Mau tahu rasa kotoran babi..?

Survey di pedesaan Campillos
Merasakan makanan yang mengandung daging babi (mungkin) anda pernah. Tetapi merasakan kotoran babi..? Tidak semua orang, sekalipun penikmat babi, pernah mendapat kesempatan untuk merasakannya…! Saya termasuk kelompok yang sangat jarang itu.
KKN di daerah pertanian yang banyak terdapat peternakan babi memang mempunyai risiko yang besar. Risiko ini memang hanya untuk orang-orang “yang beruntung” mengalami hal yang tidak bisa ditolak lagi.
Kelompok tugas lapangan saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Salah satu aktivitas kami di lapangan adalah melihat kedalaman top soil dari beberapa titik sample yang sudah ditentukan.
Yang ditentukan adalah lokasi field-nya, sedangkan posisi titik yang harus diambil sample-nya terserah pada kami. Kami dapat menentukan sesuai dengan “buku manual” yang telah disiapkan. Yang menjadi konsentrasi kami adalah top soil pada lokasi dimana tanaman zaitun dan sunflower berada.
Bor tanah adalah senjata kami. Setelah titik ditentukan maka kami bergantian menggunakan bor. Berganti saat mengebor tanah memang tampaknya harus dilakukan, ini dikarenakan permukaan tanah memang sangat keras. Pemberian air untuk melunakkan titik pengeboran cukup membantu, namun itu berarti mengurangi jatah minum kami di tengah padang yang panasnya selalu mencapai 40 derajat Celsius.
Pada kedalaman tertentu pengeboran kami hentikan. Di bagian batang bor terdapat tanah dimana kami melakukan pengukuran mengenai tekstur, dan lain-lain.
Satu siang, kami mencapai lokasi pengeboran dan kami segera melakukan sesuai petunjuk pelaksanaan. Setelah titik terpilih, dan kami berikan air sedikit untuk memudahkan masuknya mata bor, bergantilah kami ngebor titik tersebut. Agak aneh karena di tanah ini terlihat agak gembur seolah baru saja disiram hujan. Beda dengan field sebelumnya.
Berhubung grup saya terdiri dari lima orang dimana dua diantaranya perempuan, maka tiga tersisalah yang selalu bertugas dalam pengeboran.

soil testing with probe (illustration)
Kedalaman sudah sesuai dan segera kami melakukan investigasi. Tekstur, warna, dan lain-lain selesai. Bagian akhir adalah… merasakannya… Ya, merasakan rasa tanah tersebut. Caranya adalah dengan menempelkan tanah pada indera pengecap kita, tentunya. Bagian ini adalah bagian yang paling tidak diinginkan, kami saling menolak dan menyodorkan ke yang lain. Biasanya, kesepakatan akhir adalah kami merasakan bersama-sama. Itulah kesepakatan yang terjadi untuk titik ini juga. Kami akan melakukan semua, merasakan tanah sample kami.
Satu, dua, tiga… dan semua merasakan tanah di indera perasa masing-masing.
Selesai, kami catat, dan segera membereskan peralatan dan buku untuk segera menuju ke titik yang lain.
Saat berjalan keluar dari field, kami melihat sebuah traktor dengan petani yang sedang mengoperasikannya. Traktor tersebut sedang menyemprotkan pupuk cair dari container di belakang traktor. Bau menyengat segera terasa. Bau yang selalu mengganggu kami karena terasa dari tempat kami menginap di desa Campillos. Bau dari peternakan babi…! Kami segera “membahas” bau ini dan…
Yup, benar, kesimpulan kami sama, sang petani sedang menyiramkan kotoran babi sebagai pupuk tanaman di padang zaitun ini untuk memperkaya zat organik pada top soil.
Eh… di padang zaitun ini..???
Artinya… tanah yang kami rasakan tadi, yang agak basah tadi, juga baru saja disemprot oleh pupuk nonkimia dari peternakan babi..???
Yeaaach…!!! Mau…???
Valentine’s Days, berhari-hari dengan Valentine

Padang zaitun di Campillos
Valentine’s Day, yang diartikan “hari kasih sayang” sudah jamak diramaikan oleh orang-orang. Yang meramaikan tentunya adalah orang-orang kota atau yang telah terjangkau informasi global via televisi dan internet. Hari “kasih-sayang” inipun semakin membesar setelah industri masuk, dan memang ternyata menjadi hari yang layak jual bagi para penghasil produk tahunan, baik berupa barang ataupun jasa. Arti sesungguhnya dari Valentine’s day itu apa, udah gak perlu dibahas lagi. Begitulah.
Saya pun pernah merasakan hari Valentine, mungkin tepatnya adalah “hari-hari Valentine”. Masa ini saya rasakan saat menjelang akhir dari studi master saya di negeri bawah air laut, Belanda.
Kenapa “hari-hari Valentine” dan bukannya “hari Valentine”..?
Karena saya merasakannya berhari-hari, bukan hanya satu hari saja.
Apakah ini tentang Valentine’s day yang diramaikan khalayak dunia..? Sayang sekali bukan. Ini adalah tentang hari-hari dimana saya “terpaksa” berjalan bersama dengan dosen saya yang bernama Valentine. Cewek..? Bukan juga. Ia seorang dosen cowok.
Pak Valentine saat itu adalah dosen baru. Malahan duluan saya yang masuk daripada dia ke sekolah itu. Ia masih tergolong muda dengan perawakan yang gemuk (maaf, mungkin lebih cocok: bulat). Gaya bicaranya santai, suaranya pelan dan bahkan nyaris tak terdengar. Kalau ia tertawa pasti akan membuat kita juga tertawa. Cukup baik dalam berkomunikasi dengan mahasiswa, walau terkesan pendiam.
Saat yang berkesan adalah saat beliau menjadi pendamping group kami di lapangan. Ini terjadi pada tahun 2003. Kegiatan lapangan yang saya maksud disini adalah semacam kegiatan KKN, atau kuliah kerja nyata. Saat mana para mahasiswa dicampur kemudian diterjunkan ke suatu daerah dan diberi tugas “menyelesaikan masalah” yang ada di daerah tersebut sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.
Kami dibagi menjadi dua kelompok, dan kelompok saya mendapat bagian di desa Campillos, desa pertanian di pedalaman Provinsi Malaga, daerah otonomi Andalusia, Spanyol. (Peta Google klik disini). Saya satu-satunya orang Indonesia dalam kelompok Campillos ini.
Kelompok Campillos ini dibagi lagi menjadi 4 grup, dengan masing-masing grup terdiri dari lima mahasiswa. Pak Valentine menjadi pengawas kelompok kami, termasuk grup saya.
Apa yang unik dari pak Valentine ini..? Ia adalah orang yang selalu membawa buku acuan, buku referensi. Sepanjang kami melintas padang zaitun, padang sunflower, dan padang wheat, ia selalu merujuk pada buku sebagai panduan penjelasannya pada kami.
Begitu juga saat kami melakukan banyak hal terkait dengan pertanian dan spasial. Buku tak pernah lepas dari genggamannya dan juga “sepertinya” dia mengetahui sekali komputer dan internet. Tiap kali kami mencapai basecamp sepulang dari survey pagi dan melepas lelah sambil santap siang, ia selalu mengakses internet dan memberi kami perintah-perintah yang asik punya.
Asik punya disini adalah perintah atau pemberitahuan yang berkesan “kami tidak mengenal IT sama sekali”. Ia memberitahu ini-itu pada saya yang “tidak perlu” sama sekali. Dan perilaku ini juga berlaku saat saya dan grup berada di lapangan. Saat berada di tengah padang zaitun dalam rangka mapping dan pengambilan sample tanah.
Ia selalu menerangkan dengan detil berdasarkan “buku”. Menurut buku, kalau anda melakukan ini maka begini caranya. Menurut buku, kalau melakukan itu maka begitu caranya. Anda harus ini dan itu sesuai dengan buku manual ini. Titik.
Bisa dibayangkan bagaimana situasi lapangan jika dibatasi oleh buku dan buku saja..? Mmm, bagi anda yang belum pernah survey di lapangan mungkin tidak terlalu paham apa yang saya maksudkan, maaf.
Bagi saya, survey lapangan adalah hal yang biasa saya lakukan dalam berbagai jenis kondisi medan. Keberagaman kondisi dan juga situasi yang tidak menentu membuat kita harus bisa berimprovisasi saat melakukan pengukuran ataupun perekaman obyek. Buku adalah acuan ideal tetapi kondisi ideal hampir pasti tidak akan pernah kita temui pada saat survey yang sesungguhnya.
Perbedaan cara pandang dalam perekaman dan pengambilan sample lapangan membuat saya selalu melancarkan protes pada si pak dosen tersebut. Tidak jarang kami beradu argumen. Tidak jarang pula saya bersungut-sungut karena “tidak terima” dengan apa yang digariskan olehnya. Sementara anggota grup lainnya cenderung nrimo. Ehm, ternyata budaya nrimo bukan monopoli suku tertentu saja… : )
Pertentangan di lapangan dan juga saat diskusi di basecamp membuat suasana grup saya tidak terlalu nikmat. Dan ini harus dilalui sepanjang lebih kurang 20 hari, sodara-sodara…
Suhu yang sangat panas disiang hari, selalu mencapai 40 derajat Celsius, ikut memanaskan semuanya. Musim panas, yang membuat waktu maghrib menjadi pukul 21:30, ikut menggerahkan perasaan… panas dan gersang…
Benar-benar KKN yang tidak asyik. Eh, nanti dulu, banyak juga asyiknya kok, terutama saat tim bisa melepaskan diri dari pengawasan si bapak dosen itu. Akan saya ceritakan pada waktu lain.
Setiap langkah dari grup kami selalu diganjal oleh buku si pak dosen. Bukan diganjal, mungkin, tetapi lebih tepat dibatasi oleh buku dan buku. Seolah grup kami benar-benar baru pertama kali menginjakkan kaki di alam ini.
Singkat cerita, kamipun selesai dan segera pulang ke desa perbatasan Belanda-Jerman, kota Enschede, dimana sekolah kami berada. Beberapa waktu kemudian kami mendapatkan nilai dari hasil kerja lapangan.
Dan… sayapun mendapat nilai minimal, sedangkan rekan-rekan satu grup lainnya mendapatkan nilai maksimal.
Pelajaran yang saya dapat: “untuk mendapatkan nilai maksimal maka budaya nrimo masih yang terbaik.”
: )
Say Hello from Agus ya… (tribute to AF)
Tahun 2009, tahun pertama saya bertemu dan kenal dengan mas Agus. Dalam pertemuan pertama dalam kelas, saat sebelum memulai praktik Fundamental GIS, itulah saya mengenalnya. Dan kesimpulan pertama adalah: Agus adalah mahasiswa berkarakter pendiam.
Minggu-minggu selanjutnya semakin membuktikan bahwa mas Agus memang pendiam dibandingkan rekan-rekan lainnya dalam kelas 2009 ini. Pendiam tapi tidak berarti lambat dalam mengikuti pelajaran, walau hampir semua yang ia pelajari adalah hal baru baginya.
Mas Agus mempunyai latar belakang pendidikan pertanian, dan ia adalah salah satu guru SPMA di Singkawang, Kalimantan Barat (maaf kalau salah kota). Dan saat menempuh strata-2 di Master of Science in Information Technology for Natural Resources Management (MIT-IPB) yang ia pelajari memanglah “rada jauh” dari apa yang telah ia kenal sebelumnya.
Hal ini yang tentunya membuat ia agak berat dalam menjalani penerapan semua ilmu yang dijejalkan oleh dewan pengajar. Tapi waktu membuktikan bahwa semua itu bisa dilalui dengan baik. Terbukti kemudian, mas Agus bisa menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang baik pula.
Walau kemudian setelah lulus mas Agus tidak sempat menyiarkan ilmu yang didapatnya. Ia sakit dan dirawat di Rumah Sakit di jakarta, dan karena itu pula ia tak sempat ikut menikmati keindahan pergelaran wisuda bersama rekan-rekannya yang lain.
Lama tak terdengar kabarnya, dan akhirnya pada tanggal 5 Februari 2012 saya mendengar kabar akan kepergian mas Agus, kepergian selama-lamanya kembali ke Sang Pencipta. Ia meninggal dengan ditunggui oleh keluarga tercinta di kota Ketapang, Kalimantan Barat.
Yang selalu terbayang oleh saya adalah:
Saat bercanda (baca: “ngerjain”) dengan mas Agus di dalam lab komputer, dengan mengikuti iklan produk “3″ yang selalu tayang di televisi saat itu. Niat saya saat itu hanya satu: membuat mas Agus bisa tertawa lepas seperti rekan-rekannya yang lain… Agak berhasil…
Selain itu saya juga teringat saat bersama beliau dan rekan-rekan mahasiswa angkatan 2009 ke Cibodas dalam rangka bermain dan belajar GPS dan mencari TTG (Titik Tinggi Geodesi) di sepanjang Cipanas – Cisarua.
Saya yakin, kebersamaan anda dengan rekan-rekan selama di MIT-IPB tidaklah sia-sia, karena banyak pelajaran yang kami timba dari mas Agus.
Semoga Allah memberi ketabahan dan kekuatan pada keluarga yang ditinggalkan.
Selamat jalan mas Agus Fitriadi.
Rajin itu ternyata Menjengkelkan
Hari ini teringat akan mahasiswa yang pernah mendapat bimbingan tugas akhir dari saya. Ia termasuk mahasiswa yang rajin, bahkan sangat rajin. Dan ternyata rajin itu menjengkelkan juga.
Dina, sebut saja demikian, adalah mahasiswa yang menjadikan saya pembimbing kedua dalam pengerjaan Tugas Akhir-nya. Pembimbing utama tentunya adalah dosen dari kampus Dina di Dramaga Bogor, yang kebetulan saya kenal baik juga.
Dina memulai konsultasi dengan konsep yang saya nilai tidak terlalu mentah.
Ia sudah memersiapkan bahan sebelum bertemu dengan saya, dan saat pertemuan tentunya diskusi langsung pada inti permasalahan tanpa hambatan. Ia sangat rajin mencatat apa yang saya terangkan, dan menanyakan detil yang ia belum pahami. Menarik.
Saya katakan menarik karena kondisi ini adalah kondisi yang saya sangat sukai, dimana saat diskusi dilaksanakan tidak selalu dimulai dari nol. Diskusi akan berjalan saat mana kedua pihak telah memahami permasalahan walau dari sudut yang bertentangan, sekalipun dengan bobot yang berbeda. Dina selalu datang dengan sejumlah artileri yang siap ditembakkan ke saya dalam pertanyaan-pertanyaannya yang cukup tajam.
Dalam setiap pertemuan Dina datang dengan selalu rajin melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang “penuh serangan”.
Ini menjengkelkan, sodara-sodara…
Lho..? Bagaimana bisa sesuatu yang menarik tetapi menjengkelkan..?
Jelas saja, karena kata “menjengkelkan” ini sebenarnya adalah arti dari “capek”-nya saya menjawab. Saya harus lebih memeras otak, mencari referensi, dan mengrenyitkan dahi lebih dalam tiap kali diskusi berlangsung. Sekalipun saya adalah pembimbingnya, tetapi saya kan manusia juga, yang kadang cape memeras otak yang sudah uzur ini demi memuaskan jawaban yang terlontar… hehehe…
Dina berhasil selesai dengan hasil yang baik sekali, walau saat sidang ada sedikit halangan teknis.
Selamat ya Dina, ada sudah bisa membuat saya “jengkel”…
: )
Semangat tidak boleh diabaikan
Seorang mahasiswi meminta saya menjadi salah satu pembimbingnya. Deal. Dan berlangsunglah proses pembimbingan dalam menyelesaikan Tugas Akhir. Pertemuan demi pertemuan dilaksanakan, diskusi tentang skup kajian dan metoda serta data juga dibicarakan. Sampai akhirnya ia menghilang beberapa saat.
Tanpa berprasangka buruk, saya biarkan Wati (sebut saja demikian) menghilang sejenak. Sampai akhirnya ia datang lagi dengan kelengkapan survey. Yup, ia siap pergi survey hari itu juga diantar oleh suaminya dengan kondisi… sedang hamil. Wah, saya langsung wanti-wanti untuk lebih memikirkan kondisinya saat itu, dan ada baiknya sementara survey ditunda dulu.
Tetapi ternyata Wati punya kemauan yang keras untuk segera menyelesaikan proses data dengan data lapangan. Baiklah, karena ada sang suami tercinta yang mendampingi maka saya serahkan pada keputusan ia dan suami. Mereka berangkat.
Lama tidak ada kabar, dan saya (akhirnya) mendapat berita dari rekannya bahwa Wati sedang off dari kuliah dan mempersiapkan kelahiran sang bayi. Baiklah, saya maklum sangat akan kondisi ini. Selama prosedur kampusnya membolehkan, bagi saya nggak masalah sama sekali.
Kembali waktu bergulir dan tidak ada kabar dari yang bersangkutan. Saya lagi-lagi mendapat kabar dari rekannya bahwa Wati telah melahirkan dengan selamat (alhamdulillah) dan… ada masalah dengan sang bayi… Hal ini yang membuat ia tidak bisa langsung memulai kembali kegiatan kampusnya…
Saya tetap menjaga kontak dengan sumber informasi, yaitu rekannya. Sedangkan Wati sendiri tidak bisa saya kontak.
Waktu berlalu… lama…
Sampai akhirnya datang juga kabar bahwa ia sudah kembali ke kampus, dan segera menyelesaikan Tugas Akhir yang tertunda. Wow…! Luar biasa. kembali ke kampus dan langsung bergulir kembali kegiatan TA-nya. Dan tidak berapa lama ia siap untuk tahap-tahap ujian akhir…
Pada sidang akhir, saya hadir ke kampus dan ikut serta sebagai dosen penguji. Wati tampak tegar dan siap dengan materi TA yang telah ia selesaikan. Dan… ia lulus dengan baik.
Terimakasih Wati, anda sudah memberi saya pelajaran bagaimana anda menjaga konsistensi penyelesaian tugas walau menghadapi kondisi yang “tidak biasa”. Mengandung, melahirkan, dan kemudian harus memberi perhatian yang lebih pada bayi karena kondisi yang tidak normal ternyata tidak melunturkan semangat anda dalam menyelesaikan “amanah” dari orang tua anda.
Semoga anda sukses dalam menempuh kehidupan bersama keluarga tercinta.
Kata Pengunjung