Archive

Archive for the ‘Tugas Akhir’ Category

Saatnya teguran datang, untuk dosen

March 28, 2012 2 comments

theyoungandtheprecious.com

Pemberitahuan melalui surat mengenai keterlambatan/batas waktu penyelesaian skripsi ataupun thesis adalah hal biasa. Dapat terjadi pada tingkatan S1, S2 ataupun bahkan S3. Banyak kasus ditemui (atau dialami?) mengenai teguran semacam ini.

Penyebab dari datangnya pemberitahuan ini tentunya berlatarbelakang beragam kasus. Ada yang berasal dari “kesalahan mahasiswa”, dan tidak menutup kemungkinan pula disebabkan oleh “kesalahan dosen”.

Kesalahan mahasiswa, ini buanyak kasusnya. Bisa terjadi karena sang mahasiswa memang tidak mampu lagi untuk menyelesaikan kuliahnya karena kemampuan intelektualnya, kemampuan kesehatan fisik atau jiwanya, ada juga karena kemampuan finansialnya, ada juga karena kemampuan fokus dari kehidupannya (sudah berpenghasilan dan ini lebih menarik daripada kuliah), dan banyak lagi yang lainnya.

Kalau dari sisi dosen, apa saja kesalahan yang dapat ditimbulkan..?

Pada umumnya jumlah mahasiswa yang diperbolehkan dibimbing oleh seorang dosen dibatasi. Ini adalah untuk membuat rasio antara mahasiswa dan dosen pembimbing menjadi “masuk akal”, tentunya dari segi keilmuan dan juga waktu bimbingan. Pembatasan yang telah diberikan terkadang tetap tidak menyelesaikan problem yang terjadi kemudian hari, saat mana waktu bimbingan milik pak/bu dosen tergerus oleh waktu dalam menyelesaikan pekerjaan lainnya. Pekerjaan lain itu dapat berupa pekerjaan resmi dari penugasan kampus ataupun hal diluar penugasan.

Waktu pembimbingan mahasiswa dari dosen pembimbing yang telah tergerus seperti ini mangakibatkan terpinggirkannya si mahasiswa bimbingan. Saat mana sang mahasiswa memerlukan diskusi atau tatap muka, maka kendala utama adalah jadwal sang pembimbing yang tidak bisa diganggu gugat. Semua jadwal pertemuan pembimbingan dapat tercoret tanpa tersurat, dan diharuskan permakluman “yang terpaksa”. Maka waktu penelitian sang mahasiswa pun akan semakin molor dan molor.

Bahaya akan muncul saat mana surat teguran datang dari pihak yang berwenang di kampus. Maka biasanya sang mahasiswalah yang kemudian menjadi sasaran tembak yang paling baik… dor…

Adalah suatu hal yang bijak bilamana sang dosen lah yang ditegur lebih dulu dan diminta untuk memperbaiki kinerja bimbingannya. Kalaupun ada masalah yang terjadi pada si bimbingan maka sebaiknya dibantu secara maksimal oleh sang pembimbing dan (jika perlu) oleh pihak kampus.

Tidak ada alasan sang dosen terlalu sibuk untuk tidak peduli dengan bimbingannya. Walau tidak menutup kemungkinan justru mahasiswa bimbingan yang terlalu sibuk untuk bisa peduli pada tugas akhirnya…

; )

Rajin itu ternyata Menjengkelkan

February 11, 2012 8 comments

Hari ini teringat akan mahasiswa yang pernah mendapat bimbingan tugas akhir dari saya. Ia termasuk mahasiswa yang rajin, bahkan sangat rajin. Dan ternyata rajin itu menjengkelkan juga.

Dina, sebut saja demikian, adalah mahasiswa yang menjadikan saya pembimbing kedua dalam pengerjaan Tugas Akhir-nya. Pembimbing utama tentunya adalah dosen dari kampus Dina di Dramaga Bogor, yang kebetulan saya kenal baik juga.

Dina memulai konsultasi dengan konsep yang saya nilai tidak terlalu mentah.

Ia sudah memersiapkan bahan sebelum bertemu dengan saya, dan saat pertemuan tentunya diskusi langsung pada inti permasalahan tanpa hambatan. Ia sangat rajin mencatat apa yang saya terangkan, dan menanyakan detil yang ia belum pahami. Menarik.

Saya katakan menarik karena kondisi ini adalah kondisi yang saya sangat sukai, dimana saat diskusi dilaksanakan tidak selalu dimulai dari nol. Diskusi akan berjalan saat mana kedua pihak telah memahami permasalahan walau dari sudut yang bertentangan, sekalipun dengan bobot yang berbeda. Dina selalu datang dengan sejumlah artileri yang siap ditembakkan ke saya dalam pertanyaan-pertanyaannya yang cukup tajam.

Dalam setiap pertemuan Dina datang dengan selalu rajin melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang “penuh serangan”.

Ini menjengkelkan, sodara-sodara

Lho..? Bagaimana bisa sesuatu yang menarik tetapi menjengkelkan..?

Jelas saja, karena kata “menjengkelkan” ini sebenarnya adalah arti dari “capek”-nya saya menjawab. Saya harus lebih memeras otak, mencari referensi, dan mengrenyitkan dahi lebih dalam tiap kali diskusi berlangsung. Sekalipun saya adalah pembimbingnya, tetapi saya kan manusia juga, yang kadang cape memeras otak yang sudah uzur ini demi memuaskan jawaban yang terlontar… hehehe…

Dina berhasil selesai dengan hasil yang baik sekali, walau saat sidang ada sedikit halangan teknis.

Selamat ya Dina, ada sudah bisa membuat saya “jengkel”…

: )

Categories: Tugas Akhir Tags: ,

Semangat tidak boleh diabaikan

February 5, 2012 2 comments

Seorang mahasiswi meminta saya menjadi salah satu pembimbingnya. Deal. Dan berlangsunglah proses pembimbingan dalam menyelesaikan Tugas Akhir. Pertemuan demi pertemuan dilaksanakan, diskusi tentang skup kajian dan metoda serta data juga dibicarakan. Sampai akhirnya ia menghilang beberapa saat.

Tanpa berprasangka buruk, saya biarkan Wati (sebut saja demikian) menghilang sejenak. Sampai akhirnya ia datang lagi dengan kelengkapan survey. Yup, ia siap pergi survey hari itu juga diantar oleh suaminya dengan kondisi… sedang hamil. Wah, saya langsung wanti-wanti untuk lebih memikirkan kondisinya saat itu, dan ada baiknya sementara survey ditunda dulu.

Tetapi ternyata Wati punya kemauan yang keras untuk segera menyelesaikan proses data dengan data lapangan. Baiklah, karena ada sang suami tercinta yang mendampingi maka saya serahkan pada keputusan ia dan suami. Mereka berangkat.

Lama tidak ada kabar, dan saya (akhirnya) mendapat berita dari rekannya bahwa Wati sedang off dari kuliah dan mempersiapkan kelahiran sang bayi. Baiklah, saya maklum sangat akan kondisi ini. Selama prosedur kampusnya membolehkan, bagi saya nggak masalah sama sekali.

Kembali waktu bergulir dan tidak ada kabar dari yang bersangkutan. Saya lagi-lagi mendapat kabar dari rekannya bahwa Wati telah melahirkan dengan selamat (alhamdulillah) dan… ada masalah dengan sang bayi… Hal ini yang membuat ia tidak bisa langsung memulai kembali kegiatan kampusnya…

Saya tetap menjaga kontak dengan sumber informasi, yaitu rekannya. Sedangkan Wati sendiri tidak bisa saya kontak.

Waktu berlalu… lama…

Sampai akhirnya datang juga kabar bahwa ia sudah kembali ke kampus, dan segera menyelesaikan Tugas Akhir yang tertunda. Wow…! Luar biasa. kembali ke kampus dan langsung bergulir kembali kegiatan TA-nya. Dan tidak berapa lama ia siap untuk tahap-tahap ujian akhir…

Pada sidang akhir, saya hadir ke kampus dan ikut serta sebagai dosen penguji. Wati tampak tegar dan siap dengan materi TA yang telah ia selesaikan. Dan… ia lulus dengan baik.

Terimakasih Wati, anda sudah memberi saya pelajaran bagaimana anda menjaga konsistensi penyelesaian tugas walau menghadapi kondisi yang “tidak biasa”. Mengandung, melahirkan, dan kemudian harus memberi perhatian yang lebih pada bayi karena kondisi yang tidak normal ternyata tidak melunturkan semangat anda dalam menyelesaikan “amanah” dari orang tua anda.

Semoga anda sukses dalam menempuh kehidupan bersama keluarga tercinta.

Categories: Tugas Akhir
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 526 other followers