Home > Dalam Kelas > Membumikan Ilmu Kebencanaan dan Mengapa Ada Api di Laut

Membumikan Ilmu Kebencanaan dan Mengapa Ada Api di Laut


Suasana dalam kelas.

Suasana dalam kelas.

Bicara mengenai kebencanaan di Indonesia dengan adik-adik di Sekolah Dasar itu adalah pengalaman yang luar biasa, bagi saya tentunya. Tidak seperti menghadapi mahasiswa yang “jauh lebih mudah”, pendekatan khusus sangat diperlukan saat berbicara “hal-hal yang tinggi” dan harus dibahasakan yang bisa diterima oleh adik-adik di SD ini.

Bercerita tentang fenomena alam di daerah yang telah mengalaminya secara langsung memang lebih asik. Apa yang menjadi pengalaman adik-adik ini menjadi landasan memulai dalam memberi keterangan “apa yang terjadi sesungguhnya” yang diyakini oleh ilmu pengetahuan saat ini.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan ini di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kota Sabang, yang terletak di Pulau Weh, Aceh, April 2007. Peserta pertemuan ini adalah adik-adik di MIN Sabang dan juga dengan para guru. Kami fokus pada kejadian bencana Gempa dan Tsunami di Aceh yang terjadi pada 2004.

Keterangan diberikan dalam presentasi slide, dan hal ini dapat menarik perhatian karena banyak gambar yang bisa dilihat langsung. Selain foto-foto, juga gambar kerusakan permukaan yang direkam dari satelit, dan animasi yang menjelaskan terjadinya tsunami. Pertanyaan-pertanyaan pun mengalir dari para generasi muda ini🙂

Saat menjelaskan mengenai gunung api yang muncul di laut, dengan mencontohkan Gunung Krakatau di Selat Sunda, maka saya mendapat pertanyaan yang menarik:

Mengapa ada api di tengah laut?

Pertama, terus terang saya kaget juga. Maksudnya apa ya, kok “api di tengah laut”… Ah ya, mngkin ini berkait dengan kata “gunung berapi”😀

Maka dijelaskanlah yang dimaksud dengan “gunung berapi” itu apa, dan tentunya dengan bahasa adik-adik Sekolah Dasar… Pertanyaan ini memang cukup membuat yang hadir, terutama bapak/ibu gurunya, tertawa. Tetapi saya mencoba menjelaskan dengan serius agar si anak merasa dihargai, bukan justru dirisak atas pertanyaannya.

Sayang sekali saya lupa mencatat nama anak tersebut, sebagai kenang-kenangan🙂

Bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan anak SD saat itu? Mmm… cukup dengan membayangkan sedang bicara dengan anak saya yang sedang di Sekolah Dasar. Asumsi saya, semua anak ya sama saja, jadi tinggal bahasa slank-nya disesuaikan dengan bahasa lokal saja😀

Dari seorang teman di Sabang diberitahu bahwa SD/MIN Sabang saat ini (tepanya, sejak 2009) telah pindah lokasi, saat saya kesana masih berada di dekat Masjid Raya Sabang, saat ini berlokasi di daerah Cot Ba’u.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: