Archive

Archive for the ‘Warung Kopi’ Category

UN yang Jujur

April 3, 2016 Leave a comment

image

UN tahun 2016 diwarnai dengan “kampanye putih” tentang kejujuran. Siswa diharapkan menjunjung tinggi kejujuran saat melaksanakan Ujian Nasional. Hanya untuk siswa sajakah kejujuran di UN..?

Secara umum, UN mempunyai tiga komponen dalam pelaksanaannya, yaitu: siswa, guru (pihak sekolah), dan orang tua. Ketiganya adalah komponen utama dalam pelaksanaan UN dan tentu saling terkait.

Kejujuran apa yang diharapkan dari ketiganya?

Dari siswa, tentunya ini adalah hal teknis yang sangat mendasar yaitu “tidak mencontek”. Percaya pada diri sendiri dalam mengerjakan soal-soal yang ada. Mengabaikan semua hal yang menawarkan solusi jalan pintas (kuncinjawaban dari teman, guru, ataupun bimbel) misalnya.

Dari guru atau pihak sekolah, adalah penentu nilai secara umum atas semua hasil yang diraih oleh siswa selama ia menempuh sekolahnya. Jangan sampai ada permufakatan internal untuk bermain dengan nilai demi peringkat dan gengsi sekolah. Jangan ada pemberitahuan jawaban di papan tulis (atau dalam bentuk lain) pada sebelum dan saat UN berlangsung.

Dari pihak orang tua adalah kejujuran dalam berharap pada anak-anaknya. Masing-masing anak punya kemampuan berbeda dan hal ini terbentuk tidak instan hanya satu hari. Beranikah jujur terhadap anak sendiri?

Secara umum kampanye oleh Kemendikbud adalah sangat baik. Tetapi siswa bukanlah satu-satunya obyek sasaran. Hendaknya juga dikampanyekan untuk Ortu dan guru sekolah hal yang sama.

Ohya, satu lagi, perlu juga dikampanyekan pada pemerintah daerah terkait, yaitu kepala daerah (biasanya pada tingkatan Bupati/Wali kota) dan jajaran “Dinas Pendidikan”-nya. Karena pernah ada kasus dimana kepala daerah mengeluarkan pernyataan semua sekolah SMA di wilayahnya harus lulus 100% dengan sangsi untuk Kepsek jika tidak terpenuhi. Pernyataan yang mengganggu kinerja jujur para guru dan Kepsek tentunya.

Tiga komponen utama pelaksana UN diatas hendaknya berpikir jernih bahwa nilai tidak menggambarkan keberhasilan pendidikan. Sekian tahun pendidikan janganlah dihancurkan hanya dengan 1-2 hari pada pelaksanaan UN.

Jangan sampai siswa (dan juga guru dan Ortu) hancur moral kejujurannya demi hal yang “remeh temeh”.

Oke deeh, berani jujur kan?

Kejujuran dimiliki oleh semua orang, hanya yang berani menunjukkannya ialah juaranya!

Selamat menjalankan UN..!

ūüôā

Sejauh Mana Kamu Kenali Anakmu

February 19, 2016 Leave a comment

How well...

How well…

 

Sejauh mana kamu mengenali anakmu? Suatu senarai pertanyaan yang ditujukan pada orang tua dari guru pelajaran Biologi (bab¬†sex education) di grade 8 anak saya, yang harus dijawab. Judul senarai ini “How Well Do You Know Your Son or Daughter?”

Ini semacam quiz penyegaran bagi orang tua terhadap anaknya, dan juga bagi si anak terhadap orang tuanya. Karena si anak juga mendapat senarai pertanyaan yang serupa mengenai orang tuanya, atau orang dewasa yang tinggal bersamanya, dengan judul: “How Well Do You Know Your Parents?”

Mengapa saya katakan penyegaran? Karena pertanyaan-pertanyaannya sangat mendasar yang sering kali membuat kita (baik ortu maupun si anak) tertegun dan nggak bisa menjawab seketika. Misalnya pada pertanyaan untuk ortu: Siapakah penyanyi favorit anakmu? Ortu mana yang tau..? ūüėÄ

Nah bagaimana teknis pengerjaan senarai pertanyaan tersebut? Anak menjawab lembar bagiannya, dan pada waktu bersamaan ortu mengerjakan bagiannya sendiri. Setelah selesai, segera ngobrol membahas jawabannya, dengan santai tentunya. Jangan ada yang tersinggung walau apapun jawaban kedua belah pihak.

Kesalahan menjawab dalam jumlah sedikit akan menandakan kedekatan kita terhadap anak/ortu. Sebaliknya, jika jawaban banyak yang salah maka harus ada perbaikan hubungan kedua belah pihak.

Jangan sampai ortu merasa paling benar saat jawaban si anak lebih banyak salah dibandingkan dirinya. Toh, jika si anak menjawab lebih banyak salah, berarti sang ortu juga mempunyai kekurangan dalam mendidik dan juga kurangnya kebersamaan sehari-hari.

Saya sertakan salinan senarai pertanyaan ini, dalam format pdf, yang saya tulis ulang dari lembar aslinya. Mohon dicermati bahwa beberapa pertanyaan sangat tidak cocok jika diterapkan di Indonesia.

Ada yang mau mencoba? Sila unduh dengan klik disini.

Semoga berguna.

*/ : )

‚ÄĒ‚Äď

Posting ini terkait dengan tema blog di c2america.wordpress.com.

Categories: Warung Kopi Tags: , , ,

Pola Berpikir Strata Pendidikan

February 7, 2016 Leave a comment

Pola berpikir strata pendidikan.

Pola berpikir strata pendidikan.

Dalam tingkatan pendidikan, masing-masing murid mempunyai beban atau tantangan berpikir yang berbeda. Sedekat yang saya pahami, saya menggambarkan dalam bentuk seperti gambar diatas.

Strata-1 atau tingkatan sarjana

Dengan waktu belajar normal empat tahun, atau ya… mentok-mentok enam tahun, maka secara umum yang dipelajari adalah hal yang luas pada bidang masing-masing. Tugas akhir yang dilakukan¬†adalah pengerjaan suatu proses (sebut saja: metodologi), terlepas dari metodologi itu sudah sempurna atau belum. Saya menggambarkan sebagai piramida terbalik. Berangkat dari pemikiran yang sempit (titik) kemudian melebar (menjadi garis) diakhir sekolahnya. Yang dikerjakan buanyaak… menjadi alasan untuk nggak kelar-kelar… ūüėÄ

Strata-2 atau tingkatan pascasarjana (master)

Waktu belajar adalah 1 hingga 2 tahun, pada umumnya. Saya menggambarkan dalam bentuk trapesium. Berangkat dari pemikiran yang rada lebar untuk menghasilkan tulisan akhir masalah yang lebih sempit. Mengapa dalam gambar adalah dua trapesium yang berlawanan bentuk? Maksudnya adalah murid memulai studi dengan bekal yang sudah ada walaupun nggak terlalu banyak, kemudian menyempit ruang pemahamannya. Tetapi yang dikerjakan terbalik, kadang kala terpaksa melakukan kajian yang lebih lebar dari pemahamannya. ūüėÄ

Strata-3 atau tingkatan pascasarjana doktoral

Tingkatan ini biasanya dilalui dengan rentang waktu empat hingga enam tahun, bahkan delapan tahun, walau pada beberapa kasus ada yang hanya tiga setengah tahun selesai (seperti kata pak menteri ūüėČ ). Murid doktoral memulai studinya dengan bekal yang sangat baik, dan luas cakupannya. Seiring berjalannya waktu maka semua semakin menyempit ¬†dan fokus, hingga akhirnya adalah satu titik saja.

Semua strata ini¬†tentunya¬†ada fungsinya, sehingga tidak ada yang dilebihkan atau dikurangkan. Tidak ada yang bisa menyombongkan diri sekalipun ia sudah menjadi doktor, karena doktor itu sebenarnya ya tahunya setitik doang kok…

ūüėÄ

Selamatkan Skripsi Mu Sebelum Terlambat

January 10, 2016 Leave a comment

#SaveSkripsi

#SaveSkripsi

Skripsi, thesis, atau disertasi adalah “barang keramat” bagi mahasiswa tahap akhir yang akan menyelesaikan kuliahnya. Pada era digital ini semua bentuk dokumen tersebut adalah dalam bentuk file yang tersimpan di laptop atau komputer. Sudahkah kita peduli keamanannya?

Pentingnya keamanan file ini (sebut saja skripsi) tidak selalu membuat pemiliknya peduli akan keselamatannya. Seringkali berita kehilangan dokumen ini (beserta laptopnya) beredar di sekitar kita. Tidak hanya kehilangan tetapi juga kerusakan file menjadi salah satu kehancuran harapan dalam menyelesaikan kuliah sesuai jadwal.

Bagaimana menyelamatkan skripsi mu? Banyak cara yang bisa dilakukan. Berikut adalah beberapa diantaranya.

A. Gandakan file ditempat terpisah.

  1. Gunakan media penyimpan terpisah.
    Untuk mengantisipasi kerusakan pada hard disk atau struktur file pada hard disk di laptop/PC maka jangan ragu untuk menggunakan media penyimpan lain. Copy-kan skripsimu pada media penyimpan lain selain disimpan di laptop/PC setiap kali selesai melakukan pengeditan/penambahan tulisan. Media ini adalah hard disk tambahan (external hard disk). Jangan gunakan flash disk karena flash disk hanyalah untuk penyimpanan sementara dan rentan kerusakan. Simpan media ini ditempat terpisah, jangan satukan dengan tas laptop mu. Mengapa? Jika laptop berpindah pemilik (hilang atau dipindah paksa) maka dokumen mu masih ada copy-nya.
    .
  2. Manfaatkan media penyimpan daring.
    Manfaatkan layanan cloud yang saat ini banyak ditawarkan. Pilih yang mempunyai layanan yang baik dan terpercaya. Gandakan skripsimu di penyimpan daring seperti Google Drive (pemilik akun Google pastilah punya akses ini), atau OneDrive (pengguna akun Microsoft), atau Box (box.net, free), atau Dropbox (free), dan masih banyak lagi. Perhatikan kuota yang diberikan oleh masing-masing layanan, dan masa berlakunya.

B. Gunakan nama file yang baik

  1. Beri nama file dengan nama yang baik.
    Penamaan hendaknya sesuai dengan isi atau tema. Jangan beri nama diluar konteks. Penamaan akan mempermudah pencarian kelak.
    Contoh nama file yang baik: Skripsi_Bab-1.docx.
    Contoh nama yang buruk: Hanya_kamu_1.docx.
    .
  2. Gunakan nama yang spesifik.
    Saat menggandakan file, gunakan nama baru yang mengidentifikasi tanggal penyimpanan atau perubahan terakhir. Mengapa harus nama baru? Akan dijelaskan nanti.
    Contoh nama untuk penggandaan: Skripsi_Bab-1_20151110.docx dimana 20151110 artinya adalah dokumen ini disimpan pada tanggal 10 November 2015.
    .
Hati-hati dalam memilih penyimpan dokumen.

Hati-hati dalam memilih penyimpan dokumen.

.

C. Lakukan backup, jangan synchronize

Bedakan penyimpanan dengan modus backup dan synchronize. Perhatikan perbedaannya dibawah ini:

  • Modus¬†backup adalah menyimpan pada durasi waktu atau kondisi tertentu dengan tetap mempertahankan file yang lama. Untuk itu setiap penyimpanan baru harus menggunakan nama baru dan spesifik.
    Keuntungan modus ini adalah perubahan dokumen dapat ditelusuri, dan jika ada materi terkini yang akan dikembalikan pada pembahasan sebelumnya maka dapat dilakukan dengan mudah yaitu dengan membuka dan meng-copy-kan dari dokumen yang lama.
    Kerugiannya adalah file menjadi banyak jumlahnya. Tetapi kerugian ini tak sebanding dengan keuntungan yang dapat dimanfaatkan.
    Contohnya adalah:

    • Penyimpanan pertama pada 10 November 2015 dengan nama: Skripsi_Bab-1_20151110.docx
    • Penyimpanan kedua pada 15 November 2015 dengan nama: Skripsi_Bab-1_20151115.docx
    • dan seterusnya…
      .
  • Modus¬†synchronize adalah menyimpan pada durasi waktu atau kondisi tertentu dengan menimpa (over write) file lama.
    Keuntungannya adalah file yang tersimpan adalah hanya file terbaru.
    Kerugiannya adalah tidak bisa ditelusuri perubahan yang telah ada, dan tidak bisa dicek kembali bahasan yang telah lalu tetapi diperlukan saat ini. Satu lagi, jika file secara tidak sengaja terdelete dari komputer maka file yang berada di-cloud akan terdelete juga.
    Contohnya adalah:

    • Penyimpanan pertama dengan nama Skripsi_Bab-1.docx
    • Penyimpanan kedua dengan nama Skripsi_Bab-1.docx (sama namanya, sehingga menimpa yang lama).

Pada layanan penyimpanan daring seperti Google Drive, OneDrive, dan lainnya, mereka mempunyai perangkat lunak tambahan untuk melakukan modus synchronize ini secara otomatis. Jika modus ini bukan pilihan maka jangan lupa matikan (atau uninstall saja) perangkat lunak synchronize tersebut diatas.

Sangat disarankan untuk menggunakan modus backup, dengan tetap meng-copy-kan secara manual dan dengan penamaan yang khusus seperti dijelaskan diatas.

#SaveSkripsi dengan sedikit usaha tambahan maka akan menyelamatkan jadwal waktu ujian akhir atau sidang mu.

Semoga bermanfaat…

ūüôā

Mendebat Tisu Kamar Mandi

March 9, 2015 2 comments

Mari berdebat.

Mari berdebat.

Topik apa yang menarik untuk diperdebatkan di sekolah menengah atas? Tentang pemanfaatan dana anggaran pemerintah? Tentang etika para wakil rakyat di parlemen? Tentang naik-turunnya harga bensin?  Ah, tak usah jauh-jauh, mari berdebat tentang tisu kamar mandi.

Bagi anda yang memakai tisu di kamar mandi pastilah pernah menghadapi pertanyaan, yang mungkin tidak pernah ditanyakan ke orang lain: Bagaimana memasang tisu dengan benar? Apakah sisi tisu yang dikupas diletakkan di bagian dalam atau bagian luar dari tempatnya?

Seorang guru di high school mengajak anak didiknya untuk berdebat mengenai cara yang dianggap paling benar meletakkan tisu. Topik yang sangat sederhana tetapi cukup membuat kening berkerut dan memaksa dikeluarkannya teori mekanika, fisika, biologi dan juga berlandaskan etika sehari-hari dari para pesertanya.

Ada yang mau mencoba di kelasnya? ūüėÄ

*/ : )

‚ÄĒ‚Äď

Posting ini terkait dengan tema blog di c2america.wordpress.com.

Categories: Dikdasmen, Warung Kopi Tags: , ,

Nilai-Nilai Pendidikan di Amerika

March 8, 2015 Leave a comment

... body, mind, and spirit.

… body, mind, and spirit.

Setiap negara mempunyai kebijakan akan penyelenggaraan kependidikan di tempatnya masing-masing. Begitu pula di Amerika yang mempunyai nilai-nilai dalam penyelenggaraan dan berlaku secara umum di semua negara bagiannya. Yang dimaksud dengan penyelenggaraan disini adalah untuk tingkat “wajib belajar” yaitu dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Beberapa nilai-nilai tersebut untuk sekolah negeri (public school) adalah sebagai berikut:

  • Pendidikan umum diselenggarakan tanpa dipungut biaya. Tidak dibolehkan memungut biaya kepada masyarakat dengan dalih untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
  • Adanya kesetaraan dalam pelaksanaannya. Tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan suku, agama, dan status ekonomi.
  • Sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan keagamaan dan/atau kepercayaan. Sekolah menerima semua murid dari agama apapun. Tidak diperbolehkan memaksakan pembacaan kitab suci tertentu, kecuali sekolah khusus agama.
  • Sekolah negeri dikontrol oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dewan pendidikan tingkat pusat ataupun daerah memberikan masukan tetapi tidak mengendalikan penyelenggaraan kegiatan di sekolah. Kegiatan sekolah sepenuhnya dalam kendali sekolah yang bersangkutan karena dianggap lebih tahu kondisi daerah setempat.
  • Sekolah adalah wajib bagi semua penduduk pada usia antara 7 dan 16 tahun. Orang tua diharuskan¬†menyekolahkan anak-anaknya.
  • Penyelenggaraan sekolah haruslah diperkaya oleh hal lain dan tidak hanya diberikan materi¬†yang mendasar saja. Hal ini untuk menyeimbangkan pertumbuhan badan, pikiran, dan jiwa. Olah raga, kegiatan sosial, dan kegiatan seni kreatif adalah bagian dari pendidikan. Sekolah harus memerhatikan potensi terbaik dari masing-masing anak didiknya.

Ada beberapa kesamaan dengan di Indonesia, antara lain adalah wajib belajar bagi anak-anak dari sekolah dasar hingga menengah atas. Perbedaan juga terlihat jelas seperti misalnya pembiayaan dimana di tanah air belum disemua wilayah¬†gratis untuk dikdasmen, dan biaya siluman yang menyertainya. ūüôā

Pelajaran agama tidak diajarkan di public school karena Amerika memang tidak mendasarkan negaranya pada agama tertentu. Dari yang saya tahu (melalui anak-anak saya di Middle School dan High School), yang lebih ditekankan adalah pendidikan budi pekerti, seperti bagaimana menghargai orang lain (teman ataupun guru) dalam berinteraksi ataupun dalam semangat kerjasama tim.

Untuk agama atau kepercayaan diserahkan pada orang tua masing-masing, dimana mereka dapat menyekolahkan/mengikutsertakan anak-anaknya pada kegiatan di gereja, masjid, vihara, atau yang lainnya.

*/ : )

‚ÄĒ‚Äď

Posting ini terkait dengan tema blog di c2america.wordpress.com.

The Singapore Statement on Research Integrity

November 9, 2014 Leave a comment

Singapore Statement on Research Integrity

Singapore Statement on Research Integrity

Prinsip-prinsip dan tanggung jawab yang ditetapkan dalam Pernyataan Singapura pada Integritas Penelitian (Singapore Statement on Research Integrity) merupakan upaya internasional pertama yang mendorong pengembangan terpadu kebijakan, pedoman dan kode etik, dengan tujuan jangka panjang pembinaan integritas yang lebih besar dalam penelitian di seluruh dunia.

Empat prinsip dasar:

  • Kejujuran ‚Ä©dalam ‚Ä©seluruh ‚Ä©aspek ‚Ä©penelitian
  • Akuntabilitas ‚Ä©dalam‚Ä© pelaksanaan‚Ä© penelitian
  • Kesopanan ‚Ä©dan‚Ä© keadilan‚Ä© profesional ‚Ä©dalam‚Ä© bekerja‚Ä© dengan‚Ä© orang ‚Ä©lain
  • Penatalaksanaan‚Ä© penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©baik ‚Ä©atas ‚Ä©nama ‚Ä©orang ‚Ä©lain

14 tanggung jawab:

  1. Integritas:‚Ä© Peneliti‚Ä© harus ‚Ä©bertanggung jawab ‚Ä©atas ‚Ä©keterpercayaan ‚Ä©penelitian ‚Ä©mereka.
  2. 
Kepatuhan 
terhadap 
Peraturan: Peneliti
 harus menyadari 
dan 
menaati 
semua 
peraturan 
dan 
kebijakan menyangkut 
penelitian.
  3. 
Metodologi
 Penelitian: Peneliti
 harus 
menggunakan 
metodologi 
penelitian 
yang 
tepat, 
mendasarkan
 kesimpulan
 pada 
analisis 
yang 
kritis 
terhadap 
bukti 
dan
 temuan 
laporan 
dan 
interpretasi 
secara 
menyeluruh
 dan
 obyektif.
  4. 
Catatan 
Penelitian: Peneliti
 harus 
menyimpan
 catatan
 yang 
jelas 
dan
 akurat 
tentang 
semua 
penelitian
 sedemikian 
rupa 
sehingga 
memungkinkan
 verifikasi 
dan
 replikasi 
atas 
pekerjaan
 mereka 
oleh 
pihak 
lain.
  5. ‚Ä©Temuan‚Äźtemuan‚Ä© Penelitian: Peneliti‚Ä© harus ‚Ä©berbagi‚Ä©¬†data ‚Ä©dan ‚Ä©temuan ‚Ä©secara ‚Ä©terbuka ‚Ä©dan ‚Ä©seketika, ‚Ä©segera‚Ä©¬†setelah‚Ä© mereka‚Ä©mempunyai‚Ä© kesempatan ‚Ä©untuk‚Ä©¬†menetapkan ‚Ä©prioritas ‚Ä©dan ‚Ä©klaim ‚Ä©kepemilikan.
  6. 
Kepengarangan:
 Peneliti
 harus 
bertanggung jawab
 atas 
kontribusi
 mereka 
dalam 
semua 
publikasi,
 permohonan 
dana,
laporan
 dan 
representasi
 lain 
dari
 penelitian 
mereka. Daftar
 penulis
 harus 
mencakup 
semua
 dan 
hanya 
mereka 
yang
memenuhi
 kriteria
 kepengarangan
 yang 
berlaku.
  7. ‚Ä©Pengakuan‚Ä© Publikasi: Peneliti‚Ä© harus ‚Ä©mengakui‚Ä© dalam‚Ä©¬†publikasinya ‚Ä©nama‚Äźnama‚Ä© dan‚Ä© peran‚Ä© dari ‚Ä©mereka‚Ä© yang‚Ä©¬†memberikan‚Ä©kontribusi‚Ä© signifikan ‚Ä©pada ‚Ä©penelitian,‚Ä©¬†termasuk ‚Ä©penulis,‚Ä© penyandang‚Ä© dana, ‚Ä©sponsor, ‚Ä©dan ‚Ä©pihak‚Äźpihak ‚Ä©lain yang‚Ä© tidak‚Ä©memenuhi‚Ä© kriteria ‚Ä©kepengarangan.
  8. 
Tinjauan
 Sejawat: Peneliti
 harus 
memberikan
 evaluasi
 yang 
tepat 
waktu 
dan 
ketat 
dan 
menghormati
 kerahasiaan 
ketika
meninjau
 pekerjaan
 orang 
lain.
  9. 
Benturan 
Kepentingan: Peneliti
 harus 
mengungkapkan
 masalah
 keuangan
 dan 
benturan 
kepentingan 
lain 
yang
 dapat
mengompromikan
 keterpercayaan
 pekerjaan
 mereka
 dalam
 proposal
 penelitian, 
publikasi
 dan
 komunikasi
 publik 
serta 
dalam
 seluruh 
kegiatan
 peninjauan.
  10. 
Komunikasi 
Publik: Peneliti 
harus 
membatasi komentar
 profesional 
pada 
keahlian 
mereka 
yang 
diakui ketika 
terlibat 
dalam 
diskusi 
publik 
mengenai
 penerapan dan 
pentingnya 
temuan 
penelitian 
dan 
dengan 
jelas membedakan
 komentar 
profesional 
dari 
opini 
yang didasarkan 
pada 
pandangan
 pribadi.
  11. ‚Ä©Melaporkan ‚Ä©Praktik‚Äźpraktik ‚Ä©Penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©Tidak¬†Bertanggungjawab:¬†Peneliti ‚Ä©harus ‚Ä©melaporkan ‚Ä©kepada ‚Ä©pihak‚Ä© yang ‚Ä©berwenang¬†setiap‚Ä©dugaan‚Ä© pelanggaran ‚Ä©penelitian, ‚Ä©termasuk¬†kebohongan, ‚Ä©pemalsuan ‚Ä©atau‚Ä© plagiarisme ‚Ä©dan ‚Ä©praktik‚Äźpraktik‚Ä© penelitian‚Ä© yang ‚Ä©tidak bertanggung jawab‚Ä© lainnya¬†yang ‚Ä©mendasari ‚Ä©keterpercayaan ‚Ä©dari ‚Ä©penelitian, ‚Ä©misalnya¬†kecerobohan, ‚Ä©pembuatan ‚Ä©daftar ‚Ä©penulis ‚Ä©yang ‚Ä©tidak ‚Ä©tepat,¬†tidak ‚Ä©melaporkan‚Ä© data ‚Ä©yang ‚Ä©bertentangan‚Ä© atau¬†penggunaan‚Ä© metoda ‚Ä©analitis ‚Ä©yang ‚Ä©tidak ‚Ä©benar.
  12. ‚Ä©Menanggapi‚Ä© Penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©Tidak¬†Bertanggungjawab¬†Praktik‚Äźpraktik: Lembaga‚Äźlembaga‚Ä© penelitian‚Ä© serta ‚Ä©jurnal,¬†organisasi ‚Ä©profesional‚Ä©dan‚Ä© agensi ‚Ä©yang ‚Ä©mempunyai¬†komitmen‚Ä© pada ‚Ä©penelitian,‚Ä© harus ‚Ä©memiliki ‚Ä©prosedur¬†untuk ‚Ä©memberi‚Ä© tanggapan‚Ä© terhadap ‚Ä©dugaan‚Ä©pelanggaran¬†dan ‚Ä©praktik‚Äźpraktik ‚Ä©penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©tidak¬†bertanggungjawab ‚Ä©lainnya‚Ä© dan ‚Ä©untuk ‚Ä©melindungi‚Ä© mereka¬†yang ‚Ä©melaporkan‚Ä©perbuatan‚Ä© tersebut‚Ä© dengan‚Ä© itikad‚Ä© baik.¬†Setelah‚Ä© pelanggaran ‚Ä©atau ‚Ä©praktik ‚Ä©penelitian ‚Ä©yang ‚Ä©tidak¬†bertanggungjawab ‚Ä©ditetapkan, ‚Ä©tindakan‚Ä©yang‚Ä© tepat ‚Ä©harus¬†segera‚Ä© diambil, ‚Ä©termasuk ‚Ä©memperbaiki‚Ä© catatan‚Ä© penelitian.
  13. ‚Ä©Lingkungan‚Ä© Penelitian: Lembaga‚Äźlembaga‚Ä© penelitian¬†harus ‚Ä©menciptakan ‚Ä©dan ‚Ä©mempertahankan ‚Ä©lingkungan¬†yang ‚Ä©mendorong ‚Ä©integritas‚Ä©melalui‚Ä© pendidikan,‚Ä© kebijakan¬†yang ‚Ä©jelas ‚Ä©dan ‚Ä©standar‚Ä© yang ‚Ä©wajar ‚Ä©untuk ‚Ä©peningkatan,¬†pada ‚Ä©saat ‚Ä©yang ‚Ä©sama ‚Ä©membina‚Ä© lingkungan ‚Ä©kerja‚Ä©yang¬†mendukung ‚Ä©integritas ‚Ä©penelitian.
  14. ‚Ä©Pertimbangan ‚Ä©kemasyarakatan: Peneliti ‚Ä©serta¬†lembaga ‚Ä©penelitian ‚Ä©harus‚Ä© mengakui‚Ä© bahwa‚Ä© mereka¬†memiliki‚Ä© kewajiban ‚Ä©etis ‚Ä©untuk‚Ä©menimbang ‚Ä©manfaat¬†kemasyarakatan‚Ä© terhadap ‚Ä©risiko‚Äźrisiko ‚Ä©yang ‚Ä©terkandung¬†dalam‚Ä© pekerjaan ‚Ä©mereka.

Singapore Statement diatas dihasilkan oleh 340 peserta dari 51 negara yang berpartisipasi dalam 2nd World Conference on Research Integrity yang meliputi researchers, founders, representatives of research institutions (universities and research institutes) dan research publishers. Dipublikasi pada 22 Desember 2010.

Sumber: Singapore Statement on Research Integrity. Salinan dokumen dapat diunduh dengan klik disini.

%d bloggers like this: