Home > Warung Kopi > Mawar Mencintai Sekolah

Mawar Mencintai Sekolah


Saya Mawar (bukan nama sebenarnya), berprofesi sebagai guru Sekolah Menengah Pertama yang ternama di kota saya. Saya mencintai sekolah saya. Tempat saya mengabdi pada negara ini dengan membagikan ilmu yang saya miliki pada anak-anak muda negeri tercinta.

Pengabdian saya sudah memasuki tahun ketujuh, dan saya semakin mencintai tempat dimana saya bertugas ini. Bagaimana tidak mencintai? Semua emosi bisa saya tumpahkan disini dengan berprofesi sebagai pengajar.

SMP Negeri yang saya tempati bertugas mempunyai status RSBI, atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Walau saat ini tidak lagi RSBI, sesuai perubahan Undang-Undang oleh Mahkamah Konstitusi. Tapi jelas, mantan RSBI adalah sekolah pilihan, pastinya.

Perubahan dari RSBI menjadi “berstatus biasa” tentunya mengguncang dari sisi keuangan sekolah. Eh, nanti dulu, sekolah tidak terkait dengan keuangan yang bersumber dari murid kok. Pungutan hanya dibolehkan oleh Komite Sekolah yang bersepakat dengan para orang tua murid.

Pada saat masih RSBI, orang tua murid akan dengan mudah dimintakan sumbangan bulanan atau tahunan demi merawat dan meningkatkan fasilitas sekolah agar tetap “bertaraf internasional”. Dengan kepiawaian Komite Sekolah dalam mengolah emosi orang tua, maka para orang tua murid akan dengan senang hati menunjang segala keperluan sekolah. Uang sumbangan tadi sebagian dipergunakan untuk merawat AC pada tiap ruang, menyediakan air minum mineral untuk keseharian anak-anak, melengkapi fasilitas visual (proyektor) untuk kelas, dan juga untuk meningkatkan kemampuan SDM (baca: guru) dalam berbahasa Inggris. Ya, saya dikursuskan dari dana tersebut. Lumayan lah…

Saat status RSBI hilang maka sekolah pun mengambil beberapa kebijakan strategis. Tentunya kebijakan ini dihasilkan dari usulan-usulan brilyan dari komite sekolah dan sebagian rekan guru yang selalu dimintakan pendapatnya oleh sekolah. Saya termasuk yang mengusulkan beberapa hal.

Tahun ini penerimaan murid baru (PPDB, Penerimaan Peserta Didik Baru) mengenal istilah “jalur prestasi” (atau japres). Nah, melalui japres inilah beberapa hal dilakukan dengan bijak oleh sekolah saya.

Japres adalah jalur penerimaan untuk murid yang berprestasi dari tingkat Kabupaten/Kota hingga internasional. Peraturan Japres jelas sekali, dimana anak bisa berprestasi dibidang akademik maupun non akademik. Sertifikat bisa dikeluarkan oleh (pada level terendah) Kantor/Dinas pada Pemerintah Kota/Kabupaten.

Pada sekolah saya, kuota penerimaan tahun ini adalah 240 murid. Dan dari 240 kursi itu disediakan untuk japres adalah 90 kursi. Artinya, sekolah menerima 90 anak yang melalui penerimaan japres. Mereka, 90 anak ini, adalah yang mempunyai prestasi baik akademik maupun nonakademik, sebagian besar berasal dari kota saya tentunya.

Mereka, tentunya, adalah anak-anak pilihan. Dan Komite Sekolah pun dengan tanggap mengolahnya dengan baik. Seperti sudah diduga sebelumnya, orang tua para murid pilihan dari japres ini adalah para sukarelawan yang baik dalam menunjang keuangan sekolah sebagai pengganti dari sumbangan pada jaman RSBI. Artinya fasilitas sekolah saya dan kesempatan saya untuk mengembangkan kemampuan melalui kursus-kursus akan tetap terjamin.

Saya tidak perlu memikirkan dan menghitung jumlah anak berprestasi di kota saya. Ada 20 sekolah menengah pertama negeri, jika tiap sekolah mempunyai 50 kursi untuk japres maka akan ada berapa anak berprestasi yang terjaring di tingkat SMP ini.? Saya tidak mau memikirkan apakah jumlah tersebut masuk akal jika dikaitkan dengan jumlah keragaman prestasi (atau even lomba) yang pernah ada di kota, provinsi, nasional, atau internasional yang diikuti oleh anak dari kota saya.

Saya, Mawar, hanyalah mencintai sekolah dimana saya mengabdi. Sekolah dimana saya bisa meningkatkan kemampuan diri dengan fasilitas yang selalu terjaga baik. Saya tidak akan melupakan kemurahhatian para orang tua murid dari japres (terutama) dan dari lembaga/institusi manapun yang mendukung para anak-anak berprestasi mendapatkan sertifikatnya.

Saya, Mawar, adalah pengajar di sekolah terbaik di kota saya. Saya bangga akan hal itu. Demikian.

*/ cerita di warung kopi yang tak perlu di-copy. : )

Categories: Warung Kopi Tags: , , , ,
  1. August 6, 2013 at 8:41 am

    jadilah mawar berduri di taman-taman yang indah nan memekat hati bagi yang melihatnya.Karena dijaga,dirawat,dipupuk dan disirami.Tidak semua orang dapat memetikmu.Jangan jadi mawar di tepi jalan karena tidak terawat dan siapa saja boleh memetikmu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: