Menyulam dan Matematika

Gambar dari berbagai sumber.
Ada apa dengan menyulam dan matematika..? Atau, setidaknya, apa hubungan menyulam dan matematika sehingga menjadi judul tulisan kali ini..?
Menyulam adalah kegiatan yang dilakukan oleh perempuan, bersenjatakan jarum sulam dan benang sulam dan panel sulam. Dikerjakan sambil mengantuk sembari mendengarkan suara radio atau ocehan sinetron di televisi. Perempuan yang menyulam biasanya yang sudah berumur cukup tua dan sudah punya cucu.
Itulah yang terbayang sebagian dari kita jika mendengar ada kegiatan menyulam.
Bagi saya tidak demikian.
Penyulam adalah orang yang wajib mempunyai kemampuan nalar dan ketahanan mental yang baik. Menyulam adalah melakukan suatu pekerjaan yang penuh konsentrasi dan sekaligus diperlukan kesabaran dan kemampuan menghitung yang baik. Dalam membentuk suatu pola pada panel sulam maka perhitungan geometris diperlukan. Hitungan keruangan harus dikuasai karena sangat berpengaruh pada hasil akhir.
Menyulam diawali dengan memasukkan benang ke lubang jarum, diperlukan ketelitian dan presisi serta kemampuan taktik yang jitu. Benang yang kering akan beda dengan benang yang basah, dan tingkat keberhasilan memasukkan benang ke lubang jarum akan semakin baik bagi yang sudah terlatih.
Menyulam memerlukan suatu kesabaran yang tinggi dalam melakukan pengulangan-pengulangan. Perkerjaan yang berulang cenderung membuat pelaku semakin mahir atau justru semakin ceroboh. Untuk menjadi semakin mahir maka diperlukan juga kemampuan untuk selalu membuka pikiran bahwa ada seribu satu cara dalam menyelesaikan sulaman, walau perkerjaan detilnya adalah pengulangan benang yang dimasukkan pada panel sulam. Jika berpikiran sempit maka akan segera gagal total dari awal.
Kemampuan memilah dan memadukan warna juga menjadi persyaratan untuk menjadi penyulam handal. Tanpa paduan warna yang baik maka semua hasil akan terasa hambar dan tidak disukai oleh pemakai. Warna adalah bahasa.
Bagaimana dengan matematika..?
Pemain matematika harus mempunyai kemampuan layaknya penyulam. Pemain matematika harus juga mempunyai kemampuan nalar dan ketahanan mental yang prima.
Dalam matematika didapat pengulangan proses yang luar biasa banyak. Diawali dengan kemampuan menalar untuk memulai langkah awal. Jika ide langkah sudah didapat maka segera dicobakan dengan menjalankannya dengan teliti. Salah melangkah berarti selanjutnya akan salah juga.
Konsentrasi selalu digunakan untuk membuat pengerjaan sesuai dengan hukum yang berlaku, penguasaan permasalahan juga harus dimiliki. Pengerjaan yang panjang bisa menyesatkan jika tidak dikuasai permasalahan dengan baik.
Pemikiran juga harus terbuka, karena ada seribu cara dalam menyelesaikan persoalan matematika. Diperlukan wawasan yang baik dan tentunya ketabahan dalam menguraikan permasalahan hingga terpecahkan.
Menyulam dan matematika merupakan pekerjaan yang serupa. Kebutuhan dasar dan kemampuan pelakunya tidak sekedarnya saja.
Tetapi apakah penyulam selalu mahir matematika dan/atau pemain matematika selalu mahir menyulam..?
Tidak harus demikian kan..?
Tetapi jika nalar kita mampu untuk menganalisis kekuatan dari proses keduanya, maka disanalah pesan yang ingin saya sampaikan.
Pesan moral: jangan mengerjakan soal matematika sambil menyulam…!
: )




Kata Pengunjung