Archive

Archive for the ‘Luar Kelas’ Category

Yang Dilakukan Saat Mengawali Presentasi

September 28, 2014 Leave a comment

Sumber gambar: cisolutions.co.uk.

Sumber gambar: cisolutions.co.uk.

Apa yang sebaiknya kita lakukan dalam mengawali presentasi..? Awal presentasi dapat menentukan apakah hadirin akan tertarik, bosan sebelum mulai, atau justru semangat.

Beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan adalah sebagai berikut:

  • Sampaikan pada hadirin mengenai keberadaan handouts. Jika ada handouts yang dibagikan sebelum dimulai adalah lebih baik, sehingga hadirin bisa membuat catatan khusus/tambahan pada tiap slide yang kita paparkan. Jika diberikan pada akhir presentasi, maka katakan langsung pada hadirin agar mereka tidak terlalu sibuk menyalin slide anda.
  • Jangan pernah meminta maaf pada hadirin mengenai betapa kompleks masalah yang akan anda terangkan. Tugas anda adalah menyampaikan dengan baik dan membuat hadirin memahami. Bukanlah membuat hadirin bertambah bingung.
  • Terkadang anda mempunyai waktu yang sangat singkat dalam mempersiapkan presentasi. Sekalipun demikian, janganlah disampaikan pada hadirin. Hal ini sama saja mengatakan: “presntasi saya adalah buruk dan asal-asalan”, dan hal ini dapat membuat hadirin tidak berminat mengikuti presentasi anda.
  • Berikan kepastian (atau bahkan pilihan) pada hadirin apakah mereka dapat bertanya pada saat anda presentasi atau pertanyaan diutarakan saat presentasi usai. Hal ini terkait dengan waktu yang tersedia.
  • Perkenalkan latar belakang profesi anda jika anda berhadapan dengan hadirin yang tidak mengenal anda. Jika hadirin telah mengenal anda (misal: di depan kelas sendiri) maka hal ini tidak perlu dilakukan.
  • Lama presentasi akan memengaruhi harapan hadirin. Jika presentasi kita lebih dari sepuluh menit maka sebaiknya diberitahukan langsung, tetapi jika kurang dari itu maka tidak perlu diutarakan.
  • Sebaiknya lakukan pembukaan dengan menyampaikan hal yang lucu atau humor, tetapi tetap terkait dengan topik presentasi anda. Ingat, jangan melemparkan humor yang bersifat menyerang siapapun yang kemudian dapat membangkitkan rasa antipati pada anda.

Mari dicoba… : )

—–

Ikuti lebih lanjut di-tag: Seri Presentasi.

Acara Perpisahan yang Mendidik

June 5, 2013 3 comments

Berpakaian Nasional mendidik untuk mencintai negeri tercinta.

Berpakaian Nasional mendidik untuk mencintai negeri tercinta.

Hari ini saya menyediakan waktu penuh untuk mengikuti acara perpisahan di SMP Negeri 1 Kota Bogor. Anak saya belum lama dinyatakan lulus dari SMP ini dan hari ini adalah saatnya acara perpisahan digelar.

Dari sisi tema, tidak ada yang aneh dari acara ini. Karena intinya sama saja yaitu acara khusus terakhir yang melibatkan semua siswa (yang telah dinyatakan lulus), orang tua siswa, dan jajaran pengajar di sekolah yang bersangkutan. Acara pun dilakukan standar yaitu di satu gedung, dengan isi acara adalah sambutan berbagai pihak, pentas seni, dan prosesi pelepasan siswa.

Tetapi setelah saya ikuti detil dari awal, banyak hal yang menarik terjadi di acara ini. Antara lain adalah:

  • Awal acara, dimulai dengan lantunan ayat suci dan kemudian lagu mars sekolah.
  • Pakaian. Para murid diwajibkan berpakaian nasional, dimana siswa putri memakai kebaya dan siswa putra memakai jas. Tidak ada gaya Eropa yang biasanya ditiru dengan pakaian bertoga. Banyak sekolah yang niru-niru gaya bertoga, aneh, niru dari mana ya… hehehe…
  • Prosesi pelepasan siswa. Acara ini sangat kental dengan adat Sunda. Tarian dan semua tata cara sangat kedaerahan. Tidak semua siswa SMP ini berasal nenek-moyang dari Bogor atau wilayah Sunda, tetapi semua menikmati prosesi ini dengan khidmat. Demikian juga para orang tua siswa.
  • Lelagu Indonesia. Mungkin sekitar 90% lelagu yang dinyanyikan, baik sebagai pentas ataupun suara latar belakang adalah lagu daerah dan lagu Indonesia. Tidak terdengar lelagu asing versi “duduk-gembira” yang sedang digandrungi para ABG saat ini. Kontras dengan “kejiwaan” para siswa yang sedang menjalani masa ABG.

Setidaknya itulah beberapa hal yang saya nikmati hari ini. Untuk sekolah dengan “pergaulan internasional”, peristiwa ini sangat elok untuk dialami dalam dunia pendidikan anak. Pencapaian nilai pelajaran rerata tertinggi sewilayah Kota, prestasi ekskul yang menasional dan regional, bukan menjadi alasan untuk melupakan komponen pendidikan cinta tanah air dan mengurangi kebiasaan “nyontek budaya asing” yang gak genah.

Tidaklah berlebihan jika saya melihat hal ini sebagai pendidikan praktis yang diterapkan pada siswa “justru” saat mereka dilepas untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Saya yakin hal ini juga dilakukan oleh banyak sekolah lain di Indonesia, tidak hanya di kota Bogor. Saya tak henti berharap semoga pendidikan praktis yang membumi seperti ini terus dikembangkan oleh sekolah umum ataupun khusus (terutama yang berlabel “IT”).

Ohya, ada satu hal yang saya rasa kurang (atau terlupa oleh tim pengarah/panitia?) dari peristiwa perpisahan hari ini: tidak adanya lagu Indonesia Raya.

: )

Categories: Luar Kelas Tags:

Valentine’s Days, berhari-hari dengan Valentine

February 15, 2012 2 comments

Campillos

Padang zaitun di Campillos

Valentine’s Day, yang diartikan “hari kasih sayang” sudah jamak diramaikan oleh orang-orang. Yang meramaikan tentunya adalah orang-orang kota atau yang telah terjangkau informasi global via televisi dan internet. Hari “kasih-sayang” inipun semakin membesar setelah industri masuk, dan memang ternyata menjadi hari yang layak jual bagi para penghasil produk tahunan, baik berupa barang ataupun jasa. Arti sesungguhnya dari Valentine’s day itu apa, udah gak perlu dibahas lagi. Begitulah.

Saya pun pernah merasakan hari Valentine, mungkin tepatnya adalah “hari-hari Valentine”. Masa ini saya rasakan saat menjelang akhir dari studi master saya di negeri bawah air laut, Belanda.

Kenapa “hari-hari Valentine” dan bukannya “hari Valentine”..?

Karena saya merasakannya berhari-hari, bukan hanya satu hari saja.

Apakah ini tentang Valentine’s day yang diramaikan khalayak dunia..? Sayang sekali bukan. Ini adalah tentang hari-hari dimana saya “terpaksa” berjalan bersama dengan dosen saya yang bernama Valentine. Cewek..? Bukan juga. Ia seorang dosen cowok.

Pak Valentine saat itu adalah dosen baru. Malahan duluan saya yang masuk daripada dia ke sekolah itu. Ia masih tergolong muda dengan perawakan yang gemuk (maaf, mungkin lebih cocok: bulat). Gaya bicaranya santai, suaranya pelan dan bahkan nyaris tak terdengar. Kalau ia tertawa pasti akan membuat kita juga tertawa. Cukup baik dalam berkomunikasi dengan mahasiswa, walau terkesan pendiam.

Saat yang berkesan adalah saat beliau menjadi pendamping group kami di lapangan. Ini terjadi pada tahun 2003. Kegiatan lapangan yang saya maksud disini adalah semacam kegiatan KKN, atau kuliah kerja nyata. Saat mana para mahasiswa dicampur kemudian diterjunkan ke suatu daerah dan diberi tugas “menyelesaikan masalah” yang ada di daerah tersebut sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Kami dibagi menjadi dua kelompok, dan kelompok saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Saya satu-satunya orang Indonesia dalam kelompok Campillos ini.

Kelompok Campillos ini dibagi lagi menjadi 4 grup, dengan masing-masing grup terdiri dari lima mahasiswa. Pak Valentine menjadi pengawas kelompok kami, termasuk grup saya.

Apa yang unik dari pak Valentine ini..? Ia adalah orang yang selalu membawa buku acuan, buku referensi. Sepanjang kami melintas padang zaitun, padang sunflower, dan padang wheat, ia selalu merujuk pada buku sebagai panduan penjelasannya pada kami.

Begitu juga saat kami melakukan banyak hal terkait dengan pertanian dan spasial. Buku tak pernah lepas dari genggamannya dan juga “sepertinya” dia mengetahui sekali komputer dan internet. Tiap kali kami mencapai basecamp sepulang dari survey pagi dan melepas lelah sambil santap siang, ia selalu mengakses internet dan memberi kami perintah-perintah yang asik punya.

Asik punya disini adalah perintah atau pemberitahuan yang berkesan “kami tidak mengenal IT sama sekali”. Ia memberitahu ini-itu pada saya yang “tidak perlu” sama sekali. Dan perilaku ini juga berlaku saat saya dan grup berada di lapangan. Saat berada di tengah padang zaitun dalam rangka mapping dan pengambilan sample tanah.

Ia selalu menerangkan dengan detil berdasarkan “buku”. Menurut buku, kalau anda melakukan ini maka begini caranya. Menurut buku, kalau melakukan itu maka begitu caranya. Anda harus ini dan itu sesuai dengan buku manual ini. Titik.

Bisa dibayangkan bagaimana situasi lapangan jika dibatasi oleh buku dan buku saja..? Mmm, bagi anda yang belum pernah survey di lapangan mungkin tidak terlalu paham apa yang saya maksudkan, maaf.

Bagi saya, survey lapangan adalah hal yang biasa saya lakukan dalam berbagai jenis kondisi medan. Keberagaman kondisi dan juga situasi yang tidak menentu membuat kita harus bisa berimprovisasi saat melakukan pengukuran ataupun perekaman obyek. Buku adalah acuan ideal tetapi kondisi ideal hampir pasti tidak akan pernah kita temui pada saat survey yang sesungguhnya.

Perbedaan cara pandang dalam perekaman dan pengambilan sample lapangan membuat saya selalu melancarkan protes pada si pak dosen tersebut. Tidak jarang kami beradu argumen. Tidak jarang pula saya bersungut-sungut karena “tidak terima” dengan apa yang digariskan olehnya. Sementara anggota grup lainnya cenderung nrimo. Ehm, ternyata budaya nrimo bukan monopoli suku tertentu saja… : )

Pertentangan di lapangan dan juga saat diskusi di basecamp membuat suasana grup saya tidak terlalu nikmat. Dan ini harus dilalui sepanjang lebih kurang 20 hari, sodara-sodara

Suhu yang sangat panas disiang hari, selalu mencapai 40 derajat Celsius, ikut memanaskan semuanya. Musim panas, yang membuat waktu maghrib menjadi pukul 21:30, ikut menggerahkan perasaan… panas dan gersang…

Benar-benar KKN yang tidak asyik. Eh, nanti dulu, banyak juga asyiknya kok, terutama saat tim bisa melepaskan diri dari pengawasan si bapak dosen itu. Akan saya ceritakan pada waktu lain.

Setiap langkah dari grup kami selalu diganjal oleh buku si pak dosen. Bukan diganjal, mungkin, tetapi lebih tepat dibatasi oleh buku dan buku. Seolah grup kami benar-benar baru pertama kali menginjakkan kaki di alam ini.

Singkat cerita, kamipun selesai dan segera pulang ke desa perbatasan Belanda-Jerman, kota Enschede, dimana sekolah kami berada. Beberapa waktu kemudian kami mendapatkan nilai dari hasil kerja lapangan.

Dan… sayapun mendapat nilai minimal, sedangkan rekan-rekan satu grup lainnya mendapatkan nilai maksimal.

Pelajaran yang saya dapat: “untuk mendapatkan nilai maksimal maka budaya nrimo masih yang terbaik.”

: )

Kabur dari Kampus

January 10, 2012 2 comments

MITIPB_GunungMas_10Jan2009

Bermain di Perkebunan Teh Gunung Mas Cisarua.

Sabtu itu, akhirnya, terjadi juga. Saya dan rekan-rekan mahasiswa cabut dari kampus dan keluyuran ke daerah Puncak. Dengan berkendara “angkot” dan tidak lupa membawa persenjataan lapangan, tentunya.

Tanpa rencana matang, saya mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk bermain di alam. Ini bukan main biasa, atau permainan outbond, atau mengikuti kegiatan sekolah alam. Ini mencoba mempraktikkan bagaimana mengenal landcover dan landuse, langsung di alam.

Tidak hanya itu, juga bagaimana melakukan perekaman situasi dengan bantuan alat GPS dan mengukur kemiringan atau tinggi lokasi relatif dengan menggunakan “Kompas Geologi”.

Memahami bahwa landcover dan landuse adalah dua hal yang berbeda itu gampang. Dari definisi keduanya pun sudah dapat dipahami. Tetapi bagaimana jika melihat langsung di lapangan? Apakah dengan mudah bisa dibedakan?

Berlokasi di Perkebunan Teh Gunung Mas, Cisarua, kami bermain di alam. Sabtu pagi itu perjalanan relatif lancar, dan segera mendarat di perkebunan yang mempunyai ruang alam sangat baik. Saat itu saya bersama Anom, Hadi, Raimundo, Syarif, dan Yadi (Hi guys, dimana sekarang ya…).

Kami ngobrol di tengah kebun teh bagaimana cara menggunakan GPS dengan benar, dan juga bagaimana sebaiknya menempatkan diri saat pengukuran dilakukan. Hal ini dikaitkan dengan resolusi citra satelit yang akan digunakan dalam studi, dan untuk keperluan apa atau untuk sasaran apa pekerjaan tersebut dilakukan.

Juga dipelajari bersama bagaimana mengukur kemiringan bentang (slope) dengan menggunakan kompas geologi.

Ini adalah kegiatan diluar waktu dan alokasi kegiatan pengajaran di kampus. Dan atas kemauan bersama dalam “bermain di alam”, maka jadilah kami ngabur dari kampus… Dan itu terjadi 10 Januari 2009, tiga tahun lalu… : )

Perjalanan pagi-siang hari itu cukup melelahkan, tapi cukup menyegarkan. Sayang sekali, saat keluar lokasi (sekitar jam 13.00), lalin Puncak menuju Ciawi sudah tidak normal. Akibatnya menunggu 2 jam saja untuk bisa start kembali ke kampus di Tajur.

Lumayanlah sambil menunggu lalin bergerak kami menikmati gemblong, atau ketan dengan gula merah, yang banyak dijual pedagang asongan di sana. Manstap lah…

: )

Categories: Luar Kelas Tags: , , ,
%d bloggers like this: