Saatnya teguran datang, untuk dosen

March 28, 2012 2 comments

theyoungandtheprecious.com

Pemberitahuan melalui surat mengenai keterlambatan/batas waktu penyelesaian skripsi ataupun thesis adalah hal biasa. Dapat terjadi pada tingkatan S1, S2 ataupun bahkan S3. Banyak kasus ditemui (atau dialami?) mengenai teguran semacam ini.

Penyebab dari datangnya pemberitahuan ini tentunya berlatarbelakang beragam kasus. Ada yang berasal dari “kesalahan mahasiswa”, dan tidak menutup kemungkinan pula disebabkan oleh “kesalahan dosen”.

Kesalahan mahasiswa, ini buanyak kasusnya. Bisa terjadi karena sang mahasiswa memang tidak mampu lagi untuk menyelesaikan kuliahnya karena kemampuan intelektualnya, kemampuan kesehatan fisik atau jiwanya, ada juga karena kemampuan finansialnya, ada juga karena kemampuan fokus dari kehidupannya (sudah berpenghasilan dan ini lebih menarik daripada kuliah), dan banyak lagi yang lainnya.

Kalau dari sisi dosen, apa saja kesalahan yang dapat ditimbulkan..?

Pada umumnya jumlah mahasiswa yang diperbolehkan dibimbing oleh seorang dosen dibatasi. Ini adalah untuk membuat rasio antara mahasiswa dan dosen pembimbing menjadi “masuk akal”, tentunya dari segi keilmuan dan juga waktu bimbingan. Pembatasan yang telah diberikan terkadang tetap tidak menyelesaikan problem yang terjadi kemudian hari, saat mana waktu bimbingan milik pak/bu dosen tergerus oleh waktu dalam menyelesaikan pekerjaan lainnya. Pekerjaan lain itu dapat berupa pekerjaan resmi dari penugasan kampus ataupun hal diluar penugasan.

Waktu pembimbingan mahasiswa dari dosen pembimbing yang telah tergerus seperti ini mangakibatkan terpinggirkannya si mahasiswa bimbingan. Saat mana sang mahasiswa memerlukan diskusi atau tatap muka, maka kendala utama adalah jadwal sang pembimbing yang tidak bisa diganggu gugat. Semua jadwal pertemuan pembimbingan dapat tercoret tanpa tersurat, dan diharuskan permakluman “yang terpaksa”. Maka waktu penelitian sang mahasiswa pun akan semakin molor dan molor.

Bahaya akan muncul saat mana surat teguran datang dari pihak yang berwenang di kampus. Maka biasanya sang mahasiswalah yang kemudian menjadi sasaran tembak yang paling baik… dor…

Adalah suatu hal yang bijak bilamana sang dosen lah yang ditegur lebih dulu dan diminta untuk memperbaiki kinerja bimbingannya. Kalaupun ada masalah yang terjadi pada si bimbingan maka sebaiknya dibantu secara maksimal oleh sang pembimbing dan (jika perlu) oleh pihak kampus.

Tidak ada alasan sang dosen terlalu sibuk untuk tidak peduli dengan bimbingannya. Walau tidak menutup kemungkinan justru mahasiswa bimbingan yang terlalu sibuk untuk bisa peduli pada tugas akhirnya…

; )

Generasi-Generasi Instan

March 26, 2012 5 comments

clip art, microsoft word

Source: clip art, Microsoft Word

Dari waktu kewaktu selalu terdengar keluhan mengenai perubahan yang tengah terjadi: generasi sekarang maunya yang instan saja, bisa dalam sekejap, tanpa perjuangan. Dan pendapat ini selalu diucapkan oleh semua pihak dalam menilai generasi juniornya.

Benarkah pendapat yang “merendahkan” tersebut? Apakah benar “generasi sekarang” maunya yang cepat dan gampang saja? Tidak ada proses dan perjuangan panjang?

Sebagian orang mengatakan: benar. Apalagi bagi yang pernah merasakan proses panjang dalam mencapai yang ingin diraihnya.

Sebagian lagi merasa tidak mampu menilai, karena merasa sebagai bagian kental dari penyuka gaya: “gampang dan cepat” alias gaya instan. Ehm, ini bagi yang jujur, tentunya…

Bagaimana dengan siswa/mahasiswa sekarang?

Bagi kalangan guru/dosen akan berpendapat yang berseberangan dengan para siswa/mahasiswa, mungkin… hehehe…

Yang saya temui di “lapangan pengajaran” (dimana saya berposisi sebagai pengajar, tentunya, ehm…), ada keduanya pada siswa/mahasiswa, yaitu: keinginan gampang dan cepat, dan kemauan melalui proses panjang.

Bagi kelompok siswa/mahasiswa instan akan terlihat sekali gaya mereka dalam menghadapi permasalahan, walau yang sekecil apapun. Saat diberikan tugas yang sangat ringanpun maka kecepatan mereka dalam bereaksi luar biasa. Reaksi apa?

Reaksi dalam bertanya mengenai bagaimana penyelesaian dari tugas tersebut!

Sebagian bahkan sangat tinggi frekuensinya dalam bertanya sehingga, sampai-sampai, setiap langkah proses ditanyakan detil. Lha kalo begini yang ngerjain tugas itu guru atau murid? Hehehe…

Bagi yang mau untuk memahami proses dalam mencapai hasil, ini juga banyak. Mereka tidak segan untuk bertanya sumber dari informasi yang ada ataupun mencari referensi yang disarankan. Bahkan tidak jarang saya justru yang belajar dari pencapaian mereka dalam memahami detil dari proses yang saya perintahkan untuk digali. Saling belajar.

Beberapa dari rekan mahasiswa kelompok terakhir ini mampu bekerja keras memompa diri untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Saya terkadang malah tidak terpikir bagaimana mereka bisa mempunyai energi yang begitu besar untuk mendalami masalah atau kasus yang diberikan.

Dari beberapa pengalaman itu saya menyadari bahwa “generasi instan” memang selalu ada disetiap masa, disetiap “generasi”. Generasi noninstan pun juga selalu ada.

Akan ada yang selalu ingin memudahkan dan, tanpa disadari, merendahkan dirinya sendiri. Tetapi banyak juga yang masih menyadari kalau proses memang diperlukan untuk mendapatkan hal terbaik.

Jadi jika dikatakan “generasi sekarang” selalu inginnya yang instan saja, pendapat ini bagi saya tidak selalu benar karena tidak mewakili dominan dari apa yang saya alami.

: )

Categories: Warung Kopi Tags: , , ,

Mendekatkan dunia dan menduniakan diri

March 13, 2012 4 comments

Friends of SATREPS

Kegiatan dalam Friends of SATREPS Workshop dan Peluncuran Multi Parametric Radar dan INA-TRITON Buoy.

Gaul di dunia maya melalui media sosial adalah hal biasa. Hampir semua yang kenal internet akrab dengan pergaulan melalui media sosial seperti Facebook, Plurk, Twitter, dan banyak lagi yang lainnya. Friends dan followers banyak juga yang berasal dari mancanegara. Ini adalah perubahan cara gaul yang luar biasa.

Dalam dunia pendidikan pun terjadi hal serupa. Banyak sekali guru/dosen dan (maha)siswa yang berinteraksi melalui media sosial. Interaksi tidak hanya antarkenalan dalam satu sekolah atau kampus, tetapi juga antarsekolah, antarkampus, dalam berbagai group dengan topik beragam. Banyak diskusi yang hidup walau tidak jarang juga yang jalan ditempat.

Bagaimana dengan interaksi langsung dalam tatap muka disuatu pertemuan khusus..? Seminar atau lokakarya misalnya..?

Saat saya masih “muda” (ehm), bertemu “para ahli” dalam suatu seminar atau lokakarya adalah suatu hal yang mewah. Apalagi saat tinggal di “daerah” yang tidak pernah tersentuh acara semacam itu. Saat kemudian berada di ibukota, mulailah tersentuh kegiatan pertemuan ilmiah dan ini sangat nikmat.

Interaksi langsung dengan para ahli membuat banyak hal baru yang muncul dalam benak. Kemunculan ini bisa berupa ide baru atau justru ide lama yang terpendam dan terkuak kembali. Yang jelas selalu ada semangat baru yang hadir setelah mengikuti pertemuan-pertemuan seperti ini.

Berdasarkan pengalaman pribadi itulah kemudian saya mengusulkan pada panitia “Friends of SATREPS Workshop” untuk dibolehkan mengundang rekan-rekan dari dunia pendidikan. Workshop yang diselenggarakan oleh program SATREPS MCCOE di BPPT pada tanggal 12 Maret 2012 menghadirkan para ahli dari negeri sendiri dan juga dari negara asing, Jepang.

Tema yang dibicarakan juga Indonesia banget, karena terkait dengan penelitian internasional yang dilakukan di wilayah Indonesia. Temanya terkait dengan pengembangan teknologi yang terkait dengan cuaca, dan sosialisasi pada masyarakat. Usul didukung, dan saya segera menghubungi beberapa simpul rekan.

Tujuan saya yaitu menambah pengalaman dan menumbuhkan semangat.

Bagi yang telah punya pengalaman maka akan bertambah sedangkan bagi yang belum maka akan membawa pada suasana baru. Dan kehadiran guru, dosen, siswa, dan mahasiswa pastilah akan menambah semangat berbagi keilmuan.

Kehadiran para pakar dalam negeri dan mancanegara, bahasan materi yang “tanpa batas wilayah”, kajian yang berteknologi tinggi sekaligus juga membumi, adalah warna yang saya harapkan dapat mendekatkan dunia pada para pelaku akademisi.

Apa yang terjadi dalam hiruk pikuk para ahli dunia sudah seharusnya juga didengar dan diketahui para pelaku keilmuan Indonesia. Apalagi wilayah negara kita adalah wilayah yang eksotis bagi kajian keilmuan atmosfer dan kelautan. Sudah seharusnya kita pun mendalami atau setidaknya punya semangat untuk mengetahui lebih jauh apa yang terjadi sesungguhnya.

Dalam workshop ini peserta juga diajak untuk bergabung dalam komunitas kajian keilmuan, yaitu Friends of SATREPS. Ini adalah media sosial untuk peminat komunikasi dunia. Hal yang menarik terjadi, banyak dari yang hadir segera bergabung dalam situs FoS ini.

Proses ini adalah keberanian dalam “menduniakan diri”. Kemampuan menghadirkan diri dalam komunitas dunia semacam ini adalah luar biasa. Bukan lebay, tapi saya mengaca pada diri sendiri.

Untuk memulai langkah ke komunitas level nasional saja nggak mudah. Diperlukan keberanian tersendiri. Apalagi melangkah ke komunitas internasional.

Yang perlu ditekankan disini adalah tidak perlu menunggu menjadi ahli untuk bisa ikut berdiskusi.

Terimakasih atas kehadiran rekan-rekan dari Kelompok Studi Primata (KSP) Macaca Universitas Negeri Jakarta, Uni Konserfasi Fauna (UKF) IPB, Kamuka Parwata Fakultas Teknik Universitas Indonesia (KAPA FTUI). Juga rekan-rekan dari MIT-IPB , Universitas Pertahanan, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro dan lain-lain yang menyempatkan hadir dengan semangat.

Dahsyat-nya lagi ada juga yang hadir dari SMP dan SMA, guru beserta murid, yang tentunya sangat membahagiakan. Berkenalan dengan dunia internasional, khususnya keilmuan tematik seperti ini sejak dini sangatlah asik.

Kehadiran dari komunitas blogger dan konservasi lingkungan melengkapi keberagaman peserta. Hal baru dalam kajian keilmuan atmosfer dan kelautan, juga aplikasi teknologi yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung, akan sangat efektif proses sosialisasinya jika dilakukan bersama.

Keberagaman yang luar biasa..!

Tampaknya, harapan untuk “mendekatkan dunia dan menduniakan diri” tidaklah terlalu muluk.

: )

Pemahaman Teroris dari Perspektif Angry Birds

March 4, 2012 1 comment

Angry Birds

The Angry Birds

Angry Birds, hampir semua yang membaca tulisan ini sudah pernah melihat character dari game yang sangat terkenal saat ini. Game yang sangat sederhana, tampakan hanya dalam dua dimensi, dan kemenangan hanya mengandalkan “keberuntungan” dalam bermain dengan katapel.

Keberuntungan..? Bukan, bukan keberuntungan. Tapi justru strategi jitu bagaimana menghancurkan sasaran dengan memanfaatkan peluru katapel yang dimiliki. Peluru katapel adalah berupa burung. Burung yang terdiri dari beberapa jenis dan mempunyai kemampuan menghancurkan yang berbeda-beda. Apa yang dihancurkan..?

Sasaran yang harus dihancurkan adalah bangunan yang mempunyai struktur unik dan merupakan tempat persembunyian binatang lain. Pada banyak “episode”, binatang yang bersembunyi di banyak sudut bangunan tersebut, adalah babi. Selain babi, pada episode tertentu, terdapat juga monyet.

Pertama kali saya berkenalan dengan game Angry Birds adalah melalui iPhone. Bukan iPhone saya, tetapi iPhone rekan dan saat itu ia tampaknya sedang keranjingan memainkan Angry Birds, dan inilah yang membuat saya tertarik. Dan saat pertama saya memainkan Angry Birds justru bukan diperangkat mobile tetapi di perambah Chrome. Pada Chrome Web Store terdapat Angry Birds dan mulailah saya ikut keranjingan memainkannya.

Selain dari perambah Chrome, akhirnya, saya juga bermain di perangkat  mobile saat mulai memakai hp bersistem operasi Android. Keasyikkan pun berlanjut. Setidaknya terinstal Angry Birds Rio dan Angry Birds Seasons di hp saya.

Permainan ini memang mengasyikkan. Walaupun idenya sangat sederhana, dan sudah banyak permainan serupa sejak jaman lalu, tetapi tetap saja mengasyikkan. Menentukan sasaran tembak pada struktur bangunan, kemudian mengatur kekuatan terbang burung, dan menentukan sudut awalannya dari katapel. Bagian dari bangunan yang terkena belum tentu menyebabkan kehancuran banyak bagian lainnya, tetapi tujuan akhir bukanlah hancurnya bangunan tetapi matinya binatang yang bersembunyi di dalam bangunan tersebut.

Bagaimana memainkannya dengan baik dan benar bukanlah tujuan saya dalam tulisan ini. Sangatlah banyak gamers yang telah mampu mendapatkan tiga bintang dalam setiap levelnya, dan itu bukanlah saya karena saya hanya penyuka Angry Birds sebagai pembunuh waktu saja.

Yang tertarik bagi saya adalah mengapa ada tokoh burung yang begitu bencinya terhadap babi..? Apakah yang melatarbelakangi kebencian itu sehingga segala cara dilakukan hanya untuk membunuh sang babi (dan kelompoknya)..?

Pertanyaan saya ini terjawab saat mana saya memerhatikan film singkat awal dari game ini.

Diceritakan bahwa keluarga burung sedang bersuka cita atas beberapa telur yang mereka miliki. Kegembiraan keluarga burung ini begitu terlihat dari ekspresi wajah yang dilukiskan dalam film tersebut.

Kegembiraan mereka ternyata tidak berlangsung lama. Sekelompok babi merebut telur-telur mereka dan melarikan diri ke “sarang”-nya. Sarang babi digambarkan mempunyai kemampuan perlidungan yang sangat kuat dan canggih. Para babi digambarkan mengeluarkan ekspresi yang mengejek para burung. Mereka sangat percaya diri untuk berlindung dalam bangunan rumahnya tersebut.

Disinilah awal cerita dari game ini bermula. Keluarga burung bertekad memburu para babi tadi, dan karena babi-babi gendut itu bersembunyi dalam rumahnya maka segala cara dilakukan oleh para burung. Ada yang hanya mengandalkan benturan saja dan hanya mengakibatkan dinding kayu rumah hancur. Selain kayu maka ia tidak dapat berbuat banyak, dan burung ini adalah burung kecil yang berwarna merah.

Ada yang mampu menghancurkan dinding yang terbuat dari es, sekaligus dapat membelah diri saat diangkasa menjadi tiga agar daya hantamnya bisa merusak lebih banyak lagi dinding es. Ini adalah burung berwarna biru dan bertubuh kecil.

The Angry Birds

The Angry Birds: pencurian telur oleh kelompok babi.

Ada jenis lainnya, yaitu burung berwarna putih bertubuh besar. Ia mempunyai kemampuan membawa bom, dan tugasnya adalah menjatuhkan bom di tempat tertentu untuk menghancurkan benda apa saja yang terkena ledakannya. Ada juga burung yang berwarna kuning dan mampu terbang dengan kecepatan tinggi untuk menembus beberapa dinding kayu sekaligus. Daya tembusnya cukup hebat.

Burung hitam, ia mampu menghancurkan dinding kayu dan kemudian… meledakkan diri..!!! Ledakannya mampu menghancurkan benda yang ada di sekelilingnya.

Tanpa bermaksud lebay, saya melihat ada keserupaan kondisi antara game Angry Birds (yang mungkin hanya sekedar game) dan kenyataan dalam kehidupan.

Dalam suatu adegan kehidupan, yang banyak terjadi dimana-mana, sekelompok manusia mempunyai kebahagiaan. Kebahagiaan ini kemudian terengut oleh ulah sekelompok manusia lainnya. Kebahagiaan itu tercuri dengan cara yang licik dan kemudian kelompok pencuri ini berlari bersembunyi.

Eh, bukan bersembunyi, tetapi justru menampakkan diri… dari balik bangunan kokoh yang dianggap tidak akan mampu ditembus oleh para pemilik sebenarnya dari barang yang mereka ambil. Para pencuri ini tertawa mengejek sambil selalu ketakutan.

Mengapa ketakutan..? Toh mereka sudah bersembunyi di bangunan yang sangat kokoh..?

Mereka “wajib” takut karena kelompok yang tercuri kebahagiaannya ini adalah kelompok yang militan. Mereka selalu berusaha untuk mendapatkan kebahagiaannya kembali… dengan berbagai cara, at all cost.

Setiap serangan yang mereka lakukan adalah serangan yang menyebabkan kematian. Apakah serangan itu berupa hantaman biasa ataupun dengan membawa bahan peledak, yaitu bom. Nyawa adalah taruhan dalam setiap serangan.

Dengan melihat dari perspektif perjuangan Angry Birds dalam usaha merebut kembali telur-telur mereka yang dicuri, mereka adalah para pahlawan bagi keluarga dan kelompoknya.

Tetapi bagaimana dengan anggapan para babi pencuri telur-telur burung..?

Para babi ini tentunya akan mengganggap para burung adalah teroris. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, teroris adalah “orang yg menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut”.

Dari perspektif para babi: kelompok babi adalah yang merasa selalu takut, mereka selalu bersembunyi. Sedangkan para burung adalah para teroris, yang selalu membuat kelompok babi ketakutan.

Bagaimana dari perspektif kelompok burung..? Siapakah teroris sesungguhnya..?

Pesan moral dari games ini adalah: janganlah membunuh babi karena para burunglah yang akan menghabisinya…

: )

Mau tahu rasa kotoran babi..?

February 19, 2012 2 comments

Survey Campillos

Survey di pedesaan Campillos

Merasakan makanan yang mengandung daging babi (mungkin) anda pernah. Tetapi merasakan kotoran babi..? Tidak semua orang, sekalipun penikmat babi, pernah mendapat kesempatan untuk merasakannya…! Saya termasuk kelompok yang sangat jarang itu.

KKN di daerah pertanian yang banyak terdapat peternakan babi memang mempunyai risiko yang besar. Risiko ini memang hanya untuk orang-orang “yang beruntung” mengalami hal yang tidak bisa ditolak lagi.

Kelompok tugas lapangan saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Salah satu aktivitas kami di lapangan adalah melihat kedalaman top soil dari beberapa titik sample yang sudah ditentukan.

Yang ditentukan adalah lokasi field-nya, sedangkan posisi titik yang harus diambil sample-nya terserah pada kami. Kami dapat menentukan sesuai dengan “buku manual” yang telah disiapkan. Yang menjadi konsentrasi kami adalah top soil pada lokasi dimana tanaman zaitun dan sunflower berada.

Bor tanah adalah senjata kami. Setelah titik ditentukan maka kami bergantian menggunakan bor. Berganti saat mengebor tanah memang tampaknya harus dilakukan, ini dikarenakan permukaan tanah memang sangat keras. Pemberian air untuk melunakkan titik pengeboran cukup membantu, namun itu berarti mengurangi jatah minum kami di tengah padang yang panasnya selalu mencapai 40 derajat Celsius.

Pada kedalaman tertentu pengeboran kami hentikan. Di bagian batang bor terdapat tanah dimana kami melakukan pengukuran mengenai tekstur, dan lain-lain.

Satu siang, kami mencapai lokasi pengeboran dan kami segera melakukan sesuai petunjuk pelaksanaan. Setelah titik terpilih, dan kami berikan air sedikit untuk memudahkan masuknya mata bor, bergantilah kami ngebor titik tersebut. Agak aneh karena di tanah ini terlihat agak gembur seolah baru saja disiram hujan. Beda dengan field sebelumnya.

Berhubung grup saya terdiri dari lima orang dimana dua diantaranya perempuan, maka tiga tersisalah yang selalu bertugas dalam pengeboran.

soil-testing

soil testing with probe (illustration)

Kedalaman sudah sesuai dan segera kami melakukan investigasi. Tekstur, warna, dan lain-lain selesai. Bagian akhir adalah… merasakannya… Ya, merasakan rasa tanah tersebut. Caranya adalah dengan menempelkan tanah pada indera pengecap kita, tentunya. Bagian ini adalah bagian yang paling tidak diinginkan, kami saling menolak dan menyodorkan ke yang lain. Biasanya, kesepakatan akhir adalah kami merasakan bersama-sama. Itulah kesepakatan yang terjadi untuk titik ini juga. Kami akan melakukan semua, merasakan tanah sample kami.

Satu, dua, tiga… dan semua merasakan tanah di indera perasa masing-masing.

Selesai, kami catat, dan segera membereskan peralatan dan buku untuk segera menuju ke titik yang lain.

Saat berjalan keluar dari field, kami melihat sebuah traktor dengan petani yang sedang mengoperasikannya. Traktor tersebut sedang menyemprotkan pupuk cair dari container di belakang traktor. Bau menyengat segera terasa. Bau yang selalu mengganggu kami karena terasa dari tempat kami menginap di desa Campillos. Bau dari peternakan babi…! Kami segera “membahas” bau ini dan…

Yup, benar, kesimpulan kami sama, sang petani sedang menyiramkan kotoran babi sebagai pupuk tanaman di padang zaitun ini untuk memperkaya zat organik pada top soil.

Eh… di padang zaitun ini..???

Artinya… tanah yang kami rasakan tadi, yang agak basah tadi, juga baru saja disemprot oleh pupuk nonkimia dari peternakan babi..???

Yeaaach…!!! Mau…???

Valentine’s Days, berhari-hari dengan Valentine

February 15, 2012 Leave a comment

Campillos

Padang zaitun di Campillos

Valentine’s Day, yang diartikan “hari kasih sayang” sudah jamak diramaikan oleh orang-orang. Yang meramaikan tentunya adalah orang-orang kota atau yang telah terjangkau informasi global via televisi dan internet. Hari “kasih-sayang” inipun semakin membesar setelah industri masuk, dan memang ternyata menjadi hari yang layak jual bagi para penghasil produk tahunan, baik berupa barang ataupun jasa. Arti sesungguhnya dari Valentine’s day itu apa, udah gak perlu dibahas lagi. Begitulah.

Saya pun pernah merasakan hari Valentine, mungkin tepatnya adalah “hari-hari Valentine”. Masa ini saya rasakan saat menjelang akhir dari studi master saya di negeri bawah air laut, Belanda.

Kenapa “hari-hari Valentine” dan bukannya “hari Valentine”..?

Karena saya merasakannya berhari-hari, bukan hanya satu hari saja.

Apakah ini tentang Valentine’s day yang diramaikan khalayak dunia..? Sayang sekali bukan. Ini adalah tentang hari-hari dimana saya “terpaksa” berjalan bersama dengan dosen saya yang bernama Valentine. Cewek..? Bukan juga. Ia seorang dosen cowok.

Pak Valentine saat itu adalah dosen baru. Malahan duluan saya yang masuk daripada dia ke sekolah itu. Ia masih tergolong muda dengan perawakan yang gemuk (maaf, mungkin lebih cocok: bulat). Gaya bicaranya santai, suaranya pelan dan bahkan nyaris tak terdengar. Kalau ia tertawa pasti akan membuat kita juga tertawa. Cukup baik dalam berkomunikasi dengan mahasiswa, walau terkesan pendiam.

Saat yang berkesan adalah saat beliau menjadi pendamping group kami di lapangan. Ini terjadi pada tahun 2003. Kegiatan lapangan yang saya maksud disini adalah semacam kegiatan KKN, atau kuliah kerja nyata. Saat mana para mahasiswa dicampur kemudian diterjunkan ke suatu daerah dan diberi tugas “menyelesaikan masalah” yang ada di daerah tersebut sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Kami dibagi menjadi dua kelompok, dan kelompok saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Saya satu-satunya orang Indonesia dalam kelompok Campillos ini.

Kelompok Campillos ini dibagi lagi menjadi 4 grup, dengan masing-masing grup terdiri dari lima mahasiswa. Pak Valentine menjadi pengawas kelompok kami, termasuk grup saya.

Apa yang unik dari pak Valentine ini..? Ia adalah orang yang selalu membawa buku acuan, buku referensi. Sepanjang kami melintas padang zaitun, padang sunflower, dan padang wheat, ia selalu merujuk pada buku sebagai panduan penjelasannya pada kami.

Begitu juga saat kami melakukan banyak hal terkait dengan pertanian dan spasial. Buku tak pernah lepas dari genggamannya dan juga “sepertinya” dia mengetahui sekali komputer dan internet. Tiap kali kami mencapai basecamp sepulang dari survey pagi dan melepas lelah sambil santap siang, ia selalu mengakses internet dan memberi kami perintah-perintah yang asik punya.

Asik punya disini adalah perintah atau pemberitahuan yang berkesan “kami tidak mengenal IT sama sekali”. Ia memberitahu ini-itu pada saya yang “tidak perlu” sama sekali. Dan perilaku ini juga berlaku saat saya dan grup berada di lapangan. Saat berada di tengah padang zaitun dalam rangka mapping dan pengambilan sample tanah.

Ia selalu menerangkan dengan detil berdasarkan “buku”. Menurut buku, kalau anda melakukan ini maka begini caranya. Menurut buku, kalau melakukan itu maka begitu caranya. Anda harus ini dan itu sesuai dengan buku manual ini. Titik.

Bisa dibayangkan bagaimana situasi lapangan jika dibatasi oleh buku dan buku saja..? Mmm, bagi anda yang belum pernah survey di lapangan mungkin tidak terlalu paham apa yang saya maksudkan, maaf.

Bagi saya, survey lapangan adalah hal yang biasa saya lakukan dalam berbagai jenis kondisi medan. Keberagaman kondisi dan juga situasi yang tidak menentu membuat kita harus bisa berimprovisasi saat melakukan pengukuran ataupun perekaman obyek. Buku adalah acuan ideal tetapi kondisi ideal hampir pasti tidak akan pernah kita temui pada saat survey yang sesungguhnya.

Perbedaan cara pandang dalam perekaman dan pengambilan sample lapangan membuat saya selalu melancarkan protes pada si pak dosen tersebut. Tidak jarang kami beradu argumen. Tidak jarang pula saya bersungut-sungut karena “tidak terima” dengan apa yang digariskan olehnya. Sementara anggota grup lainnya cenderung nrimo. Ehm, ternyata budaya nrimo bukan monopoli suku tertentu saja… : )

Pertentangan di lapangan dan juga saat diskusi di basecamp membuat suasana grup saya tidak terlalu nikmat. Dan ini harus dilalui sepanjang lebih kurang 20 hari, sodara-sodara

Suhu yang sangat panas disiang hari, selalu mencapai 40 derajat Celsius, ikut memanaskan semuanya. Musim panas, yang membuat waktu maghrib menjadi pukul 21:30, ikut menggerahkan perasaan… panas dan gersang…

Benar-benar KKN yang tidak asyik. Eh, nanti dulu, banyak juga asyiknya kok, terutama saat tim bisa melepaskan diri dari pengawasan si bapak dosen itu. Akan saya ceritakan pada waktu lain.

Setiap langkah dari grup kami selalu diganjal oleh buku si pak dosen. Bukan diganjal, mungkin, tetapi lebih tepat dibatasi oleh buku dan buku. Seolah grup kami benar-benar baru pertama kali menginjakkan kaki di alam ini.

Singkat cerita, kamipun selesai dan segera pulang ke desa perbatasan Belanda-Jerman, kota Enschede, dimana sekolah kami berada. Beberapa waktu kemudian kami mendapatkan nilai dari hasil kerja lapangan.

Dan… sayapun mendapat nilai minimal, sedangkan rekan-rekan satu grup lainnya mendapatkan nilai maksimal.

Pelajaran yang saya dapat: “untuk mendapatkan nilai maksimal maka budaya nrimo masih yang terbaik.”

: )

Say Hello from Agus ya… (tribute to AF)

February 15, 2012 4 comments

Tahun 2009, tahun pertama saya bertemu dan kenal dengan mas Agus. Dalam pertemuan pertama dalam kelas, saat sebelum memulai praktik Fundamental GIS, itulah saya mengenalnya. Dan kesimpulan pertama adalah: Agus adalah mahasiswa berkarakter pendiam.

Minggu-minggu selanjutnya semakin membuktikan bahwa mas Agus memang pendiam dibandingkan rekan-rekan lainnya dalam kelas 2009 ini. Pendiam tapi tidak berarti lambat dalam mengikuti pelajaran, walau hampir semua yang ia pelajari adalah hal baru baginya.

Mas Agus mempunyai latar belakang pendidikan pertanian, dan ia adalah salah satu guru SPMA di Singkawang, Kalimantan Barat (maaf kalau salah kota). Dan saat menempuh strata-2 di Master of Science in Information Technology for Natural Resources Management (MIT-IPB) yang ia pelajari memanglah “rada jauh” dari apa yang telah ia kenal sebelumnya.

Hal ini yang tentunya membuat ia agak berat dalam menjalani penerapan semua ilmu yang dijejalkan oleh dewan pengajar. Tapi waktu membuktikan bahwa semua itu bisa dilalui dengan baik. Terbukti kemudian, mas Agus bisa menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang baik pula.

Walau kemudian setelah lulus mas Agus tidak sempat menyiarkan ilmu yang didapatnya. Ia sakit dan dirawat di Rumah Sakit di jakarta, dan karena itu pula ia tak sempat ikut menikmati keindahan pergelaran wisuda bersama rekan-rekannya yang lain.

Lama tak terdengar kabarnya, dan akhirnya pada tanggal 5 Februari 2012 saya mendengar kabar akan kepergian mas Agus, kepergian selama-lamanya kembali ke Sang Pencipta. Ia meninggal dengan ditunggui oleh keluarga tercinta di kota Ketapang, Kalimantan Barat.

Yang selalu terbayang oleh saya adalah:

Saat bercanda (baca: “ngerjain”) dengan mas Agus di dalam lab komputer, dengan mengikuti iklan produk “3″ yang selalu tayang di televisi saat itu. Niat saya saat itu hanya satu: membuat mas Agus bisa tertawa lepas seperti rekan-rekannya yang lain… Agak berhasil…

Selain itu saya juga teringat saat bersama beliau dan rekan-rekan mahasiswa angkatan 2009 ke Cibodas dalam rangka bermain dan belajar GPS dan mencari TTG (Titik Tinggi Geodesi) di sepanjang Cipanas – Cisarua.

Saya yakin, kebersamaan anda dengan rekan-rekan selama di MIT-IPB tidaklah sia-sia, karena banyak pelajaran yang kami timba dari mas Agus.

Semoga Allah memberi ketabahan dan kekuatan pada keluarga yang ditinggalkan.

Selamat jalan mas Agus Fitriadi.

Categories: Warung Kopi Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 526 other followers