Home > Warung Kopi > Membimbing krucil ke jenjang lebih tinggi

Membimbing krucil ke jenjang lebih tinggi


Sumber gambar: theage.com.au

Krucil adalah sebutan untuk anak-anak saya versi saya dan digunakan hanya oleh saya sendiri. Sampai tulisan ini terpublikasi maka saya baru mempunyai satu kali pengalaman membawa krucil ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ini terjadi pada tahun 2010, saat krucil yang tertua mengakhiri pendidikan di Sekolah Dasar dan memulai Sekolah Menengah Pertama. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, rasa khawatir dan panik justru lebih membebani orang tua daripada sang anak sendiri hehehe… Ortu berpikir segala kemungkinan yang mungkin terjadi, dan berharap tinggi akan capaian sang anak. Sedangkan pada si anak sendiri lebih terbebani bagaimana bisa menyelesaikan soal ujian kemudian tetap bersama dengan sahabat akrabnya saat di SMP.

Mungkin demikianlah yang terjadi pada umumnya.

Kepanikan ortu seringkali justru membebani si anak dalam melewati masa transisi jenjang kependidikannya. Hal ini dapat kita lihat dari  banyaknya les (bimbingan belajar) yang harus diikuti oleh si anak. Sepulang sekolah si anak harus ikut ini di sana dan ikut itu di situ. Sepulang dari les, tanpa istirahat, di rumah telah menunggu guru private yang akan memberikan materi tambahan.

Luar biasa, si anak benar-benar dipacu untuk… untuk apa ya..? Mendapatkan nilai..? Mendapatkan kebanggaan ortu..? Atau justru akan mendapatkan jiwa anak yang sakit..?

Ya, jiwa anak bisa sakit dengan perlakuan ortu yang luar biasa seperti itu. Anak akan tertekan dengan hebat, baik secara fisik maupun psikis. Tak jarang justru semua yang dipaksakan untuk “ditelan” oleh sang anak tersebut bisa termuntahkan kembali dalam beragam cara.

Anak bisa sakit karena stres atau depresi, bahkan ada yang terganggu fungsi otaknya. Anak juga bisa menjadi bosan dengan segala asupan berlebihan itu. Anak juga bisa memberontak dengan caranya sendiri.

Orang tua yang mengandalkan proses instan pada anaknya untuk mendapatkan yang diinginkan seperti ini adalah mengerikan. Anak kita bukanlah mesin yang dapat dipaksakan kerjanya hanya dengan sekali tekan tombol, saat tombol ditekan maka semua akan menjadi hebat.

Anak kita adalah juga manusia sama dengan sang orang tua sendiri. Tidak bisa dipaksakan sesuai dengan kemauan orang tua walaupun sang ortu bisa melakukan apapun karena keberadaan materi berkecukupan dan sikon memungkinkan.

Penguasaan materi sekolah memanglah penting, tetapi caranya harus sebaik mungkin bagi semua, si anak maupun ortu. Ini menuntut kemampuan ortu untuk bisa membimbing si anak secara langsung. Pembimbingan tentunya tidak berarti ortu harus menguasai mata pelajarannya, tetapi mendampingi saat anak belajar itu sudah suatu bimbingan yang luar biasa.

Sibuk tak ada waktu..? Ah klise sekali. Rasanya suatu kebohongan besar saat kita berkata: saya sibuk gak ada waktu untuk anak. Emangnye elu sapa sampe gak ada waktu untuk anak..? Nonton bola tengah malam aja sempet, eh dampingin anak bentar aja kagak sempet… hehehe

Yang pernah saya lakukan adalah menyempatkan diri bersama anak untuk mendampingi belajar dan juga sembari bermain. Bermain..? Ya, sambil bermain untuk mengusir keletihan atau kebosanan krucil dalam perjuangannya. Belajar tidak hanya di dalam rumah, sesekali saya ajak ke tanah lapang atau lokasi lain, di pinggir sawah misalnya, sambil membawa buku dan… membawa alat bermain.

Krucil saya ikutkan bimbel tidak untuk semua pelajaran, dan tidak dilakukan setiap hari. Pemberian dorongan atau semangat yang bersifat “tidak mengancam” tetapi justru yang menumbuhkan semangat selalu dilakukan. Juga memberikan gambaran masa depan saat ia dapat meraih prestasi yang baik akan berakibat pada kesempatan yang lebih luas lagi untuk pengembangan diri. Beberapa cerita “masa lalu” saya ceritakan terkait dengan pencapaian hasil belajar.

Dengan prestasi masa lalu saya yang pas-pasan, tidaklah menjadi halangan untuk mengobarkan semangat pada krucil. Pemberian api semangat dengan benar (tanpa perlu membanding-bandingkan dengan orang lain atau temannya) akan dapat memacu diri krucil dengan pemikiran yang positif. Dan satu lagi, pemberian asupan makanan yang baik untuk menjaga kesehatan dan kebugarannya juga penting.

Alhamdulillah, krucil berhasil melewati masa transisi jenjang kependidikan dengan prestasi yang bagus (walau bukan yang terbaik). Ujian sekolah, ujian akhir nasional, dan ujian lainnya dilalui dengan baik. Mendapatkan sekolah yang diidamkan banyak orang dengan nilai yang mencukupi, tanpa perlu “sumbangan pendidikan” apapun sepeserpun… ehm…

Kebersamaan dengan anak dalam mengantar ia ke jenjang pendidikan lebih tinggi adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada menyerahkan sepenuhnya pada sekolah dan/atau bimbingan belajar.

Jangan percaya dulu pada pengalaman saya diatas, tetapi silakan buktikan sendiri dengan cara anda. Untuk anak sendiri kok percaya kata orang..?

: )

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: