Archive

Archive for the ‘Siswamaha’ Category

Pola Berpikir Strata Pendidikan

February 7, 2016 Leave a comment

Pola berpikir strata pendidikan.

Pola berpikir strata pendidikan.

Dalam tingkatan pendidikan, masing-masing murid mempunyai beban atau tantangan berpikir yang berbeda. Sedekat yang saya pahami, saya menggambarkan dalam bentuk seperti gambar diatas.

Strata-1 atau tingkatan sarjana

Dengan waktu belajar normal empat tahun, atau ya… mentok-mentok enam tahun, maka secara umum yang dipelajari adalah hal yang luas pada bidang masing-masing. Tugas akhir yang dilakukan adalah pengerjaan suatu proses (sebut saja: metodologi), terlepas dari metodologi itu sudah sempurna atau belum. Saya menggambarkan sebagai piramida terbalik. Berangkat dari pemikiran yang sempit (titik) kemudian melebar (menjadi garis) diakhir sekolahnya. Yang dikerjakan buanyaak… menjadi alasan untuk nggak kelar-kelar… 😀

Strata-2 atau tingkatan pascasarjana (master)

Waktu belajar adalah 1 hingga 2 tahun, pada umumnya. Saya menggambarkan dalam bentuk trapesium. Berangkat dari pemikiran yang rada lebar untuk menghasilkan tulisan akhir masalah yang lebih sempit. Mengapa dalam gambar adalah dua trapesium yang berlawanan bentuk? Maksudnya adalah murid memulai studi dengan bekal yang sudah ada walaupun nggak terlalu banyak, kemudian menyempit ruang pemahamannya. Tetapi yang dikerjakan terbalik, kadang kala terpaksa melakukan kajian yang lebih lebar dari pemahamannya. 😀

Strata-3 atau tingkatan pascasarjana doktoral

Tingkatan ini biasanya dilalui dengan rentang waktu empat hingga enam tahun, bahkan delapan tahun, walau pada beberapa kasus ada yang hanya tiga setengah tahun selesai (seperti kata pak menteri 😉 ). Murid doktoral memulai studinya dengan bekal yang sangat baik, dan luas cakupannya. Seiring berjalannya waktu maka semua semakin menyempit  dan fokus, hingga akhirnya adalah satu titik saja.

Semua strata ini tentunya ada fungsinya, sehingga tidak ada yang dilebihkan atau dikurangkan. Tidak ada yang bisa menyombongkan diri sekalipun ia sudah menjadi doktor, karena doktor itu sebenarnya ya tahunya setitik doang kok…

😀

Tip dan Trik Belajar dengan Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

March 10, 2014 Leave a comment

Jadi Mahasiswa Hi-Tech

Jadi Mahasiswa Hi-Tech

Apakah ponsel cerdas mu sudah tergunakan dengan optimal..? Atau baru pada tahap penggunaan untuk bermain Flappy Bird..?

Ada tip dan trik penggunaan ponsel cerdas (maksudnya: smartphone) untuk mengoptimalkan investasi teknologi ini dalam menunjang perkuliahan kita. Saya menyukai idenya.

Untuk jelasnya silakan langsung berkunjung ke artikel: Menjadi Mahasiswa Hi-Tech, ditulis oleh Endy Muhardin.

*/ : )

Mau tahu rasa kotoran babi..?

February 19, 2012 2 comments

Survey Campillos

Survey di pedesaan Campillos

Merasakan makanan yang mengandung daging babi (mungkin) anda pernah. Tetapi merasakan kotoran babi..? Tidak semua orang, sekalipun penikmat babi, pernah mendapat kesempatan untuk merasakannya…! Saya termasuk kelompok yang sangat jarang itu.

KKN di daerah pertanian yang banyak terdapat peternakan babi memang mempunyai risiko yang besar. Risiko ini memang hanya untuk orang-orang “yang beruntung” mengalami hal yang tidak bisa ditolak lagi.

Kelompok tugas lapangan saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Salah satu aktivitas kami di lapangan adalah melihat kedalaman top soil dari beberapa titik sample yang sudah ditentukan.

Yang ditentukan adalah lokasi field-nya, sedangkan posisi titik yang harus diambil sample-nya terserah pada kami. Kami dapat menentukan sesuai dengan “buku manual” yang telah disiapkan. Yang menjadi konsentrasi kami adalah top soil pada lokasi dimana tanaman zaitun dan sunflower berada.

Bor tanah adalah senjata kami. Setelah titik ditentukan maka kami bergantian menggunakan bor. Berganti saat mengebor tanah memang tampaknya harus dilakukan, ini dikarenakan permukaan tanah memang sangat keras. Pemberian air untuk melunakkan titik pengeboran cukup membantu, namun itu berarti mengurangi jatah minum kami di tengah padang yang panasnya selalu mencapai 40 derajat Celsius.

Pada kedalaman tertentu pengeboran kami hentikan. Di bagian batang bor terdapat tanah dimana kami melakukan pengukuran mengenai tekstur, dan lain-lain.

Satu siang, kami mencapai lokasi pengeboran dan kami segera melakukan sesuai petunjuk pelaksanaan. Setelah titik terpilih, dan kami berikan air sedikit untuk memudahkan masuknya mata bor, bergantilah kami ngebor titik tersebut. Agak aneh karena di tanah ini terlihat agak gembur seolah baru saja disiram hujan. Beda dengan field sebelumnya.

Berhubung grup saya terdiri dari lima orang dimana dua diantaranya perempuan, maka tiga tersisalah yang selalu bertugas dalam pengeboran.

soil-testing

soil testing with probe (illustration)

Kedalaman sudah sesuai dan segera kami melakukan investigasi. Tekstur, warna, dan lain-lain selesai. Bagian akhir adalah… merasakannya… Ya, merasakan rasa tanah tersebut. Caranya adalah dengan menempelkan tanah pada indera pengecap kita, tentunya. Bagian ini adalah bagian yang paling tidak diinginkan, kami saling menolak dan menyodorkan ke yang lain. Biasanya, kesepakatan akhir adalah kami merasakan bersama-sama. Itulah kesepakatan yang terjadi untuk titik ini juga. Kami akan melakukan semua, merasakan tanah sample kami.

Satu, dua, tiga… dan semua merasakan tanah di indera perasa masing-masing.

Selesai, kami catat, dan segera membereskan peralatan dan buku untuk segera menuju ke titik yang lain.

Saat berjalan keluar dari field, kami melihat sebuah traktor dengan petani yang sedang mengoperasikannya. Traktor tersebut sedang menyemprotkan pupuk cair dari container di belakang traktor. Bau menyengat segera terasa. Bau yang selalu mengganggu kami karena terasa dari tempat kami menginap di desa Campillos. Bau dari peternakan babi…! Kami segera “membahas” bau ini dan…

Yup, benar, kesimpulan kami sama, sang petani sedang menyiramkan kotoran babi sebagai pupuk tanaman di padang zaitun ini untuk memperkaya zat organik pada top soil.

Eh… di padang zaitun ini..???

Artinya… tanah yang kami rasakan tadi, yang agak basah tadi, juga baru saja disemprot oleh pupuk nonkimia dari peternakan babi..???

Yeaaach…!!! Mau…???

Valentine’s Days, berhari-hari dengan Valentine

February 15, 2012 2 comments

Campillos

Padang zaitun di Campillos

Valentine’s Day, yang diartikan “hari kasih sayang” sudah jamak diramaikan oleh orang-orang. Yang meramaikan tentunya adalah orang-orang kota atau yang telah terjangkau informasi global via televisi dan internet. Hari “kasih-sayang” inipun semakin membesar setelah industri masuk, dan memang ternyata menjadi hari yang layak jual bagi para penghasil produk tahunan, baik berupa barang ataupun jasa. Arti sesungguhnya dari Valentine’s day itu apa, udah gak perlu dibahas lagi. Begitulah.

Saya pun pernah merasakan hari Valentine, mungkin tepatnya adalah “hari-hari Valentine”. Masa ini saya rasakan saat menjelang akhir dari studi master saya di negeri bawah air laut, Belanda.

Kenapa “hari-hari Valentine” dan bukannya “hari Valentine”..?

Karena saya merasakannya berhari-hari, bukan hanya satu hari saja.

Apakah ini tentang Valentine’s day yang diramaikan khalayak dunia..? Sayang sekali bukan. Ini adalah tentang hari-hari dimana saya “terpaksa” berjalan bersama dengan dosen saya yang bernama Valentine. Cewek..? Bukan juga. Ia seorang dosen cowok.

Pak Valentine saat itu adalah dosen baru. Malahan duluan saya yang masuk daripada dia ke sekolah itu. Ia masih tergolong muda dengan perawakan yang gemuk (maaf, mungkin lebih cocok: bulat). Gaya bicaranya santai, suaranya pelan dan bahkan nyaris tak terdengar. Kalau ia tertawa pasti akan membuat kita juga tertawa. Cukup baik dalam berkomunikasi dengan mahasiswa, walau terkesan pendiam.

Saat yang berkesan adalah saat beliau menjadi pendamping group kami di lapangan. Ini terjadi pada tahun 2003. Kegiatan lapangan yang saya maksud disini adalah semacam kegiatan KKN, atau kuliah kerja nyata. Saat mana para mahasiswa dicampur kemudian diterjunkan ke suatu daerah dan diberi tugas “menyelesaikan masalah” yang ada di daerah tersebut sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Kami dibagi menjadi dua kelompok, dan kelompok saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Saya satu-satunya orang Indonesia dalam kelompok Campillos ini.

Kelompok Campillos ini dibagi lagi menjadi 4 grup, dengan masing-masing grup terdiri dari lima mahasiswa. Pak Valentine menjadi pengawas kelompok kami, termasuk grup saya.

Apa yang unik dari pak Valentine ini..? Ia adalah orang yang selalu membawa buku acuan, buku referensi. Sepanjang kami melintas padang zaitun, padang sunflower, dan padang wheat, ia selalu merujuk pada buku sebagai panduan penjelasannya pada kami.

Begitu juga saat kami melakukan banyak hal terkait dengan pertanian dan spasial. Buku tak pernah lepas dari genggamannya dan juga “sepertinya” dia mengetahui sekali komputer dan internet. Tiap kali kami mencapai basecamp sepulang dari survey pagi dan melepas lelah sambil santap siang, ia selalu mengakses internet dan memberi kami perintah-perintah yang asik punya.

Asik punya disini adalah perintah atau pemberitahuan yang berkesan “kami tidak mengenal IT sama sekali”. Ia memberitahu ini-itu pada saya yang “tidak perlu” sama sekali. Dan perilaku ini juga berlaku saat saya dan grup berada di lapangan. Saat berada di tengah padang zaitun dalam rangka mapping dan pengambilan sample tanah.

Ia selalu menerangkan dengan detil berdasarkan “buku”. Menurut buku, kalau anda melakukan ini maka begini caranya. Menurut buku, kalau melakukan itu maka begitu caranya. Anda harus ini dan itu sesuai dengan buku manual ini. Titik.

Bisa dibayangkan bagaimana situasi lapangan jika dibatasi oleh buku dan buku saja..? Mmm, bagi anda yang belum pernah survey di lapangan mungkin tidak terlalu paham apa yang saya maksudkan, maaf.

Bagi saya, survey lapangan adalah hal yang biasa saya lakukan dalam berbagai jenis kondisi medan. Keberagaman kondisi dan juga situasi yang tidak menentu membuat kita harus bisa berimprovisasi saat melakukan pengukuran ataupun perekaman obyek. Buku adalah acuan ideal tetapi kondisi ideal hampir pasti tidak akan pernah kita temui pada saat survey yang sesungguhnya.

Perbedaan cara pandang dalam perekaman dan pengambilan sample lapangan membuat saya selalu melancarkan protes pada si pak dosen tersebut. Tidak jarang kami beradu argumen. Tidak jarang pula saya bersungut-sungut karena “tidak terima” dengan apa yang digariskan olehnya. Sementara anggota grup lainnya cenderung nrimo. Ehm, ternyata budaya nrimo bukan monopoli suku tertentu saja… : )

Pertentangan di lapangan dan juga saat diskusi di basecamp membuat suasana grup saya tidak terlalu nikmat. Dan ini harus dilalui sepanjang lebih kurang 20 hari, sodara-sodara

Suhu yang sangat panas disiang hari, selalu mencapai 40 derajat Celsius, ikut memanaskan semuanya. Musim panas, yang membuat waktu maghrib menjadi pukul 21:30, ikut menggerahkan perasaan… panas dan gersang…

Benar-benar KKN yang tidak asyik. Eh, nanti dulu, banyak juga asyiknya kok, terutama saat tim bisa melepaskan diri dari pengawasan si bapak dosen itu. Akan saya ceritakan pada waktu lain.

Setiap langkah dari grup kami selalu diganjal oleh buku si pak dosen. Bukan diganjal, mungkin, tetapi lebih tepat dibatasi oleh buku dan buku. Seolah grup kami benar-benar baru pertama kali menginjakkan kaki di alam ini.

Singkat cerita, kamipun selesai dan segera pulang ke desa perbatasan Belanda-Jerman, kota Enschede, dimana sekolah kami berada. Beberapa waktu kemudian kami mendapatkan nilai dari hasil kerja lapangan.

Dan… sayapun mendapat nilai minimal, sedangkan rekan-rekan satu grup lainnya mendapatkan nilai maksimal.

Pelajaran yang saya dapat: “untuk mendapatkan nilai maksimal maka budaya nrimo masih yang terbaik.”

: )

Nikmatnya menjadi aktor sebagai mahasiswa

January 25, 2012 Leave a comment

Sejak mengenal bangku sekolah formal, status saya adalah menjadi murid sekaligus pelajar. Empat belas tahun status tersebut menempel dan segera terlepas saat memasuki bangku perguruan tinggi. Status berubah menjadi “mahasiswa”.

Apa yang membedakan antara pelajar dan mahasiswa..?

Saya nggak tahu perbedaanya, sampai sekarang. Tampaknya sih sama saja. Sama-sama pergi ke satu tempat untuk memperdalam pengetahuan dan menambah teman… hehe…

Tetapi dimata banyak orang ternyata tidak demikian. Ada perbedaan dalam menyikapi kedua status tersebut. Dan tentunya status pelajar “ditempatkan” jauuuh di bawah status mahasiswa. Pelajar adalah “anak kecil”, sedangkan mahasiswa adalah orang-orang pilihan yang luar biasa. Demikiankah..?

Ya, memang demikian. Saat menjadi mahasiswa maka semua omongan saya selalu dianggap, selalu dihargai, dan selalu ditunggu banyak orang di sekeliling saya (yang bukan mahasiswa tentunya). Suara saya adalah suara “maha”, yang selalu benar dan tidak pernah salah. Suara saya adalah kehebatan negeri ini, kehebatan masa depan bangsa.

Saat saya turun ke jalan, ikut dalam barisan demonstrasi, belasan pasang jempol segera terangkat. Kebenaran tengah diusung oleh manusia pilihan harapan bangsa. Suara rakyat tengah digaungkan oleh generasi muda yang hebat. Seandainya saya saat itu ikut dalam barisan terdepan, maka muka saya pastilah terpampang di surat kabar edisi esok harinya dengan gambar semangat yang membara.

Luar biasa…

Tetapi apakah demikian yang saya rasakan dalam hati..?

Apakah saya bagian dari manusia hebat negeri ini yang serba tulus mengusung suara rakyat di tengah jalan..? Apakah saat saya berteriak adalah benar-benar mengeluarkan teriakan hasil dari “sambung-lidah” rakyat negeri ini..? Apakah saya adalah bagian dari kelompok elit yang serba benar dan selalu menyalahkan serta merendahkan pihak lain yang “bukan bagian saya”..?

Mmm… mungkin jawabannya adalah… entahlah.

Biasanya, setelah selesai membual tentang permasalahan negeri ini, ataupun sepulang dari teriak di jalan atau pinggir lapangan basket di kampus, saya selalu merasa betapa b***hnya orang yang menyanjung saya. Betapa mereka tidak mengerti bahwa yang saya bual adalah hal yang sama sekali tidak saya pahami. Kalaupun paham, ehm, kulitnya saja… mungkin…

Saya hanya pede (maaf, bukan nama parpol). Merasa pede dalam bersuara dan mampu mengatur intonasi disertai mengaitkan banyak hal yang terlihat hebat dan masuk akal dalam koridor pemikiran yang saya buat sendiri. Sekalipun yang saya lakukan adalah bukan pada level tinggi yang mampu menarik media cetak ataupun elektronik, tetapi cukup berpengaruh pada lingkungan seputaran tempat kost.

Tetapi memang ini adalah tahap pembelajaran yang penting bagi saya. Bagaimana menjadi pede tidaklah gampang, apalagi merangkai banyak hal dalam satu untaian aksi lisan. Juga tidaklah gampang menjadi pusat perhatian orang sekalipun hanya dalam lingkup obrolan di warung kopi. Menjaga citra sebagai “mahasiswa” yang serba maha sangatlah penting, saat itu…

Sebagian besar aksi saya saat menjadi “aktor” sebagai mahasiswa adalah kenangan yang menarik. Dan hal ini sangat membantu saat saya harus berhadapan dengan rekan-rekan mahasiswa bimbingan saya ataupun saat saya berada di depan kelas saat ini.

Sedikit banyak saya tahu bagaimana menempatkan diri di antara para mahasiswa…

: )

Categories: Siswamaha Tags:
%d bloggers like this: