Wisata Sekolah Bersyarat

May 15, 2015 2 comments

Berita Mingguan dari Sekolah

Berita Mingguan dari Sekolah

Edaran sekolah, lembar dijital ini selalu hadir pada Jumat sore melalui email kesemua inbox orang tua murid. Isinya adalah mengenai kegiatan sekolah yang sedang dan akan dilakukan. Satu kali datang edaran mingguan dari Sekolah krucil yang masih di SMP (kelas delapan) memberitakan mengenai rencana wisata sekolah ke suatu tempat hiburan di Cedar Point (Oklahoma), suatu tempat keramaian sejenis Dunia Fantasi Ancol, yang terkenal akan “roller coaster”-nya.

Rencana ini adalah tawaran rekreasi khusus untuk murid kelas delapan. Akan dilaksanakan pada akhir semester, atau setelah semua ujian selesai. Tempat yang cukup jauh (tiga jam perjalanan via highway) dan berada di negara bagian lain. Wisata ini akan dikawal oleh tim guru dan menggunakan bus khusus yang disewa sekolah.

Bagi saya rencana kegiatan ini tiada bedanya dengan acara yang pernah anak-anak saya alami saat di Bogor. Mereka pernah pergi ke beberapa tempat keramaian/rekreasi dan dengan prosedur yang sama. Tetapi… tentunya ada perbedaan, bukan acaranya tetapi prosedurnya.

Berbiaya mahal dan solusinya

Karena Cedar Point merupakan salah satu tempat rekreasi besar di Amerika, tentunya biaya masuk dan lain sebagainya mahal. Belum lagi ditambah dengan ongkos perjalanan (sewa kendaraan) dengan jarak yang jauh. Untuk perjalanan ini biaya yang diperlukan per siswa adalah USD70. Bagi saya tentunya sangat mahal.

Sekolah rupanya telah mengantisipasi keberatan dari para orang tua murid. Kebijakan yang mereka tempuh adalah: bagi yang mampu silakan bayar penuh, selesai perkara. Sedangkan bagi yang tidak mampu (berkeberatan) ada tiga pilihan yaitu pertama membayar sebagian dimuka dan sisanya dicicil beberapa kali. Kedua, membayar hanya sebagian, dan sisanya ditanggung oleh sekolah. Dan yang ketiga, tidak membayar sama sekali karena sekolah yang akan menanggung semua.

Suatu kondisi yang menyenangkan semua pihak, karena memang sekolah telah mengantisipasi hal ini terjadi. Sedangkan orang tua tidak merasa dibebani karena diberi opsi yang banyak. ūüėÄ

Satu lagi, orang tua diwanti-wanti untuk membawakan bekal makanan bagi anaknya, dan membawakan uang tidak lebih dari USD25. ūüôā

Hanya yang memenuhi syarat

Siswa yang dibolehkan pergi hanyalah yang memenuhi syarat. Ada dua syarat utama, yaitu mempunyai nilai pelajaran yang bagus dan tidak sedang dalam hukuman sekolah.

Berhubung pemberitahuan kegiatan ini jauh-jauh hari (2-3 bulan sebelum), maka bagi siswa yang berminat tentunya sudah harus mempersiapkan diri: nilai harus baik dan tidak dalam hukuman.

Suatu syarat yang sangat lunak, sebenarnya, tetapi cukup membuat dorongan siswa untuk dapat mencapainya. Lunak..? Ya, karena logikanya adalah dengan mengikuti pelajaran secara normal maka akan didapat nilai yang bagus, dan dengan menjaga kelakuan secara standar saja maka tidak akan ada hukuman dari sekolah.

Dua hal diatas cukup menginspirasi saya untuk suatu kegiatan serupa, dimasa yang akan datang…

Atau anda mau mencoba..? ūüôā

*/ : )

Advertisements
Categories: Dikdasmen Tags: , , , ,

Mendebat Tisu Kamar Mandi

March 9, 2015 2 comments

Mari berdebat.

Mari berdebat.

Topik apa yang menarik untuk diperdebatkan di sekolah menengah atas? Tentang pemanfaatan dana anggaran pemerintah? Tentang etika para wakil rakyat di parlemen? Tentang naik-turunnya harga bensin?  Ah, tak usah jauh-jauh, mari berdebat tentang tisu kamar mandi.

Bagi anda yang memakai tisu di kamar mandi pastilah pernah menghadapi pertanyaan, yang mungkin tidak pernah ditanyakan ke orang lain: Bagaimana memasang tisu dengan benar? Apakah sisi tisu yang dikupas diletakkan di bagian dalam atau bagian luar dari tempatnya?

Seorang guru di high school mengajak anak didiknya untuk berdebat mengenai cara yang dianggap paling benar meletakkan tisu. Topik yang sangat sederhana tetapi cukup membuat kening berkerut dan memaksa dikeluarkannya teori mekanika, fisika, biologi dan juga berlandaskan etika sehari-hari dari para pesertanya.

Ada yang mau mencoba di kelasnya? ūüėÄ

*/ : )

‚ÄĒ‚Äď

Posting ini terkait dengan tema blog di c2america.wordpress.com.

Categories: Dikdasmen, Warung Kopi Tags: , ,

Nilai-Nilai Pendidikan di Amerika

March 8, 2015 Leave a comment

... body, mind, and spirit.

… body, mind, and spirit.

Setiap negara mempunyai kebijakan akan penyelenggaraan kependidikan di tempatnya masing-masing. Begitu pula di Amerika yang mempunyai nilai-nilai dalam penyelenggaraan dan berlaku secara umum di semua negara bagiannya. Yang dimaksud dengan penyelenggaraan disini adalah untuk tingkat “wajib belajar” yaitu dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Beberapa nilai-nilai tersebut untuk sekolah negeri (public school) adalah sebagai berikut:

  • Pendidikan umum diselenggarakan tanpa dipungut biaya. Tidak dibolehkan memungut biaya kepada masyarakat dengan dalih untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
  • Adanya kesetaraan dalam pelaksanaannya. Tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan suku, agama, dan status ekonomi.
  • Sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan keagamaan dan/atau kepercayaan. Sekolah menerima semua murid dari agama apapun. Tidak diperbolehkan memaksakan pembacaan kitab suci tertentu, kecuali sekolah khusus agama.
  • Sekolah negeri dikontrol oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dewan pendidikan tingkat pusat ataupun daerah memberikan masukan tetapi tidak mengendalikan penyelenggaraan kegiatan di sekolah. Kegiatan sekolah sepenuhnya dalam kendali sekolah yang bersangkutan karena dianggap lebih tahu kondisi daerah setempat.
  • Sekolah adalah wajib bagi semua penduduk pada usia antara 7 dan 16 tahun. Orang tua diharuskan¬†menyekolahkan anak-anaknya.
  • Penyelenggaraan sekolah haruslah diperkaya oleh hal lain dan tidak hanya diberikan materi¬†yang mendasar saja. Hal ini untuk menyeimbangkan pertumbuhan badan, pikiran, dan jiwa. Olah raga, kegiatan sosial, dan kegiatan seni kreatif adalah bagian dari pendidikan. Sekolah harus memerhatikan potensi terbaik dari masing-masing anak didiknya.

Ada beberapa kesamaan dengan di Indonesia, antara lain adalah wajib belajar bagi anak-anak dari sekolah dasar hingga menengah atas. Perbedaan juga terlihat jelas seperti misalnya pembiayaan dimana di tanah air belum disemua wilayah¬†gratis untuk dikdasmen, dan biaya siluman yang menyertainya. ūüôā

Pelajaran agama tidak diajarkan di public school karena Amerika memang tidak mendasarkan negaranya pada agama tertentu. Dari yang saya tahu (melalui anak-anak saya di Middle School dan High School), yang lebih ditekankan adalah pendidikan budi pekerti, seperti bagaimana menghargai orang lain (teman ataupun guru) dalam berinteraksi ataupun dalam semangat kerjasama tim.

Untuk agama atau kepercayaan diserahkan pada orang tua masing-masing, dimana mereka dapat menyekolahkan/mengikutsertakan anak-anaknya pada kegiatan di gereja, masjid, vihara, atau yang lainnya.

*/ : )

‚ÄĒ‚Äď

Posting ini terkait dengan tema blog di c2america.wordpress.com.

The Singapore Statement on Research Integrity

November 9, 2014 Leave a comment

Singapore Statement on Research Integrity

Singapore Statement on Research Integrity

Prinsip-prinsip dan tanggung jawab yang ditetapkan dalam Pernyataan Singapura pada Integritas Penelitian (Singapore Statement on Research Integrity) merupakan upaya internasional pertama yang mendorong pengembangan terpadu kebijakan, pedoman dan kode etik, dengan tujuan jangka panjang pembinaan integritas yang lebih besar dalam penelitian di seluruh dunia.

Empat prinsip dasar:

  • Kejujuran ‚Ä©dalam ‚Ä©seluruh ‚Ä©aspek ‚Ä©penelitian
  • Akuntabilitas ‚Ä©dalam‚Ä© pelaksanaan‚Ä© penelitian
  • Kesopanan ‚Ä©dan‚Ä© keadilan‚Ä© profesional ‚Ä©dalam‚Ä© bekerja‚Ä© dengan‚Ä© orang ‚Ä©lain
  • Penatalaksanaan‚Ä© penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©baik ‚Ä©atas ‚Ä©nama ‚Ä©orang ‚Ä©lain

14 tanggung jawab:

  1. Integritas:‚Ä© Peneliti‚Ä© harus ‚Ä©bertanggung jawab ‚Ä©atas ‚Ä©keterpercayaan ‚Ä©penelitian ‚Ä©mereka.
  2. 
Kepatuhan 
terhadap 
Peraturan: Peneliti
 harus menyadari 
dan 
menaati 
semua 
peraturan 
dan 
kebijakan menyangkut 
penelitian.
  3. 
Metodologi
 Penelitian: Peneliti
 harus 
menggunakan 
metodologi 
penelitian 
yang 
tepat, 
mendasarkan
 kesimpulan
 pada 
analisis 
yang 
kritis 
terhadap 
bukti 
dan
 temuan 
laporan 
dan 
interpretasi 
secara 
menyeluruh
 dan
 obyektif.
  4. 
Catatan 
Penelitian: Peneliti
 harus 
menyimpan
 catatan
 yang 
jelas 
dan
 akurat 
tentang 
semua 
penelitian
 sedemikian 
rupa 
sehingga 
memungkinkan
 verifikasi 
dan
 replikasi 
atas 
pekerjaan
 mereka 
oleh 
pihak 
lain.
  5. ‚Ä©Temuan‚Äźtemuan‚Ä© Penelitian: Peneliti‚Ä© harus ‚Ä©berbagi‚Ä©¬†data ‚Ä©dan ‚Ä©temuan ‚Ä©secara ‚Ä©terbuka ‚Ä©dan ‚Ä©seketika, ‚Ä©segera‚Ä©¬†setelah‚Ä© mereka‚Ä©mempunyai‚Ä© kesempatan ‚Ä©untuk‚Ä©¬†menetapkan ‚Ä©prioritas ‚Ä©dan ‚Ä©klaim ‚Ä©kepemilikan.
  6. 
Kepengarangan:
 Peneliti
 harus 
bertanggung jawab
 atas 
kontribusi
 mereka 
dalam 
semua 
publikasi,
 permohonan 
dana,
laporan
 dan 
representasi
 lain 
dari
 penelitian 
mereka. Daftar
 penulis
 harus 
mencakup 
semua
 dan 
hanya 
mereka 
yang
memenuhi
 kriteria
 kepengarangan
 yang 
berlaku.
  7. ‚Ä©Pengakuan‚Ä© Publikasi: Peneliti‚Ä© harus ‚Ä©mengakui‚Ä© dalam‚Ä©¬†publikasinya ‚Ä©nama‚Äźnama‚Ä© dan‚Ä© peran‚Ä© dari ‚Ä©mereka‚Ä© yang‚Ä©¬†memberikan‚Ä©kontribusi‚Ä© signifikan ‚Ä©pada ‚Ä©penelitian,‚Ä©¬†termasuk ‚Ä©penulis,‚Ä© penyandang‚Ä© dana, ‚Ä©sponsor, ‚Ä©dan ‚Ä©pihak‚Äźpihak ‚Ä©lain yang‚Ä© tidak‚Ä©memenuhi‚Ä© kriteria ‚Ä©kepengarangan.
  8. 
Tinjauan
 Sejawat: Peneliti
 harus 
memberikan
 evaluasi
 yang 
tepat 
waktu 
dan 
ketat 
dan 
menghormati
 kerahasiaan 
ketika
meninjau
 pekerjaan
 orang 
lain.
  9. 
Benturan 
Kepentingan: Peneliti
 harus 
mengungkapkan
 masalah
 keuangan
 dan 
benturan 
kepentingan 
lain 
yang
 dapat
mengompromikan
 keterpercayaan
 pekerjaan
 mereka
 dalam
 proposal
 penelitian, 
publikasi
 dan
 komunikasi
 publik 
serta 
dalam
 seluruh 
kegiatan
 peninjauan.
  10. 
Komunikasi 
Publik: Peneliti 
harus 
membatasi komentar
 profesional 
pada 
keahlian 
mereka 
yang 
diakui ketika 
terlibat 
dalam 
diskusi 
publik 
mengenai
 penerapan dan 
pentingnya 
temuan 
penelitian 
dan 
dengan 
jelas membedakan
 komentar 
profesional 
dari 
opini 
yang didasarkan 
pada 
pandangan
 pribadi.
  11. ‚Ä©Melaporkan ‚Ä©Praktik‚Äźpraktik ‚Ä©Penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©Tidak¬†Bertanggungjawab:¬†Peneliti ‚Ä©harus ‚Ä©melaporkan ‚Ä©kepada ‚Ä©pihak‚Ä© yang ‚Ä©berwenang¬†setiap‚Ä©dugaan‚Ä© pelanggaran ‚Ä©penelitian, ‚Ä©termasuk¬†kebohongan, ‚Ä©pemalsuan ‚Ä©atau‚Ä© plagiarisme ‚Ä©dan ‚Ä©praktik‚Äźpraktik‚Ä© penelitian‚Ä© yang ‚Ä©tidak bertanggung jawab‚Ä© lainnya¬†yang ‚Ä©mendasari ‚Ä©keterpercayaan ‚Ä©dari ‚Ä©penelitian, ‚Ä©misalnya¬†kecerobohan, ‚Ä©pembuatan ‚Ä©daftar ‚Ä©penulis ‚Ä©yang ‚Ä©tidak ‚Ä©tepat,¬†tidak ‚Ä©melaporkan‚Ä© data ‚Ä©yang ‚Ä©bertentangan‚Ä© atau¬†penggunaan‚Ä© metoda ‚Ä©analitis ‚Ä©yang ‚Ä©tidak ‚Ä©benar.
  12. ‚Ä©Menanggapi‚Ä© Penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©Tidak¬†Bertanggungjawab¬†Praktik‚Äźpraktik: Lembaga‚Äźlembaga‚Ä© penelitian‚Ä© serta ‚Ä©jurnal,¬†organisasi ‚Ä©profesional‚Ä©dan‚Ä© agensi ‚Ä©yang ‚Ä©mempunyai¬†komitmen‚Ä© pada ‚Ä©penelitian,‚Ä© harus ‚Ä©memiliki ‚Ä©prosedur¬†untuk ‚Ä©memberi‚Ä© tanggapan‚Ä© terhadap ‚Ä©dugaan‚Ä©pelanggaran¬†dan ‚Ä©praktik‚Äźpraktik ‚Ä©penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©tidak¬†bertanggungjawab ‚Ä©lainnya‚Ä© dan ‚Ä©untuk ‚Ä©melindungi‚Ä© mereka¬†yang ‚Ä©melaporkan‚Ä©perbuatan‚Ä© tersebut‚Ä© dengan‚Ä© itikad‚Ä© baik.¬†Setelah‚Ä© pelanggaran ‚Ä©atau ‚Ä©praktik ‚Ä©penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©tidak¬†bertanggungjawab ‚Ä©ditetapkan, ‚Ä©tindakan‚Ä©yang‚Ä© tepat ‚Ä©harus¬†segera‚Ä© diambil, ‚Ä©termasuk ‚Ä©memperbaiki‚Ä© catatan‚Ä© penelitian.
  13. ‚Ä©Lingkungan‚Ä© Penelitian: Lembaga‚Äźlembaga‚Ä© penelitian¬†harus ‚Ä©menciptakan ‚Ä©dan ‚Ä©mempertahankan ‚Ä©lingkungan¬†yang ‚Ä©mendorong ‚Ä©integritas‚Ä©melalui‚Ä© pendidikan,‚Ä© kebijakan¬†yang ‚Ä©jelas ‚Ä©dan ‚Ä©standar‚Ä© yang ‚Ä©wajar ‚Ä©untuk ‚Ä©peningkatan,¬†pada ‚Ä©saat ‚Ä©yang ‚Ä©sama ‚Ä©membina‚Ä© lingkungan ‚Ä©kerja‚Ä©yang¬†mendukung ‚Ä©integritas ‚Ä©penelitian.
  14. ‚Ä©Pertimbangan ‚Ä©kemasyarakatan: Peneliti ‚Ä©serta¬†lembaga ‚Ä©penelitian ‚Ä©harus‚Ä© mengakui‚Ä© bahwa‚Ä© mereka¬†memiliki‚Ä© kewajiban ‚Ä©etis ‚Ä©untuk‚Ä©menimbang ‚Ä©manfaat¬†kemasyarakatan‚Ä© terhadap ‚Ä©risiko‚Äźrisiko ‚Ä©yang ‚Ä©terkandung¬†dalam‚Ä© pekerjaan ‚Ä©mereka.

Singapore Statement diatas dihasilkan oleh 340 peserta dari 51 negara yang berpartisipasi dalam 2nd World Conference on Research Integrity yang meliputi researchers, founders, representatives of research institutions (universities and research institutes) dan research publishers. Dipublikasi pada 22 Desember 2010.

Sumber: Singapore Statement on Research Integrity. Salinan dokumen dapat diunduh dengan klik disini.

Sheryl Sandberg: Why We Have too Few Women Leaders

October 17, 2014 Leave a comment

Sheryl Sandberg, seorang COO (Chief Operating Officer) Facebook, berbicara mengenai kurangnya pemimpin perempuan yang ada saat ini. Terlepas dari isi yang disampaikan, yang menarik saya perhatikan adalah bagaimana dia menyampaikan gagasannya dengan cara presentasi yang memukau.

Setiap detik gerakan dan intonasi kata/kalimatnya di atas panggung menjadi bahan telaah dalam memperlajari/studi cara presentasi yang baik di kelas. Setiap murid diminta pendapat sekaligus menirukan gerakan tubuh yang mendukung dalam penyampaian substansi setiap kata dan kalimat.

Silakan menyimak video tersebut, dan selamat belajar presentasi. ūüôā

‚ÄĒ‚Äď

Ikuti lebih lanjut di-tag: Seri Presentasi.

Wajib Minimal Jam Belajar Mahasiswa Dalam Seminggu

October 10, 2014 Leave a comment

Jam Belajar Mahasiswa

Jam Belajar Mahasiswa

Berapa jam¬†waktu belajar mahasiswa dalam seminggu..? Bagaimana kita mengetahuinya..? Hal ini menjadi pertimbangan utama saat mana seorang mahasiswa memulai semesternya atau yang sudah “terlanjur” ambil jumlah SKS tertentu.

Dosen saya mewanti-wanti hal ini dengan mengatakan bahwa minimal alokasi waktu belajar dalam seminggu harus ditepati. Ini adalah batasan standar untuk pemahaman yang standar juga. Jadi kalau mau yang diatas standar maka tambah waktu belajarmu. (… baiklah Prof… ūüėÄ )

Bagaimana menghitung waktu minimal ini..?

Formulasi sederhana adalah demikian: Jumlah Jam Belajar = (Jumlah SKS) + 2 * (Jumlah SKS)

Kenapa nggak ditulis saja 3 * (Jumlah SKS)..? Pengertiannya begini,

  • “Jumlah SKS” yang pertama adalah yang dilakukan di kelas (tatap muka dengan dosen) atau yang dilakukan melalui kuliah daring (kuliah online, maksudnya).
  • Sedangkan perkalian 2 * (Jumlah SKS) adalah waktu diluar hal pertama tadi.

Jadi, seandainya jumlah SKS yang diambil berjumlah 12 SKS, maka minimal alokasi waktu belajar dalam seminggu adalah 12 + 2 * 12 = 36 jam. Jika direratakan dengan asumsi satu hari libur belajar adalah enam jam dalam sehari khusus untuk belajar.

Apakah belajar hanya didepan buku atau di dalam perpustakaan atau di dalam laboratorium..? Ya nggak lah. Diskusi pelajaran dengan teman saat jalan ke Mal, atau saat makan bareng, atau saat di pinggir danau/sungai sambil menikmati alam juga bisa masuk dalam jam belajar tadi.

Gampang kan… : )

Categories: Dalam Kelas Tags: , , ,

Yang Dilakukan Saat Mengawali Presentasi

September 28, 2014 Leave a comment

Sumber gambar: cisolutions.co.uk.

Sumber gambar: cisolutions.co.uk.

Apa yang sebaiknya kita lakukan dalam mengawali presentasi..? Awal presentasi dapat menentukan apakah hadirin akan tertarik, bosan sebelum mulai, atau justru semangat.

Beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan adalah sebagai berikut:

  • Sampaikan pada hadirin mengenai keberadaan handouts. Jika ada handouts¬†yang dibagikan sebelum dimulai adalah lebih baik, sehingga hadirin bisa membuat catatan khusus/tambahan pada tiap slide yang kita paparkan. Jika diberikan pada akhir presentasi, maka katakan langsung pada hadirin agar mereka tidak terlalu sibuk menyalin slide anda.
  • Jangan pernah meminta maaf pada hadirin mengenai betapa kompleks masalah yang akan anda terangkan. Tugas anda adalah menyampaikan dengan baik dan membuat hadirin memahami. Bukanlah membuat hadirin bertambah bingung.
  • Terkadang anda¬†mempunyai waktu yang sangat singkat dalam mempersiapkan presentasi. Sekalipun demikian, janganlah disampaikan pada hadirin. Hal ini sama saja mengatakan: “presntasi saya adalah buruk dan asal-asalan”, dan hal ini dapat membuat hadirin tidak berminat mengikuti presentasi anda.
  • Berikan kepastian (atau bahkan pilihan) pada hadirin apakah mereka dapat bertanya pada saat anda presentasi atau pertanyaan diutarakan saat presentasi usai. Hal ini terkait dengan waktu yang tersedia.
  • Perkenalkan latar belakang profesi anda jika anda berhadapan dengan hadirin yang tidak mengenal anda. Jika hadirin telah mengenal anda (misal: di depan kelas sendiri) maka hal ini tidak perlu dilakukan.
  • Lama presentasi akan memengaruhi harapan hadirin. Jika presentasi kita lebih dari sepuluh menit maka sebaiknya diberitahukan langsung, tetapi jika kurang dari itu maka tidak perlu diutarakan.
  • Sebaiknya lakukan pembukaan dengan menyampaikan hal yang lucu atau humor, tetapi¬†tetap terkait dengan topik presentasi anda. Ingat, jangan melemparkan humor yang bersifat menyerang siapapun yang kemudian dapat membangkitkan rasa antipati pada anda.

Mari dicoba… : )

—–

Ikuti lebih lanjut di-tag: Seri Presentasi.

%d bloggers like this: