Home > Warung Kopi > Menggadaikan anak, menyelesaikan masalah dengan masalah

Menggadaikan anak, menyelesaikan masalah dengan masalah


Pegadaian anak, menyelesaikan masalah dengan masalah.

Menjelang tahun ajaran baru adalah saatnya (beberapa) orang tua menggadaikan anaknya. Anak yang telah dipelihara oleh sang orang tua (dan pembantu) sejak bayi mulai digadai ke sekolah-sekolah hebat. Inilah gejala yang terlihat sangat jelas, dan semakin jelas.

Menggadai anak..? Ya, ini adalah proses penggadaian anak. Dalam proses penggadaian biasanya pegadai akan mendapatkan rupiah atau barang sebagai bayaran dari barang yang digadainya. Dalam kasus ini tidak demikian. Ortu akan dengan sukarela mengeluarkan uang (dan barang) demi lakunya si anak.

Maksudnya..?

Orang tua dari golongan ekonomi mapan mempunyai bekal yang cukup untuk menyekolahkan anaknya dimanapun. Banyak sekolah yang menawarkan sistem pembelajaran yang sangat menarik hati. Termasuk penjejalan materi yang luar biasa melebihi dari kurikulum yang telah ada, yang juga sudah luar biasa beratnya itu.

Fasilitas dari sekolah ini, biasanya sekolah swasta, memang sangat hebat. Sebagian dari mereka menawarkan pemberian materi yang marathon sejak pagi hingga petang. Ortu dijanjikan tidak perlu lagi menitipkan pada les atau bimbel yang ada, semua akan tertangani oleh sekolah. Ada juga yang menawarkan asrama (kemudian biasa disebut sebagai dormitori). Sehingga si anak lebih fokus lagi sekolah dan bisa sangat terkontrol kehadirannya, katanya.

Penawaran ini berbuntut menyenangkan bagi sebagian ortu. Tentunya uang bukanlah lagi kendala bagi para ortu ini. Seberapapun akan disiapkan dan digelontorkan untuk sekolah pilihan ini, sekalipun tidak jarang sekolah tersebut adalah sekolah baru yang lokasinya di ujung dunia.

Adakah yang salah dengan penawaran fasilitas ini..? Bukan hal ini yang saya akan tekankan.

Tanpa disadari, penawaran fasilitas luar biasa tersebut membuat para ortu berpikir untuk menggadaikan anaknya. Dalam menyekolahkan si anak, dasar pemikirannya adalah:

  • Kan kamu tahu kalau saya ilmu agamanya kurang, jadi dengan disekolahkan di sana saya berharap anak saya bisa memahami agama lebih baik, nggak seperti bapaknya ini.
  • Jujur aja, saya itu takut tidak bisa menjalankan amanah. Amanah sebagai ortu terhadap anak itu berat lho. Makanya saya titipkan anak saya di sekolah yang sudah menjamin kehidupan agama dan pengetahuan teknologi anak saya. Kan uangnya dari hasil kerja keras saya juga.
  • Begini mas, waktu saya dengan anak-anak itu cuma Sabtu dan Minggu, jadi selain hari itu mereka sebaiknya full untuk sekolah demi masa depan mereka. Ngapain main di rumah atau tetangga?
  • Kamu tahu, dengan hidup di dormitori maka anak saya akan lebih mandiri, bisa mengatur diri sendiri. Itu kan positif banget untuk kedepannya. Lagian kan gak perlu ongkos harian lagi, transportasi misalnya.
  • Ini kan fasilitas, jadi sudah beres urusan anak. Saya dan istri tugasnya cari duit untuk mereka.

Itu adalah beberapa alasan dari para ortu dalam melepas anaknya ke sekolah-sekolah hebat tadi.

Masuk akal sehat kah..?

Bagi saya: nggak lah..! Itu adalah alasan bagi para pengecut, yang terkadang bersilat lidah dengan dasar logika agama yang terbalik.

Secara lahir dan bathin si anak akan hidup dalam dunianya dan semakin menjauh dari anda. Pengakuan yang jujur bagi ortu yang telah mengalaminya biasanya tidak kan terucapkan, karena kehancuran hatilah yang ada.

Niat yang salah telah menyebabkan langkah selanjutnya juga salah, hingga akhirnya menjadikan penyelesaian masalah dengan menimbulkan masalah baru berjangka panjang.

Mari benahi niat dalam menyekolahkan anak kita, dan janganlah jadi orang tua yang pengecut.

Sekolah adalah salah satu sarana pendidikan dari banyak hal lain. Pendidikan terpenting adalah di keluarga, dengan pendidik terbaik adalah ortu si anak tersebut.

Mendapatkan sekolah yang baik itu adalah hal bagus, tetapi menjadi ortu yang bertanggungjawab sebagai pendidik yang benar itu adalah hal yang terbaik bagi anak kita.

Janganlah menggadaikan anak demi alasan apapun. Sekali ia tergadai, maka ia akan menghilang selamanya…

: )

Categories: Warung Kopi Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: