Archive

Archive for the ‘Dalam Kelas’ Category

Membumikan Ilmu Kebencanaan dan Mengapa Ada Api di Laut

March 14, 2016 Leave a comment

Suasana dalam kelas.

Suasana dalam kelas.

Bicara mengenai kebencanaan di Indonesia dengan adik-adik di Sekolah Dasar itu adalah pengalaman yang luar biasa, bagi saya tentunya. Tidak seperti menghadapi mahasiswa yang “jauh lebih mudah”, pendekatan khusus sangat diperlukan saat berbicara “hal-hal yang tinggi” dan harus dibahasakan yang bisa diterima oleh adik-adik di SD ini.

Bercerita tentang fenomena alam di daerah yang telah mengalaminya secara langsung memang lebih asik. Apa yang menjadi pengalaman adik-adik ini menjadi landasan memulai dalam memberi keterangan “apa yang terjadi sesungguhnya” yang diyakini oleh ilmu pengetahuan saat ini.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan ini di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kota Sabang, yang terletak di Pulau Weh, Aceh, April 2007. Peserta pertemuan ini adalah adik-adik di MIN Sabang dan juga dengan para guru. Kami fokus pada kejadian bencana Gempa dan Tsunami di Aceh yang terjadi pada 2004.

Keterangan diberikan dalam presentasi slide, dan hal ini dapat menarik perhatian karena banyak gambar yang bisa dilihat langsung. Selain foto-foto, juga gambar kerusakan permukaan yang direkam dari satelit, dan animasi yang menjelaskan terjadinya tsunami. Pertanyaan-pertanyaan pun mengalir dari para generasi muda ini 🙂

Saat menjelaskan mengenai gunung api yang muncul di laut, dengan mencontohkan Gunung Krakatau di Selat Sunda, maka saya mendapat pertanyaan yang menarik:

Mengapa ada api di tengah laut?

Pertama, terus terang saya kaget juga. Maksudnya apa ya, kok “api di tengah laut”… Ah ya, mngkin ini berkait dengan kata “gunung berapi” 😀

Maka dijelaskanlah yang dimaksud dengan “gunung berapi” itu apa, dan tentunya dengan bahasa adik-adik Sekolah Dasar… Pertanyaan ini memang cukup membuat yang hadir, terutama bapak/ibu gurunya, tertawa. Tetapi saya mencoba menjelaskan dengan serius agar si anak merasa dihargai, bukan justru dirisak atas pertanyaannya.

Sayang sekali saya lupa mencatat nama anak tersebut, sebagai kenang-kenangan 🙂

Bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan anak SD saat itu? Mmm… cukup dengan membayangkan sedang bicara dengan anak saya yang sedang di Sekolah Dasar. Asumsi saya, semua anak ya sama saja, jadi tinggal bahasa slank-nya disesuaikan dengan bahasa lokal saja 😀

Dari seorang teman di Sabang diberitahu bahwa SD/MIN Sabang saat ini (tepanya, sejak 2009) telah pindah lokasi, saat saya kesana masih berada di dekat Masjid Raya Sabang, saat ini berlokasi di daerah Cot Ba’u.

Sheryl Sandberg: Why We Have too Few Women Leaders

October 17, 2014 Leave a comment

Sheryl Sandberg, seorang COO (Chief Operating Officer) Facebook, berbicara mengenai kurangnya pemimpin perempuan yang ada saat ini. Terlepas dari isi yang disampaikan, yang menarik saya perhatikan adalah bagaimana dia menyampaikan gagasannya dengan cara presentasi yang memukau.

Setiap detik gerakan dan intonasi kata/kalimatnya di atas panggung menjadi bahan telaah dalam memperlajari/studi cara presentasi yang baik di kelas. Setiap murid diminta pendapat sekaligus menirukan gerakan tubuh yang mendukung dalam penyampaian substansi setiap kata dan kalimat.

Silakan menyimak video tersebut, dan selamat belajar presentasi. 🙂

—–

Ikuti lebih lanjut di-tag: Seri Presentasi.

Wajib Minimal Jam Belajar Mahasiswa Dalam Seminggu

October 10, 2014 Leave a comment

Jam Belajar Mahasiswa

Jam Belajar Mahasiswa

Berapa jam waktu belajar mahasiswa dalam seminggu..? Bagaimana kita mengetahuinya..? Hal ini menjadi pertimbangan utama saat mana seorang mahasiswa memulai semesternya atau yang sudah “terlanjur” ambil jumlah SKS tertentu.

Dosen saya mewanti-wanti hal ini dengan mengatakan bahwa minimal alokasi waktu belajar dalam seminggu harus ditepati. Ini adalah batasan standar untuk pemahaman yang standar juga. Jadi kalau mau yang diatas standar maka tambah waktu belajarmu. (… baiklah Prof… 😀 )

Bagaimana menghitung waktu minimal ini..?

Formulasi sederhana adalah demikian: Jumlah Jam Belajar = (Jumlah SKS) + 2 * (Jumlah SKS)

Kenapa nggak ditulis saja 3 * (Jumlah SKS)..? Pengertiannya begini,

  • “Jumlah SKS” yang pertama adalah yang dilakukan di kelas (tatap muka dengan dosen) atau yang dilakukan melalui kuliah daring (kuliah online, maksudnya).
  • Sedangkan perkalian 2 * (Jumlah SKS) adalah waktu diluar hal pertama tadi.

Jadi, seandainya jumlah SKS yang diambil berjumlah 12 SKS, maka minimal alokasi waktu belajar dalam seminggu adalah 12 + 2 * 12 = 36 jam. Jika direratakan dengan asumsi satu hari libur belajar adalah enam jam dalam sehari khusus untuk belajar.

Apakah belajar hanya didepan buku atau di dalam perpustakaan atau di dalam laboratorium..? Ya nggak lah. Diskusi pelajaran dengan teman saat jalan ke Mal, atau saat makan bareng, atau saat di pinggir danau/sungai sambil menikmati alam juga bisa masuk dalam jam belajar tadi.

Gampang kan… : )

Categories: Dalam Kelas Tags: , , ,

Yang Dilakukan Saat Mengawali Presentasi

September 28, 2014 Leave a comment

Sumber gambar: cisolutions.co.uk.

Sumber gambar: cisolutions.co.uk.

Apa yang sebaiknya kita lakukan dalam mengawali presentasi..? Awal presentasi dapat menentukan apakah hadirin akan tertarik, bosan sebelum mulai, atau justru semangat.

Beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan adalah sebagai berikut:

  • Sampaikan pada hadirin mengenai keberadaan handouts. Jika ada handouts yang dibagikan sebelum dimulai adalah lebih baik, sehingga hadirin bisa membuat catatan khusus/tambahan pada tiap slide yang kita paparkan. Jika diberikan pada akhir presentasi, maka katakan langsung pada hadirin agar mereka tidak terlalu sibuk menyalin slide anda.
  • Jangan pernah meminta maaf pada hadirin mengenai betapa kompleks masalah yang akan anda terangkan. Tugas anda adalah menyampaikan dengan baik dan membuat hadirin memahami. Bukanlah membuat hadirin bertambah bingung.
  • Terkadang anda mempunyai waktu yang sangat singkat dalam mempersiapkan presentasi. Sekalipun demikian, janganlah disampaikan pada hadirin. Hal ini sama saja mengatakan: “presntasi saya adalah buruk dan asal-asalan”, dan hal ini dapat membuat hadirin tidak berminat mengikuti presentasi anda.
  • Berikan kepastian (atau bahkan pilihan) pada hadirin apakah mereka dapat bertanya pada saat anda presentasi atau pertanyaan diutarakan saat presentasi usai. Hal ini terkait dengan waktu yang tersedia.
  • Perkenalkan latar belakang profesi anda jika anda berhadapan dengan hadirin yang tidak mengenal anda. Jika hadirin telah mengenal anda (misal: di depan kelas sendiri) maka hal ini tidak perlu dilakukan.
  • Lama presentasi akan memengaruhi harapan hadirin. Jika presentasi kita lebih dari sepuluh menit maka sebaiknya diberitahukan langsung, tetapi jika kurang dari itu maka tidak perlu diutarakan.
  • Sebaiknya lakukan pembukaan dengan menyampaikan hal yang lucu atau humor, tetapi tetap terkait dengan topik presentasi anda. Ingat, jangan melemparkan humor yang bersifat menyerang siapapun yang kemudian dapat membangkitkan rasa antipati pada anda.

Mari dicoba… : )

—–

Ikuti lebih lanjut di-tag: Seri Presentasi.

Tip Presentasi dengan Menjawab 5W + H

September 27, 2014 Leave a comment

Sumber gambar: clker.com.

Sumber gambar: clker.com.

Menjadi presenter dalam sebuah seminar atau sidang atau semacamnya mungkin bukanlah hal baru bagi anda. Tetapi apakah sudah memperhatikan kesiapan-kesiapannya..?

Pada banyak pembelajaran teknik presentasi sering kita dengar mengenai 5W + H. Saya coba tulis kembali sebagai bahan pengingat saya sendiri, dan mungkin berguna bagi anda yang belum/lupa mengenainya.

Yang dimaksud dengan 5W + H adalah enam kata tanya dalam bahasa Inggris, yaitu: Who, What, When, Where, Why dan How. Keenamnya bisa dipakai dengan urutan yang tidak mesti sama.

Who

  • Pertanyaan ini yang berarti siapa maksudnya adalah kita harus tahu siapakah hadirin atau pendengar presentasi kita.
  • Jika kita presentasi di depan para dosen dan profesor di mimbar akademis tentunya akan beda dengan presentasi di depan rekan-rekan komunitas membaca, misalnya. Presentasi di depan anggota DPR akan berbeda dengan presentasi di depan anak-anak Taman Kanak-Kanak, contoh lain.
  • Pertanyaan ini terkait erat dengan bahan yang disiapkan dan kedalaman materinya.

What

  • What helps you remember. Kita harus siap dengan hal yang dapat mengingatkan kita akan materi yang sedang dipresentasikan. Misalnya kita tuliskan pada kertas keywords pada setiap slide yang kita tampilkan. Daftar keywords ini menjadi pengingat kita mengenai apa yang harus kita sampaikan.
  • What helps them remember. Buatkan isi slide yang akan membuat pendengar mengingatnya. Bisa berupa gambar atau kata-kata yang menarik. Tidak tabu jika kita tampilkan satu-dua kutipan bijak dari orang terkenal, tentunya yang relevan dengan isi presentasi.
  • What helps them understand. Buat materi yang sederhana, enak dilihat mata, dengan ukuran huruf yang sedang dan tidak terlalu banyak pointer. Animasi..? Boleh tetapi satu-dua saja. Sesuaikan dengan sikon. Intinya adalah membuat pendengar mengerti dengan mudah.
  • What helps you stay focused. Hati-hati dalam berimprovisasi, jangan sampai melebar kemana-mana. Usahakan tetap pada bahasan utama.
  • What helps you reduce your stress. Merasa stres dalam mengawali presentasi itu biasa. Tetapi cari cara untuk menguranginya. Setiap orang mempunyai cara sendiri. Ada yang dengan memakan permen, ada yang bercanda, ada yang minum segar dengan cukup. Temukan yang paling sesuai untuk anda.

Why

  • Pastikan sejak awal kita tahu mengapa kita harus berdiri di depan mimbar atau mempresentasikan materi tersebut. Jangan sampai kita sendiri tidak sadar sepenuhnya apa yang kita lakukan. Dengan menyadari ini maka kita lebih siap secara mental.

Where

  • Sebelum presentasi, kita harus tahu dimana lokasi dan kondisi tempat presentasi. Apakah dalam ruang, ataukah di lapangan, atau disuatu auditorium. Bagaimana dengan kelengkapan pendukung. Dapatkah file presentasi kita dijalankan di tempat tersebut dengan peralatan yang telah tersedia. Antisipasi mengenai hal ini penting sekali. Untuk itu datangi tempatnya sebelum waktu anda naik panggung.

When

  • Kapan waktu anda naik panggung, atau presentasi. Dengan mengetahui waktunya maka persiapan anda akan jauh lebih baik. Bersiaplah untuk perubahan waktu yang mendadak. Komunikasi yang baik dengan pemilik acara sangat dianjurkan.

How

  • Bagaimana membuat performa kita optimal saat presentasi..? Selain kesiapan kesehatan, maka dengan mendapatkan jawaban dari kelima pertanyaan diatas kita bisa menyusun strategi bagaimana tampil. Penyesuaian selalu ada setiap saat, tetapi jika kita sudah siap maka langkah kita akan ringan.

Demikian tip presentasi dengan menjawab pertanyaan 5W + H. Materi ini saya dapatkan dari perkuliahan dengan tajuk: Giving a Presentation. Semoga berguna.

*/ : )

—–

Ikuti lebih lanjut di-tag: Seri Presentasi.

Perangkat Elektronik/Gadget Dalam Proses Belajar Mengajar

September 22, 2014 Leave a comment

Peraturan penggunaan gadget dalam kelas.

Contoh peraturan penggunaan gadget dalam kelas.

Gadget atau perangkat elektronik sudah sangat biasa digunakan anak-anak sejak mereka “lahir”. Layar sentuh bukanlah hal yang aneh lagi, dan ini adalah keseharian mereka saat ini. Dari pagi bangun tidur hingga saatnya tidur malam hari gadget selalu di tangan, dalam beragam bentuk dan kegunaannya.

Pada sebagian sekolah SD/SMP/SMA dimana anak-anak saya sempat mengalami di Kota Bogor, pemakaian gadget adalah dilarang selama jam pelajaran. Bahkan ada yang melarangnya untuk hanya sekedar membawa masuk area sekolah. Alasannya tentunya beragam dan tidak saya bahas dalam tulisan ini.

Di sekolah anak saya saat ini kebijakan membawa dan menggunakan gadget adalah demikian: gadget dibolehkan dibawa ke sekolah dan dipergunakan sesuai kepentingan mata pelajaran yang sedang diikuti. Guru diberi kewenangan untuk mengatur tata tertib penggunaan gadget tersebut. Jika diperlukan maka silakan gunakan jika tidak maka terserah guru dalam mengaturnya lebih lanjut.

Semua orang tua diberi tahu mengenai kebijakan ini oleh Kepala Sekolah melalui tatap muka dan email pribadi. Sekolah membolehkan anak-anak membawa gadget tetapi tidak diharuskan bagi yang belum punya. Pembawaan gadget-pun harus disetujui oleh orang tua pada anaknya, dalam arti orang tua percaya bahwa gadget yang dibawa anaknya adalah selanjutnya tanggungjawab si anak. Hal ini terkait kerusakan yang dapat terjadi dalam keseharian kegiatan.

Salah satu contoh kebijakan penggunaan gadget oleh salah seorang guru adalah sebagai berikut:

  • Gadget diletakkan diujung meja dalam posisi tertelungkup.
  • Diset dalam modus silent.
  • Hanya boleh dipergunakan untuk keperluan khusus, misalnya untuk pencarian bahan di-internet.
  • Penggunaan gadget adalah personal, sehingga dilarang meminjamkan pada rekan lain, karena terkait dengan kerusakan yang bisa terjadi pada penggunaan yang salah.
  • Jika ada tanda atau pemberitahuan khusus maka gadget dilarang dipakai apapun.

Kalau dilihat sepintas, maka guru mempunyai kuasa yang besar akan semua aktivitas dalam kelas. Murid wajib taat akan peraturan ini. Sehingga penggunaan gadget dapat optimal sesuai dengan keperluan saat dalam kelas tersebut.

Perlu usaha ekstra keras untuk mewujudkannya, jika diperlukan. Inovasi guru yang didukung oleh pihak pimpinan sekolah tentunya akan menguntungkan semua pihak, terutama murid-murid.

Untuk para rekan guru: Adakah yang sudah mencoba hal semacam ini di kelas..? Bagaimana pengalaman anda..?

*/ : )

—–

Posting ini terkait dengan tema blog di c2america.wordpress.com.

Categories: Dalam Kelas, Dikdasmen Tags: , , , , , , ,

Guru Memitrakan Murid itu Sesuatu

August 30, 2014 Leave a comment

Guru

Guru

Guru (atau dosen) penguasa satu matkul adalah raja kecil. Ia bisa menjadi makhluk yang ditakuti atau menjadi malaikat yang didambakan. Ia berhak mengatur segala aktivitas sepanjang semester berlangsung dan kata-katanya adalah peraturan.

Minggu ini, pada hari pertama saya mengikuti kuliah, mendapatkan hal seperti yang saya sebut diatas. Sang Profesor pengajar adalah penguasa tunggal pada mata kuliah ini. Ia cukup detil membuat silabus pertanggal kuliah. Semua sudah lengkap untuk sepanjang semester.

Dengan kekuasaannya ia mengatur semua sejak sebelum semester dimulai.

Hari itu, hari pertama kami bertemu dalam kelas. Hari pertama semester ini. Hari pengenalan seluk beluk mata kuliah yang akan diajarkan olehnya.

Sang Profesor mengajak kami memahami tiap materi yang akan dilalui, diberikan. Juga model ujian yang akan disajikan pada tengah dan akhir semester.

Ia menawarkan pada kami usulan mengenai materi atau silabus yang telah dibuat tadi. Usulan untuk perubahan atau tambah/kurang dari yang ada. Pendapat tentang model ujian. Aha, model ujian pun kami diminta pendapat.

Setelah melalui diskusi yang menarik, dimana semua mahasiswa diberi kesempatan memberikan masukan, maka dihasilkan beberapa kegiatan yang “versi mahasiswa” dimana sang Prof mengubah yang telah dibuatnya.

Perubahan bentuk ujian pun kemudian disesuaikan dengan masukan dari peserta kelas ini.

Kejadian hari itu membuat saya sebagai mahasiswa merasa “dimitrakan” oleh sang Profesor.

Itu sesuatu, pastinya…!

*/ : )

Posting ini terkait dengan tema blog di c2america.wordpress.com.

%d bloggers like this: