Home > Dalam Kelas > Bercanda dalam dua bahasa..?

Bercanda dalam dua bahasa..?


Sumber: glasbergen.com

Sumber kartun: glasbergen.com

Dalam suatu tugas pengajaran pada kelas regional, pengajar diharuskan menggunakan bahasa Inggris. Saat saya mengalami pertama kali cukup membuat luncuran kata menjadi terbata.

Menggunakan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris, bukanlah hal baru bagi kita semua. Ini adalah bahasa yang telah saya kenal sejak saat pertama masuk SMP, dan bagi anak jaman sekarang mungkin saat play group atau PAUD pun sudah dikenalkan. Bahkan sebagian menjadi bahan ujian saat memasuki Sekolah Dasar untuk sekolah tertentu.

Ada dua macam cara dalam berbahasa Inggris bagi saya. Yang pertama adalah berbahasa yang formal, dengan segala macam kata santun dan tata bahasa yang benar. Hal ini sangat diperlukan saat forum resmi dan (apalagi jika) tampil di mimbar dalam penyampaian materi tertentu. Yang kedua adalah berbahasa dengan gaya nonformal, dan hal ini biasanya mengutamakan “yang penting sama-sama ngerti”.

Saat berada di depan kelas dan berbahasa Inggris tentunya diharuskan memakai bahasa yang formal. Nah ini gak mudah (ternyata).

Dalam menyampaikan materi tentunya tidak bisa bicara dengan “datar-datar” aja. Perlu adanya improvisasi terutama membuat kelas agar tetap segar. Improvisasi disini dapat dilakukan dengan melontarkan canda atau humor.

Pada penggunaan bahasa Indonesia, saya terbiasa membawa suatu masalah serius menjadi hal yang renyah dan kadang masuk area canda. Suatu ungkapan bisa diplesetkan atau dikaitkan dengan hal lain yang “gak nyambung” untuk mencairkan suasana. Bagi saya ini penting untuk membuat mahasiswa atau peserta dalam ruangan tidak terlalu “berat” dalam menerima materi.

Dalam bahasa Inggris ini menjadi lain. Saya yang tidak hidup di lingkungan berbahasa Inggris dan bukan pula guru bahasa Inggris menjadi miskin kosa kata. Yang timbul kemudian adalah kesulitan mendapatkan ungkapan dan kata-kata yang bisa dipelintir menjadi suatu candaan. Dan jika adapun tidak menjamin para pendengar, mahasiswa, menjadi tahu kalau itu adalah candaan belaka.

Yang kemudian saya coba adalah bercanda dengan gaya kehidupan sehari-hari tetapi hanya bahasanya saja yang diubah ke bahasa Inggris. Untuk beberapa ungkapan cukup berhasil. Tetapi sebagian besar hasilnya: garing kriuk kriuk, alias gak lucu lagi…

Dan becandaan yang gak menghasilkan kelucuan bisa membuat butir keringat mengalir sodara-sodara… hehe…

Bercanda atau melontarkan humor dalam bahasa Inggris ternyata… susah.

: )

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: