Home > Warung Kopi > Melati Mencintai Murid Didiknya

Melati Mencintai Murid Didiknya


Sumber gambar: deviantart.net

Sumber gambar: deviantart.net

Saya Melati (bukan nama sebenarnya), saat ini sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di kota ini. Saya adalah pendidik dan hal ini telah saya mulai tujuh tahun lalu di sekolah yang sama.

Saya mencintai murid-murid saya, karena itu saya selalu berusaha menjadi pendidik yang baik dan benar. Minimal dengan memberikan waktu saya secara khusus untuk menerima segala bentuk keinginan mereka. Tidak hanya akademik tetapi juga terkadang masalah nonakademik yang mereka alami.

Saya ingin mereka menjadi anak didik yang tangguh baik secara akademik maupun nonakademik, sehingga hal yang saya perkuat sejak mereka masuk kelas VII adalah mentalitas yang baik.

Caranya adalah sederhana saja kok.

Pertama adalah saya paksa mereka untuk disiplin. Disiplin disini tidak hanya untuk diri mereka sendiri saja, tetapi disiplin yang juga menyangkut orang lain, yaitu teman-teman disekelilingnya dan guru-gurunya.

Disiplin seperti apa? Disiplin mengenai waktu belajar. Murid dibawah kendali saya harus menyediakan waktu untuk belajar sesuai dengan jadwal yang sudah dikeluarkan pihak sekolah. Tidak ada alasan untuk tidak mematuhi waktu belajar di sekolah. Saya pun harus mengimbanginya dengan masuk kelas pada waktu yang terjadwal, dan tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan kelas apalagi mengabaikannya untuk keperluan pribadi.

Dengan menepati waktu dan mengisinya sesuai target kurikulum maka mereka punya amunisi bagus untuk pelajaran yang bersangkutan.

Yang kedua, mereka saya ajarkan untuk jujur. Jujur pada diri sendiri adalah yang utama. Dalam bentuk apa kejujuran ini?

Yang paling sederhana adalah jujur akan kemampuan diri sendiri. Misalnya, dalam pengerjaan ulangan maka mereka tidak ada toleransi untuk menyontek atau curang. Sepenuhnya haruslah mereka sendiri yang mengerjakan sesuai kemampuan. Dan seberapapun hasilnya maka saya akan memberikan penghargaan tinggi pada mereka.

Disiplin dan jujur adalah dua hal yang saya ajarkan pada mereka. Sedangkan untuk memelihara kedua hal tersebut, maka saya berusaha manjadi pendidik yang baik, dengan memberikan contoh kelakuan, atau teladan, yang sesuai dengan apa yang saya ajarkan. Tidak lupa mereka saya beri pengertian juga mengenai keterbatasan manusia dalam menjaga kedua hal tersebut tetapi jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk mengelaknya.

Akibatnya adalah jelas. Mereka menjadi tangguh secara mental, dan siap menghadapi Ujian Nasional tanpa banyak bingung dan panik lagi. Dan sehubungan dengan sistem nilai rapor kelas VII dan VIII yang menjadi salah satu pertimbangan kelak saat mendaftar ke Sekolah Menengah Atas, mereka sudah siap tanpa perlu kami, guru-guru, mengolah nilai-nilai tersebut menjadi “nilai diatas rata-rata”.

Pengolahan nilai ini kerap menjadi praktik para guru yang ingin anak muridnya aman masuk ke SMA dan diyakini dapat mengharumkan sekolah asalnya. Walau menurut saya adalah ini perbuatan bodoh dan bentuk penghianatan dari proses pendidikan yang sebenarnya. Lucunya, penghianatan dengan cara meng-upgrade nilai ini juga dilakukan oleh beberapa sekolah yang berbasis agama…

Saat Ujian Nasional, saya (dan tim guru) selalu menekankan pada anak didik bahwa disiplin dan jujur harus mereka terapkan. Tidak ada guru yang akan memberikan bocoran soal, apalagi memberikan jawaban atas soal UN yang ada. Bagi saya, berpegang pada kedua hal ini pada saat UN adalah pilar utama dalam mempertahankan keyakinan dan mentalitas mereka dalam mengarungi sekolah selanjutnya. Apapun hasilnya adalah sesuai dengan kemampuan mereka dan mereka akan dengan tegar membawa hasil tersebut dalam pendaftaran di SMA sesuai dengan keinginan mereka kelak.

Praktik kecurangan, seperti upgrade nilai rapor dan membantu saat UN, tidak pernah ada di sekolah kami.

Saya mencintai anak didik saya. Mereka tidak hanya saya ajarkan materi pelajaran, tetapi harus saya didik mentalnya menjadi tangguh dan berani dengan segala situasi.

Konsepnya sederhana, hanya dengan menerapkan pendidikan kedisiplinan dan kejujuran, dibarengi dengan keteladanan dari guru pendidik. Cukup.

Ohya, untuk penerimaan “jalur prestasi” di sekolah saya, kebijakan sekolah menerapkan dengan logika yang benar, bahwa yang berprestasi itu nggak banyak kok, jadi kuotanya ya yang masuk akal aja deh.

: )

*/ obrolan di warung kopi yang tidak perlu di-copy… : )

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: