Home > Dikdasmen, Uji Nyali, Warung Kopi > UN yang Jujur

UN yang Jujur


image

UN tahun 2016 diwarnai dengan “kampanye putih” tentang kejujuran. Siswa diharapkan menjunjung tinggi kejujuran saat melaksanakan Ujian Nasional. Hanya untuk siswa sajakah kejujuran di UN..?

Secara umum, UN mempunyai tiga komponen dalam pelaksanaannya, yaitu: siswa, guru (pihak sekolah), dan orang tua. Ketiganya adalah komponen utama dalam pelaksanaan UN dan tentu saling terkait.

Kejujuran apa yang diharapkan dari ketiganya?

Dari siswa, tentunya ini adalah hal teknis yang sangat mendasar yaitu “tidak mencontek”. Percaya pada diri sendiri dalam mengerjakan soal-soal yang ada. Mengabaikan semua hal yang menawarkan solusi jalan pintas (kuncinjawaban dari teman, guru, ataupun bimbel) misalnya.

Dari guru atau pihak sekolah, adalah penentu nilai secara umum atas semua hasil yang diraih oleh siswa selama ia menempuh sekolahnya. Jangan sampai ada permufakatan internal untuk bermain dengan nilai demi peringkat dan gengsi sekolah. Jangan ada pemberitahuan jawaban di papan tulis (atau dalam bentuk lain) pada sebelum dan saat UN berlangsung.

Dari pihak orang tua adalah kejujuran dalam berharap pada anak-anaknya. Masing-masing anak punya kemampuan berbeda dan hal ini terbentuk tidak instan hanya satu hari. Beranikah jujur terhadap anak sendiri?

Secara umum kampanye oleh Kemendikbud adalah sangat baik. Tetapi siswa bukanlah satu-satunya obyek sasaran. Hendaknya juga dikampanyekan untuk Ortu dan guru sekolah hal yang sama.

Ohya, satu lagi, perlu juga dikampanyekan pada pemerintah daerah terkait, yaitu kepala daerah (biasanya pada tingkatan Bupati/Wali kota) dan jajaran “Dinas Pendidikan”-nya. Karena pernah ada kasus dimana kepala daerah mengeluarkan pernyataan semua sekolah SMA di wilayahnya harus lulus 100% dengan sangsi untuk Kepsek jika tidak terpenuhi. Pernyataan yang mengganggu kinerja jujur para guru dan Kepsek tentunya.

Tiga komponen utama pelaksana UN diatas hendaknya berpikir jernih bahwa nilai tidak menggambarkan keberhasilan pendidikan. Sekian tahun pendidikan janganlah dihancurkan hanya dengan 1-2 hari pada pelaksanaan UN.

Jangan sampai siswa (dan juga guru dan Ortu) hancur moral kejujurannya demi hal yang “remeh temeh”.

Oke deeh, berani jujur kan?

Kejujuran dimiliki oleh semua orang, hanya yang berani menunjukkannya ialah juaranya!

Selamat menjalankan UN..!

🙂

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: