dan membaca..!

*/ Keisengan nulis saat mengakhiri hari ke-17 Ramadan.

*/ repost dari status Facebook 15 Juli 2014.

Categories: Warung Kopi Tags: , , ,

Perangkat interaksi pembimbingan

January 2, 2012 6 comments

Quiz today - glasbergen

Sumber kartun: glasbergen.com

Suatu masa di medio 90-an, saat saya mulai memroses data dan menuliskannya dalam bentuk Tugas Akhir, pembimbingan menjadi salah satu kendala. Saat itu saya mempunyai pembimbing utama dari kampus dan pembimbing kedua dan ketiga dari luar kampus. Kendala disini adalah posisi pembimbing yang berada di lain kota.

Intensitas pertemuan, saat itu, menjadi salah satu kewajiban. Dimana setidaknya seminggu sekali harus bertemu untuk berdiskusi masalah yang ditemukan selama pengolahan data dan penulisan TA. Posisi dosen pembimbing yang berada di luar kota menjadikan jarak, waktu, juga dana tentunya, menjadi kendala yang tidak ringan.

Menyesuaikan waktu petemuan untuk dosen yang berada di Jakarta, dengan segala kesibukannya, bukanlah pekerjaan yang ringan. Apalagi kedua pembimbing tersebut (pembimbing kedua dan ketiga) merupakan orang yang “gila kerja” sehingga waktu mereka sangat terbatas untuk urusan pertemuan. Sedangkan saya tinggal di Bandung.

Teknologi informasi dan komunikasi adalah salah satu alternatif pengurangan kendala tersebut.

Dengan memanfaatkan jejaring internet yang telah masuk kampus, maka saya memulai komunikasi dengan para pembimbing yang berada di Jakarta dengan menggunakan email. Saat itu internet adalah masih merupakan barang langka. Tidak semua orang mengenalnya sekalipun ngakunya sekolah di “center of excellent”.

Saya termasuk yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan mengaksesnya, dan… diperbolehkan mempunyai email..! (hehe saat itu “http” belumlah seindah sekarang, belum jamannya browser, belum dikenal email gratis). Kesempatan yang saya peroleh ini karena seringnya saya nongkrong di PIKSI (Pusat Ilmu Komputer dan Sistem Informasi) sebagai salah satu asisten pengajar beberapa mata ajar bahasa komputer. Maka mulailah pemanfaatan email untuk kepentingan bimbingan dengan para dosen pembimbing yang berada di Jakarta tadi.

Saat itu teknologi pengiriman data yang ada di kampus masih dengan paket radio. Dari gedung PIKSI (yang menyerupai SD INPRES) ke PAU (Pusat Antar Universitas) data dikirim melalui gelombang radio dan melewati lebar pita yang sangat sempit. Penggunaan email dari semua user di PIKSI mengakibatkan antrian yang cukup lama. Email yang saya kirim hanya dalam format text, bisa jadi sampai ke Jakarta baru esok harinya. Sulit dipercaya bagi generasi “HSDPA” saat ini, tapi demikianlah yang terjadi.

Demikianlah maka dengan memanfaatkan teknologi yang ada, proses bimbingan dapat berjalan dengan lancar hingga akhirnya “terpaksa” harus meninggalkan kampus dengan sukses.

Metoda ini kemudian yang saya terapkan saat saya mendapatkan kehormatan ikut serta dalam proses pembimbingan mahasiswa. Mahasiswa yang berada dimanapun, apakah di dalam kota yang sama ataupun yang berada jauh di luar kota (Bandung atau Jogja) maka dapat melakukan pembimbingan dengan menggunakan teknologi “komunikasi” melalui internet.

Dan sesuai jamannya, proses pembimbingan tidak sekedar melalui email, tetapi juga melalui ngobrol (chat) via beberapa aplikasi web, seperti layanan pada Yahoo!Messenger ataupun melalui Facebook.

Komunikasi jarak jauh seperti ini tidaklah tabu, karena ini memang sudah jamannya kecepatan, efisiensi, dan tentunya tanpa meninggalkan kualitas dari proses pembimbingan. Waktu pun menjadi tidak terlalu terbatas “jam kerja”, karena bisa dilakukan saat kapanpun sesuai dengan kesepakatan sebelumnya dengan si mahasiswa.

Kemampuan “cloud computing” pun diterapkan (dengan menggunakan Google Docs), sehingga dokumen bisa teredit/terperiksa langsung oleh saya dan sementara itu mahasiswa juga bisa memberikan usulan secara langsung pada waktu yang sama di dokumen yang sama.

Pemakaian teknologi seperti ini tentunya tidak mengurangi pentingnya diskusi tatap muka. Tetapi tentunya bisa sangat mengurangi  kendala yang terkait dengan jarak, waktu, dan keterbatasan dana yang ada.

: )

%d bloggers like this: