Archive

Posts Tagged ‘anak’

Anda Membayar atau Membeli Sekolah?

September 12, 2012 4 comments

Tidak semua dapat dibeli.

Tidak semua dapat dibeli.

Pertengahan tahun ini, awal bulan Juli 2012, saat sedang berkegiatan, saya mendengar berita yang serupa dari dua rekan saya. Yang satu seorang bapak, dan lainnya seorang ibu. Dalam waktu yang relatif bersamaan, siang hari, keduanya mendapat kabar bahwa anak mereka masing-masing gagal masuk ke sekolah SMP Negeri. Tentunya ini bukanlah berita yang menyenangkan.

Keduanya juga mendapat kabar bahwa sang anak, pada sekolah SMP yang berbeda itu, dapat masuk dengan prosedur khusus, yaitu memberi imbalan pada oknum sekolah tersebut dengan sejumlah uang. Berita ini sangat menggoda bagi orang tua yang sedang galau seperti kedua rekan saya tersebut. Ini juga bukan berita yang menyenangkan, pastinya.

Siang itu, kedua rekan saya dengan tegas menampik “jalur alternatif” yang ditawarkan, dan memilih untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta, karena memang tidak ada kesempatan lagi untuk masuk ke sekolah Negeri.

Alhamdulillah, saya begitu kagum sekaligus lega mendengarnya.

Apa hubungannya dengan saya? Toh mengusahakan sekolah bagi anak, dan di sekolah yang terbaik, adalah salah satu kewajiban orang tua? Dan jika anak rekan saya bisa masuk ke sekolah idamannya justru bisa membuat hepi semua?

Saya bersyukur karena rekan saya ternyata masih mampu membayar untuk sekolah anaknya, tetapi tidak mampu untuk membelikan anaknya sekolah.

Jalur alternatif melalui oknum sekolah untuk memasukkan sang anak ke sekolah tersebut jelaslah praktik membeli sekolah. Anak bisa dimasukkan sekolah dengan mengeluarkan segepok rupiah, selesai.

Saya meyakini, sekali kita, sebagai orang tua atau yang dituakan, melakukan hal pembelian sekolah seperti itu, maka selamanya akan tertanam dipikiran si anak bahwa semua dapat dibeli. Tidak hanya untuk masuk sekolah tetapi juga untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tidak perlu belajar sungguh-sungguh, cukup dengan menyediakan bingkisan yang bernilai tertentu untuk sang guru maka nilai baik pun sudah ditangan.

Praktik membeli sekolah seperti ini sudah ada sejak jaman dahulu, sejak sekolah didirikan dan ada diantara punggawanya yang menjadikan sekolah sebagai pencarian nafkah.

Saya masih yakin, pembaca tulisan ini dan juga guru atau punggawa sekolah masih banyak yang tidak melakukan pembelian sekolah untuk anak-anak kita.

Tetapi jika ternyata anda melakukannya untuk anak anda, artinya itulah saat dimana anda mematikan salah satu hal sensitif yang ada di anak anda: fair play. Suatu yang sepertinya mustahil dibangkitkan lagi kelak.

Mari kita hindari praktik membeli sekolah, jangan demi gengsi anda, tapi demi anak kita sendiri.

: )

Advertisements
Categories: Warung Kopi Tags: ,

Menjadikan Hormat atau Takut

August 21, 2012 Leave a comment

hormattakutkid

Sumber: MyKidsMyChoice.com

Saat kita ditakuti atau dihormati adalah posisi dimana perlakuan orang lain terhadap diri kita terlihat serupa. Tetapi kita tahu bahwa kedua kelakuan tersebut mempunyai arti yang sangat berbeda. Perbedaan arti keduanya sangatlah jauh walaupun, sekali lagi, perbuatan yang terlihat hampir sama atau serupa.

Tanpa perlu jauh-jauh, kita bisa lihat ke lingkungan terdekat kita, dalam keluarga.

Saat si anak akan melakukan kesalahan atau perbuatan tidak baik maka pengasuh (bisa siapa saja) cenderung memudahkan larangan dengan mengatasnamakan sesuatu yang ditakuti oleh si anak tersebut.

“Anto, jangan makan sambil tiduran..! Nanti dimarah Ibu..!”

Pada kalimat larangan diatas jelas bahwa pesan tersebut mengatasnamakan “Ibu” sebagai orang yang ditakuti oleh Anto. Kemarahan Ibu segera terbayang di pikiran Anto sehingga ia memikir ulang apakah berani melawan marahan Ibunya atau tidak. Jika ia berani, maka perbuatan “makan sambil tiduran” tetap dilaksanakan. Tetapi jika ia tidak berani akan marahan ibunya nanti, maka ia segera mengurungkan perbuatannya.

Tetapi jika kalimat larangan tadi diubah menjadi:

“Anto, jangan makan sambil tiduran, nanti kamu bisa tersedak, tenggorokan akan terasa sakiiit…”

Reaksi anak cenderung akan memikirkan akibat dari perbuatannya. Jika ia belum pernah merasakan, maka ia dapat mengabaikan larangan tadi. Tetapi jika ia sudah pernah merasakan tersedak, tentunya ia segera berpikir bahwa tersedak itu sangat tidak enak, dan ia akan mengurungkan perbuatannya. Disini anak akan merasa dihormati karena tidak ada yang harus ditakuti, dan diberikan pilihan sesuai dengan kondisi yang akan dialaminya sendiri.

Contoh lain adalah, misalnya, saat anak tidak mau belajar. Banyak pengasuh atau pendamping (sekali lagi, pengasuh bisa siapa saja) yang memberi ancaman.

“Anto, ayo segera matikan TV dan belajar. Sebentar lagi Ayah datang, Kalau lihat kamu masih nonton TV Ayah pasti marah”.

“Ayah” menjadi bahan untuk menakuti si anak agar segera mematikan TV dan belajar. Anak akan menganggap kemarahan akan segera muncul saat mana ia masih nonton TV ketika ayahnya pulang. Rasa takutlah yang akan muncul dan menjadi pendorong untuk mematikan TV dan memulai belajar. Apa yang terjadi jika sang Ayah sedang dalam tugas kerja dan beberapa hari tidak di rumah..? Apakah si anak mau untuk tertib waktu dan belajar dengan benar..?

Kebiasaan kita untuk memberi penekanan “takut” daripada “hormat” pada orang lain, khususnya anak atau adik kita sendiri, memang suatu yang terlalu sering terjadi. Kita lupa atau tidak mau repot untuk memberi pengertian tentang larangan atau anjuran atas sesuatu. Sangatlah gampang hanya dengan mengatasnamakan sesuatu yang ditakuti oleh obyek kita, sehingga kita bisa segera lepas tangan dengan harapan “masalah segera selesai”.

Memberi pengertian akan “substansi” dari larangan atau anjuran memang memerlukan energi (baca: usaha) yang lebih. Kadang memang tidak ampuh untuk menyegerakan keinginan kita terlaksana. Tetapi kebiasaan ini akan tertanam pada obyek kita tersebut untuk selalu melihat “takut” dan “tidak takut”. Hal ini, kemudian, akan sangat tergantung pada keberadaan “yang ditakuti”.

Seandainya kita mau sedikit saja menerangkan akan tujuan larangan atau anjuran kita, tentunya dengan gaya bahasa masing-masing, maka obyek kita akan merasa dihormati. Penghormatan akan dirinya sendiri untuk memilih. Dan hal ini sangat tidak tergantung keberadaan siapapun kecuali tanggungjawab akan dirinya sendiri dalam melaksanakan sesuatu.

“Anto” akan makan dengan posisi yang baik, ia tidak akan makan dalam posisi tiduran dimanapun ia berada, atau dimanapun Ibunya berada.

“Anto” pun akan senantiasa mematikan TV dan belajar jika memang waktunya ia belajar, tanpa perlu menunggu kedatangan dan kemarahan ayahnya.

Penghormatan akan diri sendiri jauh lebih kuat dan “kekal” dibandingkan dengan rasa takut karena ancaman pihak lain. Dan hal ini akan menjadi pola pikir positif dari anak, adik, atau bahkan diri kita sendiri saat mana melakukan aktivitas dimanapun kita berada.

Dan dalam suatu unit keluarga pengertian antara Ayah dan Ibu akan pemahaman “hormat” dan “takut” ini tentunya harus seirama, agar semua yang ada dalam keluarga tersebut dapat terjangkiti semangat positif yang sama pula.

Bisa kita mulai sekarang..?

: )

———-

Artikel ini adalah repost dari Kompasiana 29 Desember 2010.

Categories: Warung Kopi Tags:
%d bloggers like this: