Home > Warung Kopi > Oleh-oleh dan harapan dari Jerman

Oleh-oleh dan harapan dari Jerman


Aksi Protes PPI Jerman

Aksi Protes PPI Jerman @ Youtube

Belum lama ini beredar rekaman video cuplikan kegiatan Anggota Komisi I DPR-RI yang sedang berkunjung ke Jerman. Video unggahan PPIBerlinPers di Youtube ini cukup menggairahkan para penyimaknya. Mengapa demikian? Bukan karena isinya tetapi karena segala hal yang terkait dengan kegiatan politisi dewan dan mahasiswa mempunyai daya tarik publik yang sangat-sangat kuat. Apapun isinya.

Bagi saya pribadi, saat mana mengetahui pertama mengenai video ini, tidaklah tertarik. Ini klise boo. Aksi mahasiswa adalah gerakan, dan yang bergerak kemudian adalah energinya, bukan pelakunya. Artinya, apapun yang disuarakan atau dilakukan maka efeknyalah yang akan berjalan, tidak melekat pada para individu yang melakukannya.

Terbukti berkali-kali bahwa para demonstran akan menjadi lemah lembut saat menjadi bagian dari rejim penguasa. Suara lantang sang pelaku yang pernah disuarakan dimanapun berada akan hilang terserap waktu dan sangu.

Jadi apa yang baru dari aksi ini? Saya tidak tertarik membaca beritanya di berbagai media.

Tetapi pagi ini saya membaca sebuah status dalam Facebook oleh meneer Ikhlasul Amal, yang berbunyi:

Jadi mohon adik-adik PPI nanti jika sudah kembali ke Indonesia tetap dapat melanjutkan gaya hidup tertib dan benar seperti yang kalian alami sekarang di mancanegara. Itulah oleh-oleh yang paling berharga dari kalian, sedangkan yang lainnya dapat dengan mudah diperoleh lewat Internet. Kalian sudah melakukan studi banding bertahun-tahun, kan?

membuat saya tergerak mengetik beberapa hal terkait dengan hal ini.

Pertama, kegiatan para anggota DPR-RI adalah hal biasa, maksudnya selalu dilakukan setiap tahun. Apapun kata publik (termasuk mahasiswa), apapun kondisi masyarakat Indonesia saat itu, mereka tetap melakukan perjalanan. Jadi tidak ada yang aneh lagi dengan kelakuan para pemilik suara rakyat ini. Anggaran harus diserap, kesempatan harus didapat, apalagi..?

Yang kedua adalah reaksi mahasiswa di luar negeri, di negeri yang dikunjungi oleh para wakil rakyat ini tentunya. Ini juga sudah biasa, setiap kunjungan kemanapun selalu dikritisi dengan cara masing-masing. Masih ingat kelucuan saat kunjungan ke Australia beberapa waktu lalu, dan tertangkap keluguan mengenai alamat surel dari para anggota dewan? Walaupun mungkin sang anggota dewan membawa gadget tercanggih saat itu, tetap saja ditanya tentang surel jadi wagu.

Untuk kualitas anggota dewan dari segi apapun dan yang berasal dari partai warna apapun saya tidak akan mengomentari. Karena tentunya akan sia-sia, tidak akan berguna sama sekali. Untuk anggota dewan: END.

Bagaimana dengan para mahasiswa..?

Apapun latar belakang anda, yang sangat mungkin juga berasal dari KAMPUNG (tersebut oleh perwakilan mahasiswa dalam video Jerman tersebut diatas), saya masih mempunyai harapan.

Harapannya adalah menyerap semaksimal mungkin pengalaman anda, baik di kampus maupun luar kampus, saat anda masih berada di negara asing. Banyak sekali hal yang bisa kita pelajari, baik dari sisi buruk maupun baiknya. Sangat luas..?

Lebih sempit lagi adalah di bidang pendidikan.

Tidak sedikit mahasiswa S2 ataupun S3 yang bersekolah di luar negeri sambil menyertakan keluarganya. Artinya banyak juga yang menyekolahkan anaknya di negara tersebut, yang otomatis mengikuti sistem pendidikan yang ada di sana. Pendidikan pada tingkat PAUD, tahap sekolah dasar, maupun sekolah menengah.

Apa yang anak anda alami di negeri tersebut..? Sistem apa yang diterima dan dijalankan oleh generasi muda di “negara maju” tersebut? Seberapa beratkah beban mereka dalam menempuh pendidikannya?

Mengapa hal ini saya anggap penting? Karena saya yakin sebagian dari anda, mahasiswa yang menyekolahkan anaknya di sana, adalah kelak menjadi pembuat (atau bagian dari tim) kurikulum pendidikan di negeri kita. Kemampuan anda dalam membuat batasan, tahapan, dan bahkan materi ajar sangat diperlukan. Dan hal ini tidaklah sederhana.

Bagi yang pernah mengalami membawa keluarga, baik di daratan Amerika Utara, Eropa Barat, Australia, maupun timur jauh, tentunya akan mahfum dengan yang saya maksudkan. Metode pendekatan dalam dunia pendidikan usia belia di negara maju tersebut sangat berbeda dengan di negeri kita tercinta.

Mampukah anda sekalian kelak menjadi pengubah dasar dari sistem pendidikan anak-anak belia kita? Setelah bertahun hidup di “negara maju” dalam bidang pendidikan, tentunya banyak sekali yang dapat menjadi masukan, tanpa perlu lagi melakukan “studi banding” seperti yang diharapkan rekan Ikhlasus Amal (mantan penduduk Groningen, Belanda) dalam status Facebook-nya diatas.

Jangan sampai selalu terulang, saat menjadi (atau bagian dari) penentu kebijakan pendidikan maka segera dianggarkan studi banding ke negara-negara asing. Saya berasumsi pengalaman yang anda alami saat pendidikan tentunya sudah cukup untuk bisa melihat dengan lebih baik, daripada studi banding yang hanya berdurasi beberapa hari dan direpotkan dengan tas belanja.. ; )

Dan sangat diharapkan, siapapun dan dimanapun anda menjadi mahasiswa, janganlah menyumpahi kondisi negeri sendiri saat ini dan terlebih saat pulang nanti. Ikut serta membangun negeri pada bidang masing-masing lebih diutamakan.

Seperti kata iklan: Talk Less Do More…

: )

About these ads
  1. May 11, 2012 at 9:36 am

    oleh-olehnya enak pak (bagi saya) :-)
    semoga aksi yang dilakukan berdampak positif…

    • November 23, 2012 at 9:58 am

      semoga berdampak positif bagi semua
      ; )

  2. November 23, 2012 at 9:25 am

    Setuju dgn status meneer Ikhlasul Amal. Kembali ke tanah air dengan bersikap tertib dan teratur seperti halnya waktu hidup di negeri orang. Susah untuk diterapkan, karena kita jadi minoritas utk hal tersebut. Semakin lama saya merasakan kita jadi ikut menjadi bagian yg mayoritas tersebut…

    • November 23, 2012 at 10:00 am

      kang Iwan,
      menjadi “minoritas” dalam bersikap selalu mendapatkan tekanan dari arah manapun, tapi mesti dipertahankan sebagai perjuangan “jihad” horisontal… hehe…
      : )

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,202 other followers

%d bloggers like this: