Home > Siswamaha > Nikmatnya menjadi aktor sebagai mahasiswa

Nikmatnya menjadi aktor sebagai mahasiswa


Sejak mengenal bangku sekolah formal, status saya adalah menjadi murid sekaligus pelajar. Empat belas tahun status tersebut menempel dan segera terlepas saat memasuki bangku perguruan tinggi. Status berubah menjadi “mahasiswa”.

Apa yang membedakan antara pelajar dan mahasiswa..?

Saya nggak tahu perbedaanya, sampai sekarang. Tampaknya sih sama saja. Sama-sama pergi ke satu tempat untuk memperdalam pengetahuan dan menambah teman… hehe…

Tetapi dimata banyak orang ternyata tidak demikian. Ada perbedaan dalam menyikapi kedua status tersebut. Dan tentunya status pelajar “ditempatkan” jauuuh di bawah status mahasiswa. Pelajar adalah “anak kecil”, sedangkan mahasiswa adalah orang-orang pilihan yang luar biasa. Demikiankah..?

Ya, memang demikian. Saat menjadi mahasiswa maka semua omongan saya selalu dianggap, selalu dihargai, dan selalu ditunggu banyak orang di sekeliling saya (yang bukan mahasiswa tentunya). Suara saya adalah suara “maha”, yang selalu benar dan tidak pernah salah. Suara saya adalah kehebatan negeri ini, kehebatan masa depan bangsa.

Saat saya turun ke jalan, ikut dalam barisan demonstrasi, belasan pasang jempol segera terangkat. Kebenaran tengah diusung oleh manusia pilihan harapan bangsa. Suara rakyat tengah digaungkan oleh generasi muda yang hebat. Seandainya saya saat itu ikut dalam barisan terdepan, maka muka saya pastilah terpampang di surat kabar edisi esok harinya dengan gambar semangat yang membara.

Luar biasa…

Tetapi apakah demikian yang saya rasakan dalam hati..?

Apakah saya bagian dari manusia hebat negeri ini yang serba tulus mengusung suara rakyat di tengah jalan..? Apakah saat saya berteriak adalah benar-benar mengeluarkan teriakan hasil dari “sambung-lidah” rakyat negeri ini..? Apakah saya adalah bagian dari kelompok elit yang serba benar dan selalu menyalahkan serta merendahkan pihak lain yang “bukan bagian saya”..?

Mmm… mungkin jawabannya adalah… entahlah.

Biasanya, setelah selesai membual tentang permasalahan negeri ini, ataupun sepulang dari teriak di jalan atau pinggir lapangan basket di kampus, saya selalu merasa betapa b***hnya orang yang menyanjung saya. Betapa mereka tidak mengerti bahwa yang saya bual adalah hal yang sama sekali tidak saya pahami. Kalaupun paham, ehm, kulitnya saja… mungkin…

Saya hanya pede (maaf, bukan nama parpol). Merasa pede dalam bersuara dan mampu mengatur intonasi disertai mengaitkan banyak hal yang terlihat hebat dan masuk akal dalam koridor pemikiran yang saya buat sendiri. Sekalipun yang saya lakukan adalah bukan pada level tinggi yang mampu menarik media cetak ataupun elektronik, tetapi cukup berpengaruh pada lingkungan seputaran tempat kost.

Tetapi memang ini adalah tahap pembelajaran yang penting bagi saya. Bagaimana menjadi pede tidaklah gampang, apalagi merangkai banyak hal dalam satu untaian aksi lisan. Juga tidaklah gampang menjadi pusat perhatian orang sekalipun hanya dalam lingkup obrolan di warung kopi. Menjaga citra sebagai “mahasiswa” yang serba maha sangatlah penting, saat itu…

Sebagian besar aksi saya saat menjadi “aktor” sebagai mahasiswa adalah kenangan yang menarik. Dan hal ini sangat membantu saat saya harus berhadapan dengan rekan-rekan mahasiswa bimbingan saya ataupun saat saya berada di depan kelas saat ini.

Sedikit banyak saya tahu bagaimana menempatkan diri di antara para mahasiswa…

: )

About these ads
Categories: Siswamaha Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,238 other followers

%d bloggers like this: