Archive

Posts Tagged ‘babi’

Pemahaman Teroris dari Perspektif Angry Birds

March 4, 2012 1 comment

Angry Birds

The Angry Birds

Angry Birds, hampir semua yang membaca tulisan ini sudah pernah melihat character dari game yang sangat terkenal saat ini. Game yang sangat sederhana, tampakan hanya dalam dua dimensi, dan kemenangan hanya mengandalkan “keberuntungan” dalam bermain dengan katapel.

Keberuntungan..? Bukan, bukan keberuntungan. Tapi justru strategi jitu bagaimana menghancurkan sasaran dengan memanfaatkan peluru katapel yang dimiliki. Peluru katapel adalah berupa burung. Burung yang terdiri dari beberapa jenis dan mempunyai kemampuan menghancurkan yang berbeda-beda. Apa yang dihancurkan..?

Sasaran yang harus dihancurkan adalah bangunan yang mempunyai struktur unik dan merupakan tempat persembunyian binatang lain. Pada banyak “episode”, binatang yang bersembunyi di banyak sudut bangunan tersebut, adalah babi. Selain babi, pada episode tertentu, terdapat juga monyet.

Pertama kali saya berkenalan dengan game Angry Birds adalah melalui iPhone. Bukan iPhone saya, tetapi iPhone rekan dan saat itu ia tampaknya sedang keranjingan memainkan Angry Birds, dan inilah yang membuat saya tertarik. Dan saat pertama saya memainkan Angry Birds justru bukan diperangkat mobile tetapi di perambah Chrome. Pada Chrome Web Store terdapat Angry Birds dan mulailah saya ikut keranjingan memainkannya.

Selain dari perambah Chrome, akhirnya, saya juga bermain di perangkat  mobile saat mulai memakai hp bersistem operasi Android. Keasyikkan pun berlanjut. Setidaknya terinstal Angry Birds Rio dan Angry Birds Seasons di hp saya.

Permainan ini memang mengasyikkan. Walaupun idenya sangat sederhana, dan sudah banyak permainan serupa sejak jaman lalu, tetapi tetap saja mengasyikkan. Menentukan sasaran tembak pada struktur bangunan, kemudian mengatur kekuatan terbang burung, dan menentukan sudut awalannya dari katapel. Bagian dari bangunan yang terkena belum tentu menyebabkan kehancuran banyak bagian lainnya, tetapi tujuan akhir bukanlah hancurnya bangunan tetapi matinya binatang yang bersembunyi di dalam bangunan tersebut.

Bagaimana memainkannya dengan baik dan benar bukanlah tujuan saya dalam tulisan ini. Sangatlah banyak gamers yang telah mampu mendapatkan tiga bintang dalam setiap levelnya, dan itu bukanlah saya karena saya hanya penyuka Angry Birds sebagai pembunuh waktu saja.

Yang tertarik bagi saya adalah mengapa ada tokoh burung yang begitu bencinya terhadap babi..? Apakah yang melatarbelakangi kebencian itu sehingga segala cara dilakukan hanya untuk membunuh sang babi (dan kelompoknya)..?

Pertanyaan saya ini terjawab saat mana saya memerhatikan film singkat awal dari game ini.

Diceritakan bahwa keluarga burung sedang bersuka cita atas beberapa telur yang mereka miliki. Kegembiraan keluarga burung ini begitu terlihat dari ekspresi wajah yang dilukiskan dalam film tersebut.

Kegembiraan mereka ternyata tidak berlangsung lama. Sekelompok babi merebut telur-telur mereka dan melarikan diri ke “sarang”-nya. Sarang babi digambarkan mempunyai kemampuan perlidungan yang sangat kuat dan canggih. Para babi digambarkan mengeluarkan ekspresi yang mengejek para burung. Mereka sangat percaya diri untuk berlindung dalam bangunan rumahnya tersebut.

Disinilah awal cerita dari game ini bermula. Keluarga burung bertekad memburu para babi tadi, dan karena babi-babi gendut itu bersembunyi dalam rumahnya maka segala cara dilakukan oleh para burung. Ada yang hanya mengandalkan benturan saja dan hanya mengakibatkan dinding kayu rumah hancur. Selain kayu maka ia tidak dapat berbuat banyak, dan burung ini adalah burung kecil yang berwarna merah.

Ada yang mampu menghancurkan dinding yang terbuat dari es, sekaligus dapat membelah diri saat diangkasa menjadi tiga agar daya hantamnya bisa merusak lebih banyak lagi dinding es. Ini adalah burung berwarna biru dan bertubuh kecil.

The Angry Birds

The Angry Birds: pencurian telur oleh kelompok babi.

Ada jenis lainnya, yaitu burung berwarna putih bertubuh besar. Ia mempunyai kemampuan membawa bom, dan tugasnya adalah menjatuhkan bom di tempat tertentu untuk menghancurkan benda apa saja yang terkena ledakannya. Ada juga burung yang berwarna kuning dan mampu terbang dengan kecepatan tinggi untuk menembus beberapa dinding kayu sekaligus. Daya tembusnya cukup hebat.

Burung hitam, ia mampu menghancurkan dinding kayu dan kemudian… meledakkan diri..!!! Ledakannya mampu menghancurkan benda yang ada di sekelilingnya.

Tanpa bermaksud lebay, saya melihat ada keserupaan kondisi antara game Angry Birds (yang mungkin hanya sekedar game) dan kenyataan dalam kehidupan.

Dalam suatu adegan kehidupan, yang banyak terjadi dimana-mana, sekelompok manusia mempunyai kebahagiaan. Kebahagiaan ini kemudian terengut oleh ulah sekelompok manusia lainnya. Kebahagiaan itu tercuri dengan cara yang licik dan kemudian kelompok pencuri ini berlari bersembunyi.

Eh, bukan bersembunyi, tetapi justru menampakkan diri… dari balik bangunan kokoh yang dianggap tidak akan mampu ditembus oleh para pemilik sebenarnya dari barang yang mereka ambil. Para pencuri ini tertawa mengejek sambil selalu ketakutan.

Mengapa ketakutan..? Toh mereka sudah bersembunyi di bangunan yang sangat kokoh..?

Mereka “wajib” takut karena kelompok yang tercuri kebahagiaannya ini adalah kelompok yang militan. Mereka selalu berusaha untuk mendapatkan kebahagiaannya kembali… dengan berbagai cara, at all cost.

Setiap serangan yang mereka lakukan adalah serangan yang menyebabkan kematian. Apakah serangan itu berupa hantaman biasa ataupun dengan membawa bahan peledak, yaitu bom. Nyawa adalah taruhan dalam setiap serangan.

Dengan melihat dari perspektif perjuangan Angry Birds dalam usaha merebut kembali telur-telur mereka yang dicuri, mereka adalah para pahlawan bagi keluarga dan kelompoknya.

Tetapi bagaimana dengan anggapan para babi pencuri telur-telur burung..?

Para babi ini tentunya akan mengganggap para burung adalah teroris. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, teroris adalah “orang yg menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut”.

Dari perspektif para babi: kelompok babi adalah yang merasa selalu takut, mereka selalu bersembunyi. Sedangkan para burung adalah para teroris, yang selalu membuat kelompok babi ketakutan.

Bagaimana dari perspektif kelompok burung..? Siapakah teroris sesungguhnya..?

Pesan moral dari games ini adalah: janganlah membunuh babi karena para burunglah yang akan menghabisinya…

: )

Advertisements

Mau tahu rasa kotoran babi..?

February 19, 2012 2 comments

Survey Campillos

Survey di pedesaan Campillos

Merasakan makanan yang mengandung daging babi (mungkin) anda pernah. Tetapi merasakan kotoran babi..? Tidak semua orang, sekalipun penikmat babi, pernah mendapat kesempatan untuk merasakannya…! Saya termasuk kelompok yang sangat jarang itu.

KKN di daerah pertanian yang banyak terdapat peternakan babi memang mempunyai risiko yang besar. Risiko ini memang hanya untuk orang-orang “yang beruntung” mengalami hal yang tidak bisa ditolak lagi.

Kelompok tugas lapangan saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Salah satu aktivitas kami di lapangan adalah melihat kedalaman top soil dari beberapa titik sample yang sudah ditentukan.

Yang ditentukan adalah lokasi field-nya, sedangkan posisi titik yang harus diambil sample-nya terserah pada kami. Kami dapat menentukan sesuai dengan “buku manual” yang telah disiapkan. Yang menjadi konsentrasi kami adalah top soil pada lokasi dimana tanaman zaitun dan sunflower berada.

Bor tanah adalah senjata kami. Setelah titik ditentukan maka kami bergantian menggunakan bor. Berganti saat mengebor tanah memang tampaknya harus dilakukan, ini dikarenakan permukaan tanah memang sangat keras. Pemberian air untuk melunakkan titik pengeboran cukup membantu, namun itu berarti mengurangi jatah minum kami di tengah padang yang panasnya selalu mencapai 40 derajat Celsius.

Pada kedalaman tertentu pengeboran kami hentikan. Di bagian batang bor terdapat tanah dimana kami melakukan pengukuran mengenai tekstur, dan lain-lain.

Satu siang, kami mencapai lokasi pengeboran dan kami segera melakukan sesuai petunjuk pelaksanaan. Setelah titik terpilih, dan kami berikan air sedikit untuk memudahkan masuknya mata bor, bergantilah kami ngebor titik tersebut. Agak aneh karena di tanah ini terlihat agak gembur seolah baru saja disiram hujan. Beda dengan field sebelumnya.

Berhubung grup saya terdiri dari lima orang dimana dua diantaranya perempuan, maka tiga tersisalah yang selalu bertugas dalam pengeboran.

soil-testing

soil testing with probe (illustration)

Kedalaman sudah sesuai dan segera kami melakukan investigasi. Tekstur, warna, dan lain-lain selesai. Bagian akhir adalah… merasakannya… Ya, merasakan rasa tanah tersebut. Caranya adalah dengan menempelkan tanah pada indera pengecap kita, tentunya. Bagian ini adalah bagian yang paling tidak diinginkan, kami saling menolak dan menyodorkan ke yang lain. Biasanya, kesepakatan akhir adalah kami merasakan bersama-sama. Itulah kesepakatan yang terjadi untuk titik ini juga. Kami akan melakukan semua, merasakan tanah sample kami.

Satu, dua, tiga… dan semua merasakan tanah di indera perasa masing-masing.

Selesai, kami catat, dan segera membereskan peralatan dan buku untuk segera menuju ke titik yang lain.

Saat berjalan keluar dari field, kami melihat sebuah traktor dengan petani yang sedang mengoperasikannya. Traktor tersebut sedang menyemprotkan pupuk cair dari container di belakang traktor. Bau menyengat segera terasa. Bau yang selalu mengganggu kami karena terasa dari tempat kami menginap di desa Campillos. Bau dari peternakan babi…! Kami segera “membahas” bau ini dan…

Yup, benar, kesimpulan kami sama, sang petani sedang menyiramkan kotoran babi sebagai pupuk tanaman di padang zaitun ini untuk memperkaya zat organik pada top soil.

Eh… di padang zaitun ini..???

Artinya… tanah yang kami rasakan tadi, yang agak basah tadi, juga baru saja disemprot oleh pupuk nonkimia dari peternakan babi..???

Yeaaach…!!! Mau…???

%d bloggers like this: