Archive

Archive for the ‘Warung Kopi’ Category

Menggadaikan anak, menyelesaikan masalah dengan masalah

May 16, 2012 Leave a comment

Pegadaian anak, menyelesaikan masalah dengan masalah.

Menjelang tahun ajaran baru adalah saatnya (beberapa) orang tua menggadaikan anaknya. Anak yang telah dipelihara oleh sang orang tua (dan pembantu) sejak bayi mulai digadai ke sekolah-sekolah hebat. Inilah gejala yang terlihat sangat jelas, dan semakin jelas.

Menggadai anak..? Ya, ini adalah proses penggadaian anak. Dalam proses penggadaian biasanya pegadai akan mendapatkan rupiah atau barang sebagai bayaran dari barang yang digadainya. Dalam kasus ini tidak demikian. Ortu akan dengan sukarela mengeluarkan uang (dan barang) demi lakunya si anak.

Maksudnya..?

Orang tua dari golongan ekonomi mapan mempunyai bekal yang cukup untuk menyekolahkan anaknya dimanapun. Banyak sekolah yang menawarkan sistem pembelajaran yang sangat menarik hati. Termasuk penjejalan materi yang luar biasa melebihi dari kurikulum yang telah ada, yang juga sudah luar biasa beratnya itu.

Fasilitas dari sekolah ini, biasanya sekolah swasta, memang sangat hebat. Sebagian dari mereka menawarkan pemberian materi yang marathon sejak pagi hingga petang. Ortu dijanjikan tidak perlu lagi menitipkan pada les atau bimbel yang ada, semua akan tertangani oleh sekolah. Ada juga yang menawarkan asrama (kemudian biasa disebut sebagai dormitori). Sehingga si anak lebih fokus lagi sekolah dan bisa sangat terkontrol kehadirannya, katanya.

Penawaran ini berbuntut menyenangkan bagi sebagian ortu. Tentunya uang bukanlah lagi kendala bagi para ortu ini. Seberapapun akan disiapkan dan digelontorkan untuk sekolah pilihan ini, sekalipun tidak jarang sekolah tersebut adalah sekolah baru yang lokasinya di ujung dunia.

Adakah yang salah dengan penawaran fasilitas ini..? Bukan hal ini yang saya akan tekankan.

Tanpa disadari, penawaran fasilitas luar biasa tersebut membuat para ortu berpikir untuk menggadaikan anaknya. Dalam menyekolahkan si anak, dasar pemikirannya adalah:

  • Kan kamu tahu kalau saya ilmu agamanya kurang, jadi dengan disekolahkan di sana saya berharap anak saya bisa memahami agama lebih baik, nggak seperti bapaknya ini.
  • Jujur aja, saya itu takut tidak bisa menjalankan amanah. Amanah sebagai ortu terhadap anak itu berat lho. Makanya saya titipkan anak saya di sekolah yang sudah menjamin kehidupan agama dan pengetahuan teknologi anak saya. Kan uangnya dari hasil kerja keras saya juga.
  • Begini mas, waktu saya dengan anak-anak itu cuma Sabtu dan Minggu, jadi selain hari itu mereka sebaiknya full untuk sekolah demi masa depan mereka. Ngapain main di rumah atau tetangga?
  • Kamu tahu, dengan hidup di dormitori maka anak saya akan lebih mandiri, bisa mengatur diri sendiri. Itu kan positif banget untuk kedepannya. Lagian kan gak perlu ongkos harian lagi, transportasi misalnya.
  • Ini kan fasilitas, jadi sudah beres urusan anak. Saya dan istri tugasnya cari duit untuk mereka.

Itu adalah beberapa alasan dari para ortu dalam melepas anaknya ke sekolah-sekolah hebat tadi.

Masuk akal sehat kah..?

Bagi saya: nggak lah..! Itu adalah alasan bagi para pengecut, yang terkadang bersilat lidah dengan dasar logika agama yang terbalik.

Secara lahir dan bathin si anak akan hidup dalam dunianya dan semakin menjauh dari anda. Pengakuan yang jujur bagi ortu yang telah mengalaminya biasanya tidak kan terucapkan, karena kehancuran hatilah yang ada.

Niat yang salah telah menyebabkan langkah selanjutnya juga salah, hingga akhirnya menjadikan penyelesaian masalah dengan menimbulkan masalah baru berjangka panjang.

Mari benahi niat dalam menyekolahkan anak kita, dan janganlah jadi orang tua yang pengecut.

Sekolah adalah salah satu sarana pendidikan dari banyak hal lain. Pendidikan terpenting adalah di keluarga, dengan pendidik terbaik adalah ortu si anak tersebut.

Mendapatkan sekolah yang baik itu adalah hal bagus, tetapi menjadi ortu yang bertanggungjawab sebagai pendidik yang benar itu adalah hal yang terbaik bagi anak kita.

Janganlah menggadaikan anak demi alasan apapun. Sekali ia tergadai, maka ia akan menghilang selamanya…

: )

Categories: Warung Kopi Tags: , ,

Oleh-oleh dan harapan dari Jerman

April 28, 2012 1 comment
Aksi Protes PPI Jerman

Aksi Protes PPI Jerman @ Youtube

Belum lama ini beredar rekaman video cuplikan kegiatan Anggota Komisi I DPR-RI yang sedang berkunjung ke Jerman. Video unggahan PPIBerlinPers di Youtube ini cukup menggairahkan para penyimaknya. Mengapa demikian? Bukan karena isinya tetapi karena segala hal yang terkait dengan kegiatan politisi dewan dan mahasiswa mempunyai daya tarik publik yang sangat-sangat kuat. Apapun isinya.

Bagi saya pribadi, saat mana mengetahui pertama mengenai video ini, tidaklah tertarik. Ini klise boo. Aksi mahasiswa adalah gerakan, dan yang bergerak kemudian adalah energinya, bukan pelakunya. Artinya, apapun yang disuarakan atau dilakukan maka efeknyalah yang akan berjalan, tidak melekat pada para individu yang melakukannya.

Terbukti berkali-kali bahwa para demonstran akan menjadi lemah lembut saat menjadi bagian dari rejim penguasa. Suara lantang sang pelaku yang pernah disuarakan dimanapun berada akan hilang terserap waktu dan sangu.

Jadi apa yang baru dari aksi ini? Saya tidak tertarik membaca beritanya di berbagai media.

Tetapi pagi ini saya membaca sebuah status dalam Facebook oleh meneer Ikhlasul Amal, yang berbunyi:

Jadi mohon adik-adik PPI nanti jika sudah kembali ke Indonesia tetap dapat melanjutkan gaya hidup tertib dan benar seperti yang kalian alami sekarang di mancanegara. Itulah oleh-oleh yang paling berharga dari kalian, sedangkan yang lainnya dapat dengan mudah diperoleh lewat Internet. Kalian sudah melakukan studi banding bertahun-tahun, kan?

membuat saya tergerak mengetik beberapa hal terkait dengan hal ini.

Pertama, kegiatan para anggota DPR-RI adalah hal biasa, maksudnya selalu dilakukan setiap tahun. Apapun kata publik (termasuk mahasiswa), apapun kondisi masyarakat Indonesia saat itu, mereka tetap melakukan perjalanan. Jadi tidak ada yang aneh lagi dengan kelakuan para pemilik suara rakyat ini. Anggaran harus diserap, kesempatan harus didapat, apalagi..?

Yang kedua adalah reaksi mahasiswa di luar negeri, di negeri yang dikunjungi oleh para wakil rakyat ini tentunya. Ini juga sudah biasa, setiap kunjungan kemanapun selalu dikritisi dengan cara masing-masing. Masih ingat kelucuan saat kunjungan ke Australia beberapa waktu lalu, dan tertangkap keluguan mengenai alamat surel dari para anggota dewan? Walaupun mungkin sang anggota dewan membawa gadget tercanggih saat itu, tetap saja ditanya tentang surel jadi wagu.

Untuk kualitas anggota dewan dari segi apapun dan yang berasal dari partai warna apapun saya tidak akan mengomentari. Karena tentunya akan sia-sia, tidak akan berguna sama sekali. Untuk anggota dewan: END.

Bagaimana dengan para mahasiswa..?

Apapun latar belakang anda, yang sangat mungkin juga berasal dari KAMPUNG (tersebut oleh perwakilan mahasiswa dalam video Jerman tersebut diatas), saya masih mempunyai harapan.

Harapannya adalah menyerap semaksimal mungkin pengalaman anda, baik di kampus maupun luar kampus, saat anda masih berada di negara asing. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari, baik dari sisi buruk maupun baiknya. Sangat luas..?

Lebih sempit lagi adalah di bidang pendidikan.

Tidak sedikit mahasiswa S2 ataupun S3 yang bersekolah di luar negeri sambil menyertakan keluarganya. Artinya banyak juga yang menyekolahkan anaknya di negara tersebut, yang otomatis mengikuti sistem pendidikan yang ada di sana. Pendidikan pada tingkat PAUD, tahap sekolah dasar, maupun sekolah menengah.

Apa yang anak anda alami di negeri tersebut..? Sistem apa yang diterima dan dijalankan oleh generasi muda di “negara maju” tersebut? Seberapa beratkah beban mereka dalam menempuh pendidikannya?

Mengapa hal ini saya anggap penting? Karena saya yakin sebagian dari anda, mahasiswa yang menyekolahkan anaknya di sana, adalah kelak menjadi pembuat (atau bagian dari tim) kurikulum pendidikan di negeri kita. Kemampuan anda dalam membuat batasan, tahapan, dan bahkan materi ajar sangat diperlukan. Dan hal ini tidaklah sederhana.

Bagi yang pernah mengalami membawa keluarga, baik di daratan Amerika Utara, Eropa Barat, Australia, maupun timur jauh, tentunya akan mahfum dengan yang saya maksudkan. Metode pendekatan dalam dunia pendidikan usia belia di negara maju tersebut sangat berbeda dengan di negeri kita tercinta.

Mampukah anda sekalian kelak menjadi pengubah dasar dari sistem pendidikan anak-anak belia kita? Setelah bertahun hidup di “negara maju” dalam bidang pendidikan, tentunya banyak sekali yang dapat menjadi masukan, tanpa perlu lagi melakukan “studi banding” seperti yang diharapkan rekan Ikhlasus Amal (mantan penduduk Groningen, Belanda) dalam status Facebook-nya diatas.

Jangan sampai selalu terulang, saat menjadi (atau bagian dari) penentu kebijakan pendidikan maka segera dianggarkan studi banding ke negara-negara asing. Saya berasumsi pengalaman yang anda alami saat pendidikan tentunya sudah cukup untuk bisa melihat dengan lebih baik, daripada studi banding yang hanya berdurasi beberapa hari dan direpotkan dengan tas belanja.. ; )

Dan sangat diharapkan, siapapun dan dimanapun anda menjadi mahasiswa, janganlah menyumpahi kondisi negeri sendiri saat ini dan terlebih saat pulang nanti. Ikut serta membangun negeri pada bidang masing-masing lebih diutamakan.

Seperti kata iklan: Talk Less Do More…

: )

Membimbing krucil ke jenjang lebih tinggi

April 26, 2012 Leave a comment

Sumber gambar: theage.com.au

Krucil adalah sebutan untuk anak-anak saya versi saya dan digunakan hanya oleh saya sendiri. Sampai tulisan ini terpublikasi maka saya baru mempunyai satu kali pengalaman membawa krucil ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ini terjadi pada tahun 2010, saat krucil yang tertua mengakhiri pendidikan di Sekolah Dasar dan memulai Sekolah Menengah Pertama. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, rasa khawatir dan panik justru lebih membebani orang tua daripada sang anak sendiri hehehe… Ortu berpikir segala kemungkinan yang mungkin terjadi, dan berharap tinggi akan capaian sang anak. Sedangkan pada si anak sendiri lebih terbebani bagaimana bisa menyelesaikan soal ujian kemudian tetap bersama dengan sahabat akrabnya saat di SMP.

Mungkin demikianlah yang terjadi pada umumnya.

Kepanikan ortu seringkali justru membebani si anak dalam melewati masa transisi jenjang kependidikannya. Hal ini dapat kita lihat dari  banyaknya les (bimbingan belajar) yang harus diikuti oleh si anak. Sepulang sekolah si anak harus ikut ini di sana dan ikut itu di situ. Sepulang dari les, tanpa istirahat, di rumah telah menunggu guru private yang akan memberikan materi tambahan.

Luar biasa, si anak benar-benar dipacu untuk… untuk apa ya..? Mendapatkan nilai..? Mendapatkan kebanggaan ortu..? Atau justru akan mendapatkan jiwa anak yang sakit..?

Ya, jiwa anak bisa sakit dengan perlakuan ortu yang luar biasa seperti itu. Anak akan tertekan dengan hebat, baik secara fisik maupun psikis. Tak jarang justru semua yang dipaksakan untuk “ditelan” oleh sang anak tersebut bisa termuntahkan kembali dalam beragam cara.

Anak bisa sakit karena stres atau depresi, bahkan ada yang terganggu fungsi otaknya. Anak juga bisa menjadi bosan dengan segala asupan berlebihan itu. Anak juga bisa memberontak dengan caranya sendiri.

Orang tua yang mengandalkan proses instan pada anaknya untuk mendapatkan yang diinginkan seperti ini adalah mengerikan. Anak kita bukanlah mesin yang dapat dipaksakan kerjanya hanya dengan sekali tekan tombol, saat tombol ditekan maka semua akan menjadi hebat.

Anak kita adalah juga manusia sama dengan sang orang tua sendiri. Tidak bisa dipaksakan sesuai dengan kemauan orang tua walaupun sang ortu bisa melakukan apapun karena keberadaan materi berkecukupan dan sikon memungkinkan.

Penguasaan materi sekolah memanglah penting, tetapi caranya harus sebaik mungkin bagi semua, si anak maupun ortu. Ini menuntut kemampuan ortu untuk bisa membimbing si anak secara langsung. Pembimbingan tentunya tidak berarti ortu harus menguasai mata pelajarannya, tetapi mendampingi saat anak belajar itu sudah suatu bimbingan yang luar biasa.

Sibuk tak ada waktu..? Ah klise sekali. Rasanya suatu kebohongan besar saat kita berkata: saya sibuk gak ada waktu untuk anak. Emangnye elu sapa sampe gak ada waktu untuk anak..? Nonton bola tengah malam aja sempet, eh dampingin anak bentar aja kagak sempet… hehehe

Yang pernah saya lakukan adalah menyempatkan diri bersama anak untuk mendampingi belajar dan juga sembari bermain. Bermain..? Ya, sambil bermain untuk mengusir keletihan atau kebosanan krucil dalam perjuangannya. Belajar tidak hanya di dalam rumah, sesekali saya ajak ke tanah lapang atau lokasi lain, di pinggir sawah misalnya, sambil membawa buku dan… membawa alat bermain.

Krucil saya ikutkan bimbel tidak untuk semua pelajaran, dan tidak dilakukan setiap hari. Pemberian dorongan atau semangat yang bersifat “tidak mengancam” tetapi justru yang menumbuhkan semangat selalu dilakukan. Juga memberikan gambaran masa depan saat ia dapat meraih prestasi yang baik akan berakibat pada kesempatan yang lebih luas lagi untuk pengembangan diri. Beberapa cerita “masa lalu” saya ceritakan terkait dengan pencapaian hasil belajar.

Dengan prestasi masa lalu saya yang pas-pasan, tidaklah menjadi halangan untuk mengobarkan semangat pada krucil. Pemberian api semangat dengan benar (tanpa perlu membanding-bandingkan dengan orang lain atau temannya) akan dapat memacu diri krucil dengan pemikiran yang positif. Dan satu lagi, pemberian asupan makanan yang baik untuk menjaga kesehatan dan kebugarannya juga penting.

Alhamdulillah, krucil berhasil melewati masa transisi jenjang kependidikan dengan prestasi yang bagus (walau bukan yang terbaik). Ujian sekolah, ujian akhir nasional, dan ujian lainnya dilalui dengan baik. Mendapatkan sekolah yang diidamkan banyak orang dengan nilai yang mencukupi, tanpa perlu “sumbangan pendidikan” apapun sepeserpun… ehm…

Kebersamaan dengan anak dalam mengantar ia ke jenjang pendidikan lebih tinggi adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada menyerahkan sepenuhnya pada sekolah dan/atau bimbingan belajar.

Jangan percaya dulu pada pengalaman saya diatas, tetapi silakan buktikan sendiri dengan cara anda. Untuk anak sendiri kok percaya kata orang..?

: )

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 526 other followers