Home > Warung Kopi > Anda Membayar atau Membeli Sekolah?

Anda Membayar atau Membeli Sekolah?


Tidak semua dapat dibeli.

Tidak semua dapat dibeli.

Pertengahan tahun ini, awal bulan Juli 2012, saat sedang berkegiatan, saya mendengar berita yang serupa dari dua rekan saya. Yang satu seorang bapak, dan lainnya seorang ibu. Dalam waktu yang relatif bersamaan, siang hari, keduanya mendapat kabar bahwa anak mereka masing-masing gagal masuk ke sekolah SMP Negeri. Tentunya ini bukanlah berita yang menyenangkan.

Keduanya juga mendapat kabar bahwa sang anak, pada sekolah SMP yang berbeda itu, dapat masuk dengan prosedur khusus, yaitu memberi imbalan pada oknum sekolah tersebut dengan sejumlah uang. Berita ini sangat menggoda bagi orang tua yang sedang galau seperti kedua rekan saya tersebut. Ini juga bukan berita yang menyenangkan, pastinya.

Siang itu, kedua rekan saya dengan tegas menampik “jalur alternatif” yang ditawarkan, dan memilih untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta, karena memang tidak ada kesempatan lagi untuk masuk ke sekolah Negeri.

Alhamdulillah, saya begitu kagum sekaligus lega mendengarnya.

Apa hubungannya dengan saya? Toh mengusahakan sekolah bagi anak, dan di sekolah yang terbaik, adalah salah satu kewajiban orang tua? Dan jika anak rekan saya bisa masuk ke sekolah idamannya justru bisa membuat hepi semua?

Saya bersyukur karena rekan saya ternyata masih mampu membayar untuk sekolah anaknya, tetapi tidak mampu untuk membelikan anaknya sekolah.

Jalur alternatif melalui oknum sekolah untuk memasukkan sang anak ke sekolah tersebut jelaslah praktik membeli sekolah. Anak bisa dimasukkan sekolah dengan mengeluarkan segepok rupiah, selesai.

Saya meyakini, sekali kita, sebagai orang tua atau yang dituakan, melakukan hal pembelian sekolah seperti itu, maka selamanya akan tertanam dipikiran si anak bahwa semua dapat dibeli. Tidak hanya untuk masuk sekolah tetapi juga untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tidak perlu belajar sungguh-sungguh, cukup dengan menyediakan bingkisan yang bernilai tertentu untuk sang guru maka nilai baik pun sudah ditangan.

Praktik membeli sekolah seperti ini sudah ada sejak jaman dahulu, sejak sekolah didirikan dan ada diantara punggawanya yang menjadikan sekolah sebagai pencarian nafkah.

Saya masih yakin, pembaca tulisan ini dan juga guru atau punggawa sekolah masih banyak yang tidak melakukan pembelian sekolah untuk anak-anak kita.

Tetapi jika ternyata anda melakukannya untuk anak anda, artinya itulah saat dimana anda mematikan salah satu hal sensitif yang ada di anak anda: fair play. Suatu yang sepertinya mustahil dibangkitkan lagi kelak.

Mari kita hindari praktik membeli sekolah, jangan demi gengsi anda, tapi demi anak kita sendiri.

: )

Categories: Warung Kopi Tags: ,
  1. suryadi
    September 12, 2012 at 2:56 pm

    itulah hebatnya bangsa kita,apapun bisa di beli…….

    • September 13, 2012 at 10:09 pm

      saya rasa bukan soal “bangsa kita”, tapi lebih kepada mental kita dalam menyikapi perbuatan orang lain.
      thx sudah mampir.
      : )

  2. MT
    September 13, 2012 at 5:52 pm

    kalau mau ikuti emosi, aku marah banget diperlakukan oleh para penjual sekolah itu. alhamdulilah masih berpikir yg penting anakku tak rusak moralnya walaupun gagal

    • September 13, 2012 at 10:07 pm

      tetap berpikiran sehat dan jangan lupa memberi pengertian ke anak dengan bijak, tanpa perlu membebani sang anak dengan permasalahan “mental para penjual sekolah”.
      : )

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: